LIFE SKILL DAN IMPLEMENTASINYA
DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tantangan pendidikan nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dari waktu ke waktu meliputi empat hal, yaitu peningkatan: (1) pemerataan kesempatan, (2) kualitas, (3) efisiensi, dan (4) relevansi. Pengenalan pendidikan kecakapan hidup (life skill education) pada semua jenis dan jenjang pendidikan pada dasarnya didorong oleh anggapan bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata kurang erat.
Kesenjangan antara keduanya dianggap lebar, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Pendidikan makin terisolasi dari kehidupan nyata sehingga, lulusan pendidikan dari berbagai jenis dan jenjang pendidikan dianggap kurang siap menghadapi kehidupan nyata. Suatu pendidikan dikatakan relevan dengan kehidupan nyata jika pendidikan tersebut sesuai dengan kehidupan nyata. Namun, pertanyaannya adalah kehidupan nyata yang mana? Sementara itu, kehidupan nyata sangat luas dimensi dan ragamnya, misalnya ada kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, dan kehidupan bangsa. Kalau mengacu pada Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1998 dan Undang-Undang No.2, Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), kehidupan nyata itu menyangkut kehidupan peserta didik, kehidupan keluarga, dan kehidupan pembangunan yang meliputi berbagai sektor dan subsector (pertanian, industri, jasa, dsb.).
Kehidupan-kehidupan ini (disebut juga kepentingan) tidak selamanya sejalan satu sama lain, sehingga terjadi apa yang dikenal dengan perbedaan kepentingan antara berbagai kehidupan nyata terhadap pendidikan. Idealnya, pendidikan harus relevan dengan berbagai kehidupan nyata itu. Namun, pada akhirnya perlu diambil keputusan mengenai manakah diantara kehidupan yang akan menjadi prioritas pada suatu kurun waktu tertentu. Dalam kerangka empat strategi dasar kebijakan pendidikan, pendidikan kecakapan hidup menyangkut salah satu strategi, yaitu meningkatkan relevansi pendidikan dengan kehidupan nyata.
Pendidikan formal di sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas daya pikir, daya kalbu dan daya fisik peserta didik sehingga yang bersangkutan memiliki lebih banyak pilihan dalam kehidupan, baik pilihan kesempatan untuk melanjutkan pndidikan yang lebih tinggi, pilihan kesempatan untuk bekerja maupun pilihan untuk mengembangkan dirinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru memberikan bekal dasar kemampuan kesanggupan dan ketrampilan kepada siswa agar mereka siap menghadapi berbagai kehidupan nyata. Telah banyak upaya yang dilakukan dalam memberikan bekal dasar kecakapan hidup, baik melalui pendidikan di keluarga, di sekolah, maupun di masyarakat.
Upaya-upaya tersebut bukan tidak berhasil sama sekali dalam meningkatkan kemampuan, kesanggupan dan keterampilan hidup lulusannya, akan tetapi kehidupan nyata yang memiliki ciri “berubah” telah menuntut guru melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk menghasilkan lulusannya yang mampu, sanggup, dan terampil untuk menghadapi tantangan hidup yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus. Mampu dalam arti lulusan memiliki kualifikasi yang dibutuhkan bagi
kehidupan masa depan. Sanggup dalam arti lulusan mau, komit, bertanggung jawab dan berdedikasi menjalankan kehidupannya. Terampil dalam arti cepat, cekat, dan tepat dalam mencapai sasaran hidup yang diinginkannya. Mengingat siswa berada dalam kehidupan nyata, maka salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mendekatkan pendidikan (kegiatan belajar mengajar) dengan kehidupan nyata yang memiliki nilai-nilai preservative dan progresif sekaligus melalui pengintensifan dan pengefektifan pendidikan kecakapan hidup. Istilah pengintensifan dan pengefekktifan perlu digaris bawahi agar tidak salah persepsi bahwa selama ini tidak diajarkan kecakapan hidup sama sekali dan yang diajarkan adalah kecakapan untuk mati. Kecakapan hidup sudah diajarkan, akan tetapi perlu peningkatan intensitas dan efektivitasnya, sehingga sekolah dapat menghasilkan lulusan yang mampu, sanggup, dan terampil terjun dalam kehidupan nyata nantinya. UUSPN telah mengamantkan pendidikan kecakapan hidup, yang bunyinya: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarkatan dan kebangsaan“. Jadi, pendidikan kecakapan hidup bukanlah sesuatu yang baru dan karenanya juga bukan topik yang orisinil. Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai sadar dan berpikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya. 1.2. Tujuan 1.2.1 Tujuan Pendidikan Nasional Secara normatif, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Undang-Undang Republik Indonesia No.2, Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional). Berdasarkan tujuan tersebut, maka guru bertugas dan berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu: (1) mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, (2) mengembangkan kehidupan untuk bermasyarakat, (3) mengembangkan kehidupan untuk berbangsa, dan (4) mempesiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Konsekuensinya apa yang diajarkan harus menampilkan sosok utuh keempat kemampuan tersebut. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana ditulis pada butir 2.5.1. diperlukan upaya-upaya yang dapat menjembatani antara siswa dengan kehidupan nyata. Kurikulum yang ada saat ini memang merupakan salah satu upaya untuk menjembataninya, namun perlu ditingkatkan kedekatannya dengan nilai-nilai kehidupan nyata. Bila demikian, pertanyaannya adalah: “Apakah kurikulum yang ada sekarang sudah merefleksikan kehidupan nyata saat ini? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan kajian yang mendalam terhadap kurikulum yang ada dan terhadap nilai-nilai kehidupan saat ini. Kesenjangan antara keduanya (kurikulum dan kehidupan nyata) merupakan tambahan pengayaan yang perlu diintegrasikan terhadap kurikulum yang ada sehingga kurikulum yang ada saat ini benar-benar merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata. Pengenalan kecakapan hidup terhadap peserta didik bukanlah untuk mengganti kurikulum yang ada, akan tetapi untuk melakukan reorientasi terhadap kurikulum yang ada sekarang agar benar-benar merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata. Jadi, pendidikan kecakapan hidup merupakan upaya untuk menjembatani kesenjangan antara kurikulum yang ada dengan tuntutan kehidupan nyata yang ada saat ini, bukan untuk merombaknya. Penyesuaian-penyesuaian kurikulum terhadap tuntutan kehidupan perlu dilakukan mengingat kurikulum yang ada memang dirancang per mata pelajaran yang belum tentu sesuai dengan kehidupan nyata yang umumnya bersifat utuh (Tim Broad Based Education Depdiknas, 2002). Selain itu, kehidupan memiliki karakteristik untuk berubah, sehingga sudah sewajarnya jika kurikulum yang ada perlu didekatkan dengan kehidupan nyata. Dalam pandangan ini, maka kurikulum merupakan sasaran yang bergerak dan bukan sasaran yang diam. Dalam arti yang sesungguhnya, pendidikan kecakapan hidup memerlukan penyesuaian-penyesuaian dari pendekatan supply-driven menuju ke demand-driven. Pada pendekatan supply-driven, apa yang diajarkan cenderung menekankan pada school-based learning yang belum tentu sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai kehidupan nyata yang dihadapi oleh peserla didik. Pada pendekatan demand-driven, apa yang diajarkan kepada peserta didik merupakan refleksi nilai-nilai kehidupan nyata yang dihadapinya sehingga lebih berorientasi kepada life skill-based learning. Dengan demikian, kerangka pengembagan pendidikan berbasis kecakapan hidup idealnya ditempuh secara berurutan sebagai berikut (Slamet PH, 2002). Pertama, diidentifikasi masukan dari hasil penelitian, pilihan-pilihan nilai, dan dugaan para ahli tentang nilai-nilai kehidupan nyata yang berlaku. Kedua, masukan tersebut kemudian digunakan sebagai bahan, untuk mengembangkan kompetensi kecakapan hidup. Kompetensi kecakapan hidup yang dimaksud harus menunjukkan kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya dalam dunia yang sarat perubahan. Ketiga, kurikulum dikembangkan berdasarkan kompetensi kecakapan hidup yang telah dirumuskan. Artinya, apa yang harus, seharusnya, dan yang mungkin diajarkan pada peserta didik disusun berdasarkan kompetensi yang telah dikembangkan. Keempat, penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup perlu dilaksanakan dengan jitu agar kurikulum berbasis kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara cermat. Hal-hal yang diperlukan untuk penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup seperti misalnya tenaga kependidikan (guru), pendekatan-strategi-metode pembelajaran, media pendidikan, fasilitas, tempat belajar dan durasi belajar, harus siap. Kelima, evaluasi pendidikan kecakapan hidup perlu dibuat berdasarkan kompetensi kecakapan hidup yang telah dirumuskan pada langkah kedua. Karena evaluasi belajar disusun berdasarkan kompetensi, maka penilaian terhadap prestasi belajar peserta didik tidak hanya dengan pencil and paper test, melainkan juga dengan performance test dan bahkan dengan evaluasi otentik. Pendidikan masa depan akan menekankan pada kecakapan hidup. Diharapkan, tujuan pendidikan nasional lebih menekankan pada penguasaan kehidupan, kurikulum lebih merefleksikan kehidupan nyata, penyelenggaraannya benar-benar jitu dalam merealisasikan kurikulum berbasis kecakapan hidup yang ditunjukkan oleh guru memiliki penguasaan kehidupan yang kuat, siswa mempelajari kenyataan dan aktif, metode pembelajaran lebih konkrit, kerja tim kuat, media pendidikan menggunakan kenyataan, tempat belajar tidak harus selalu dikelas tetapi juga di kancah/kehidupan, durasi pembelajaran tergantung kompetensi yang ingin dikuasai, referensi tidak selalu berupa buku tetapi juga kehidupan nyata/konteks, pengalaman hidup akan lebih kaya, dan evaluasi belajar lebih menekankan pada autentik. 1.2.1. Tujuan Kecakapan Hidup Seperti juga ada pengertian kecakapan hidup, tujuan pendidikan kecakapan hidup juga bervariasi sesuai kepentingan yang akan dipenuhi. Naval Air Station Antlanta (2002) menuliskan bahwa tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah: to promote family strength and growth through education; to teach concepts and principles relevant to family living, to explore personal. attitudes and values, and help members understand and accept the attitudes and values of others; to develop interpersonal skills which contribute to family well-being; to reduce mariage and family conflict and theeby enhance service member productivity; and to encourage on-base delivery of family education program and referral as appropriate to community programs.”i appropriate to community programs. Sementara itu, Tim Broad-Based Education Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah untuk: (1) mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi, (2) memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan (3) mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah, dengan member peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyaakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Meskipun bervariasi dalam menyatakan tujuan pendidikan kecakapan hidup, namun konvergensinya cukup jelas yaitu bahwa tujuan utama pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya di masa datang. Esensi dari pendidikan kecakapan hidup adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif. Lebih spesifiknya, tujuan pendidikan kecakapan hidup dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, memberdayakan aset kualitas batiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyah peserta didik melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengamalan (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kedua, memberikan wawasan yang luas tentang pengembangan karir, yang dimulai dari pengenalan diri, eksplorasi karir; orientasi karir, dan penyiapan karir. Ketiga, memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus. Keempat, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah dengan mendorong peningkatan kemandirian sekolah, partisipasi stakeholders, dan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah. Kelima, memfasilitasi peserta didik dalam memecahkan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari, misalnya kesehatan mental dan pisik, kemiskinan, kriminal, pengangguran, lingkungan sosial dan pisik, narkoba, kekerasan, dan kemajuan iptek. 1. 3. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari pendidikan kecakapan hidup pada PS dan PLS adalah sebagai berikut. Pertama, peserta didik memiliki asset kualitas batiniyah, sikap,dan perbuatan lahiriyah yang siap untuk menghadapi kehidupan masa depan sehingga yang bersangkutan mampu dan sanggup menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kedua, peserta didik memiliki wawasan luas tentang pengembangan. Karir dalam dunia kerja yang sarat perubahan yaitu yang mampu memilih, memasuki, bersaing, dan maju dalam karir. Ketiga, peserta didik memiliki kemampuan berlatih untuk hidup dengan cara yang benar, yang memungkinan peserta didik berlatih tanpa bimbingan lagi. Keempat, peserta didik memiliki tingkat kemandirian, keterbukaan, kerjasama, dan akuntabilitas yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kelima, peserta didik memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk mengatasi berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. 1. 4. Manfaat Pendidikan kecakapan hidup memberikan manfaat pribadi peserta didik dan manfaat sosial bagi masyarakat. Bagi peserta didik, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kualitas berpikir, k ualitas kalbu, dan kualitas fisik. Peningkatan kualitas tersebut pada gilirannya akan dapat meningkatkan pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya karir, penghasilan, pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani, peluang, pengembangan diri, kemampuan kompetitif, dan kesejahteraan pribadi. Bagi masyarakat, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan indikator-indikator adanya: peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalah-masalah sosial, dan pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampun memadukan nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni (cita rasa). 2. KAJIAN TEORI 2. 1. Pengertian “Life Skill” (Kecakapan Hidup) Kata cakap memiliki beberapa arti. Pertama dapat diartikan sebagai pandai atau mahir, kedua sebagai sanggup, dapat atau mampu melakukan sesuatu, dan ketiga sebagai mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk mengerjakan sesuatu. Jadi kata kecakapan berarti suatu kepandaian, kemahiran, kesanggupan atau kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menyelesaikan sesuatu. Oleh karena itu kecakapan untuk hidup ('life skills') dapat didefinisikan sebagai suatu kepandaian, kemahiran, kesanggupan atau kemampuan yang ada pada diri seseorang untuk menempuh perjalanan hidup atau untuk menjalani kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak sampai dengan akhir hayatnya. Meskipun kecakapan hidup telah didefinisikan berbeda-beda, namun esensi pengertiannya sama. Brolin (l989) mendefinisikan kecakapan hidup sebagai kontinum pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam kehidupan. Pendapat lain mengatakan bahwa kecakapan hidup adalah kecakapan sehari-hari yang diperlukan oleh seseorang agar sukses dalam menjalankan kehidupan (http://www.lifeskills-stl.org/page2.html) Malik Fajar (2002) mendefinisikan kecakapan hidup sebagai kecakapan untuk bekerja selain kecakapan untuk berorientasi ke jalur akademik. Sementara itu Tim Broad-Based Education (2002) menafsirkan kecakapan hidup sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Meskipun terdapat perbedaan dalam pengertian kecakapan hidup, namun esensinya sama yaitu bahwa kecakapan hidup adalah kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Oleh karena itu, pendidikan kecakapan hidup adalah, pendidikan yang member bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupannya, yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Dengan definisi tersebut, maka pendidikan kecakapan hidup harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari, baik yang bersifat preservative maupun progresif. Pendidikan perlu diupayakan relevansinya dengan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari. Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis, lebih kontekstual. Tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur. Seseorang dikatakan memiliki kecakapan hidup apabila yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Kehidupan yang dimaksud meliputi kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan tetangga, kehidupan perusahaan, kehidupan masyarakat, kehidupan bangsa, dan kehidupan-kehidupan lainnya. Ciri kehidupan adalah perubahan dan perubahan selalu menuntut kecakapan-kecakapan untuk menghadapinya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jikpa PS dan PLS mengajarkan kecakapan hidup. 2.2 Perjalanan Hidup. Keberadaan seseorang di dunia ini memerlukan dimensi ruang dan dimensi waktu. Setiap orang memerlukan ruang untuk tempat wujud sosok fisiknya itu, karena dia sebelumnya tidak ada, kemudian ada (dilahirkan) dan akhirnya tidak ada lagi (meninggal dunia). Dia berada di salah satu tempat di planet bumi ini untuk berpijak, lalu tumbuh raganya dan berkembang sukma atau roh beserta potensinya untuk melangkahkan kaki menempuh perjalanan hidup sampai akhir hayatnya. Perjalanan hidup seseorang siapapun dia pasti dan selalu diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Di samping emerlukan ruang, keberadaan seseorang juga memerlukan waktu, karena dia berada dalam kurun waktu tertentu selama batas jatah usianya. Batas jatah usia (kamatian) seseorang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang meninggal ketika masih bayi, ada yang pada masa kanak-kanak, ada yang pada masa remaja, ada yang setelah dewasa, ada yang setelah masa tua, dan ada pula yang setelah sangat renta. Dalam perjalanan hidupnya sejak dia dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, dimensi waktu yang dilalui oleh sesorang pada saat ini senantiasa terdiri atas dimensi masa lalu, dimensi masa kini dan dimensi masa depan. Dimensi masa lalu merupakan sejarah pengalaman yang menjadi pelajaran untuk manjalani hidup pada masa kini, dan kehidupan masa kini dijalani untuk mempersiapkan masa depan generasi penerusnya. Masa yang telah lalu disebut juga hari kemarin, dan masa kini atau waktu sekarang dikenal sebagai hari ini, sedangkan masa yang akan datang atau masa depan biasa disebut hari esok. Orang Inggris menamakannnya sebagai 'yesterday, today and tomorrow'. Pada kehidupan suatu masyarakat atau suatu bangsa, demikian pula pada kehidupan umat manusia berlaku pula dimensi ruang dan waktu yang serupa. Oleh karena itu berdasarkan hasil belajar dari pengalaman hidup hari kemarin, hidup pada hari ini pada hakikatnya adalah mempersiapkan untuk menghadapi hari esok yang diperlukan bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi generasi keturunannya, bagi masyarakatnya, bagi bangsanya, dan juga bagi umat manusia secara keselunihan. Bagi para pemeluk agama yang percaya penuh terhadap kehidupan setelah mati, dalam mempersiapkan diri untuk hari esok, usaha seseorang tidak berhenti hanya untuk memenuhi keperluan hidupnya sampai dengan ia meninggal dunia. Persiapan tersebut juga dilakukan untuk memenuhi keseriuan perjalanan hidupnya setelah mati, yaitu setelah sukmanya terlepas dari raganya. Persiapan itu terwujud antara lain dalam berbagai upaya untuk senantiasa berbuat baik, beramal salih, mengerjakan sesuatu dengan ihklas, berbuat jujur, beramal jariah dan sejenisnya semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Tuhan, sebagai persediaan atau bekal yang terbaik demi keselamatan dan ketenteraman hidupnya kelak di akhirat, yaitu masa yang abadi di alam baka, di suatu tempat yang paling aman dan darnai yang benar-benar dapat membahagiakan bagi kehidupan rohnya. Untuk mampu menjalani kehidupannya, sejak dilahirkan setiap orang telah dibekali dengan berbagai potensi untuk dapat mengenali teka-teki misteri tentang dirinya. Pengenalan ini dicapainya melalui daya fisiknya, melalui daya fikirnya, melalui daya emosionalnya dan melalui daya spiritualnya yang menyatu menjadi daya kalbu untuk melakukan dialog dan kemudian berkarya sesuai dengan aturan Tuhan, yaitu Sang Penciptanya. 2. 3 Potensi Life Skill Dalam menciptakan manusia untuk menjadi khalifahNya di planet bumi ini,Tuhan telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencukupi keperluan khalifahNya itu sejak masih berwujud benih janin di dalam rahim ibunya. Persiapan itu mencakup penyediaan berbagai bentuk pelayanan dan kemudahan yang berada di dalam dan di luar diri manusia. Penciptaan manusia merupakan wujud sosok diri yang final, utuh dan unik sebagai suatu sistem yang sempurna, tidak ada kekurangan sesuatu apa pun padanya. Hal ini dapat dianalogikan dengan potensi pada mahluk hidup lainnya yang diciptakan oleh Tuhan, antara lain misalnya potensi untuk hidup di air bagi ikan, potensi untuk terbang bagi burung, potensi untuk berkoloni bagi lebah, potensi untuk melata dan berpuasa bagi ular. Subsistem-subsistem pendukung keberadaan manusia juga diciptakan dengan sangat sempurna, baik untuk keperluan pertumbuhan fisiknya maupun untuk perkembangan sukma atau rohnya. Demikian juga pelayanan dan kemudahan-kemudahan yang berada di luar dirinya yaitu lingkungan yang harus diakrabi selama hidupnya, semua telah disiapkan dengan sangat sempuma. Potensi kecakapan untuk menempuh perjalanan hidup bagi seseorang merupakan bawaan yang telah melekat pada dirinya sejak dia tercipta. Kesernuanya itu disediakan sebagai potensi yang perlu dikembangkan lebih lanjut oleh orang tua, mayarakat, negara dan bangsa. Upaya yang secara sadar dilakukan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri pribadi setiap orang agar mampu menjalani kehidupan dikenal dengan nama mendidik. Mendidik yang dilakukan oleh keluarga atau masyarakat secara alamiah disebut sebagai pendidikan informal. Sedangkan pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa secara bersistem melalui sekolah disebut sebagai pendidikan formal. Tugas orang tua dan masyarakat adalah mengembangkan potensi itu melalui pendidikan informal yang dilakukan dengan ikhlas sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Dalam bahasa yang religius kegiatan ini merupakan wujud dari rasa syukur karena telah dikaruniai keturunan yang diharapkan akan dapat meneruskan kehidupan dan generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Negara dan bangsa sebagai kesatuan keluarga dan masyarakat mewujudkan rasa syukur itu dengan menciptakan suatu sistem pendidikan yang
sesuai dengan karakteristik negara dan bangsanya.
Oleh karena itu negara dan bangsa menciptakan sekolah sebagai tempat untuk mengembangkan potensi kecakapan untuk hidup (life skills) anak-anak bangsanya dengan cara yang lebih sistematis dan terarah melalui pendidikan formal. Dan tugas sekolah sebagai subsistem pendidikan adalah melaksanakan pendidikan formal untuk mengembangkan potensi kecakapan untuk hidup, sejajar bersama-sama dengan bangsa-bangsa lain. Proses dan hasil dari kedua jenis pendidikan ini saling mendukung dan memperkuat antara yang satu dengan yang lainnya.
2.4. Pengembangan “Life Skill”
Seperti diuraikan di atas, potensi untuk dapat mengembangkan kecakapan untuk hidup ini telah ada pada setiap orang sejak ia dilahirkan. Waktu yang diperlukan untuk mengembangkan potensi pada manusia relatif lebih lama dan pada waktu yang diperlukan oleh binatang, karena pada binatang lebih didominasi oleh naluri biologis. Sedangkan pada manusia di samping pengembangan naluri biologis masih diperlukan waktu persiapan yang lebih panjang untuk mengembangkan daya fisik, daya fikir, daya emosi dan daya spiritual yang terpadu menjadi daya kalbu.
Kemampuan kecakapan untuk menjalani kehidupan ini pada awalnya berkembang secara alamiah melalui pendidikan informal pada keluarga dan masyarakat. Kemudian secara formal upaya untuk mengembangkan dan memperkuat potensi yang telah ada ini dirancang dengan sistematis ke dalam suatu kurikulum untuk diberikan kepada anak didik melalui pendidikan di sekolah dengan alokasi waktu jam pelajaran tertentu pada setiap minggu, mulai dari Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah Menengah, sampai dengan Perguruan Tinggi.
Berdasarkan hasil pendidikan informal yang diterima, hasil pengalaman yang diperoleh dan hasil pendidikan formal yang pemah diikuti dengan benar, selama menempuh perjalanan hidup seseorang temyata, bahwa kemampuan kecakapan untuk hidup ini dapat berkembang terus menjadi semakin kuat dan meningkat dalam kearifannya untuk mengarungi samudera kehidupan. Kemajuan ini masih dapat diupayakan untuk meningkat lagi dan akan menampakkan wujudnya dengan sesuatu yang disebut dengan mutu. Dan pengalaman-pengalaman baru yang diperoleh dalam memecahkan berbagai masalah selama mengarungi kehidupan ini akan dapat menempa dan memperkuat kemampuan itu sehingga menjadi suatu mutu kehidupan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang lebih sulit dan semakin rumit.
Mutu kehidupan itu pun masih dapat ditingkatkan lagi sampai ke puncaknya. Tingkat kemampuan kecakapan untuk hidup yang tertinggi adalah apabila dalam menempuh perjalanan hidup itu sendiri selalu dilandasi dengan rasa kasih sayang yang tulus kepada sesama. Lalu dijalani dan dihayati dengan penuh kepasrahan dan tawakkal untuk mengikuti aturan Sang Pencipta, dengan cara yang apa adanya, cara yang santun, cara yang ikhlas dan cara yang indah, sebagai suatu seni hidup yang disebut 'The Art of Life*.
2. 5 Pendidikan “Life Skill”
Dalam hampir semua kegiatan untuk menjalani kehidupan, persoalan sehari-hari yang dihadapi oleh seseorang pada urnumnya berkisar pada empat persoalan besar yang sangat mendasar sebagai persoalan utama. Keempat persoalan besar itu adalah: pertama persoalan yang berkaitan dengan dirinya sendiri, kedua persoalan yang berkaitan dengan keberadaannya bersama-sama dengan orang lain, ketiga persoalan yang berkaitan dengan keberadaannya di suatu lingkungan alam tertentu, dan keempat persoalan yang berkaitan dengan pekerjaannya, baik yang berkaitan dengan pekerjaan utama yang ditekuni sebagai mata pencaharian maupun pekerjaan yang hanya sekadar sebagai hobi.
Agar dapat menghadapi keempat persoalan utama tersebut dengan sebaik-baiknya, diperlukan adanya suatu kecakapan khusus yang minimal harus dapat dikuasai oleh seseorang. Untuk mempersiapkan hal itu secara dini, pada dasarnya perlu diupayakan dengan baik, sekurang-kurangnya empat jenis pendidikan kecakapan untuk hidup yang (Life Skills Education) yang harus dibekalkan kepada para siswa.
Keempat jenis pendidikan kecakapan yang perlu diberikan untuk mempersiapkan anak didik agar dapat memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupan atau kemampuan untuk menempuh perjalanan hidup itu, baik melalui pendidikan informal di dalam keluarga dan masyarakat, maupun melalui pendidikan formal di sekolah hendaknya mencakup: 'personal skills education', 'social skills education', 'environmental skills education', dan 'vocational atau occupational skills education'.
a, 'Personal Skills Education'
adalah pendidikan kecakapan yang perlu diberikan kepada anak didik agar dapat mengembangkan kemampuan berdialog secara baik dengan diri sendiri untuk mengaktualisasikan jati-dirinya sebagai manusia yang menjadi khalifah atau wakil Sang Pencipta di planet bumi ini.
b. 'Social Skills Education'
adalah pendidikan kecakapan yang perlu diberikan kepada anak didik agar dapat mengembangkan kemampuan berdialog untuk bergaul secara baik dengan sesama manusia.
c. 'Environmental Skills Education'
adalah pendidikan kecakapan yang perlu diberikan kepada anak didik agar dapat mengembangkan kemampuan berdialog secara baik dengan lingkungan alam sekitamya, untuk menikmati keindahannya dan menjaganya dari kerusakan-kerusakan karena ulahnya sendiri atau oleh manusia lainnya, serta kemampuan untuk menjaga diri dari pengaruh-pengaruhnya.
d. 'Vocational atau Occupational Skills Education'
adalah pendidikan kecakapan yang perlu diberikan kepada anak didik agar dapat mengembangkan kemampuan untuk menguasai dan menyenangi jenis pekerjaan tertentu. Jenis pekerjaan tertentu ini bukan hanya merupakan pekerjaan utama yang akan ditekum sebagai mata pencaharian,yaitu menjadi bekal untuk bekerja mencari nafkah yang halal yang merupakan salah satu kewajiban dalam menempuh perjalanan hidupnya di kelak kemudian hari. Jenis pekerjaan tertentu dapat juga merupakan pekerjaan yang hanya sekadar sebagai hobi.
Gambar 2.1 Diagram Klasifikasi Life Skills
2. 6. Jenis Kecakapan Hidup
Kehidupan adalah perubahan. Siswa akan menjalani kehidupan, yang berarti mereka harus mampu dan sanggup menghadapi, perubahan dan bahkan mampu dan sanggup menjadi agent of change. Perubahan ada yang tidak diinginkan dan ada yang diinginkan. Perubahan, yang tidak diinginkan akan mengusik kelangsungan hidup manusia, dan perubahan yang diinginkan akan mendukung perkembangan manusia. Agar mampu, sanggup, dan terampil menjalan kehidupan, mereka harus diberi bekal kecakapan hidup.
Menurut Slamet PH (1997), kecakapan hidup dapat dikategorikan menurut kualitas fisik, akal, kalbu, dan spiritual: (1) kecakapan fisik dapat diukur dari derajad keterampilan, (2) kecakapan akal dapat diukur dari kecerdasan dan variasi daya fikirnya (deduktif, induktif, ilmiah, nalar, rasional, kritis, kreatif, lateral, discovery, exploratory, dan sistem), (3) kecakapan kalbu dapat diukur dari daya rasanya dan daya emosinya (rasa kasih saying, kesopanan, toleransi, kejujuran, disiplin diri, komitmen, dan integritas, dan (4) kecakapan spiritual ditunjukkan oleh derajad keimanan dan ketaqwaan terhadap TuhanYang Maha Esa.
Menurut US Department of Labor (1992), peserta didik harus diberi bekal kecakapan hidup yang terdiri dari lima kompetensi (kemampuan mengelola sumber daya, kemampuan inter personal, kemampuan mencari dan menggunakan informasi, kemampuan menggunakan sistem, dan kemampuan rnenggunakan teknologi dalam kehidupan) dan tiga bagian kemampuan elementer (kecakapan elementer dalam baca, tulis, hitung, bicara, mendengar; kecakapan berfikir; dan kualitas personal).
Kemudian, the National Training Board (1992) dari Australia mengharuskan agar setiap generasi mudanya memiliki tujuh kompetensi kunci sebagai berikut: collecting, analysing and organising information; communicating ideas and information; planning and organising activities, working with others and in team; using mathematical ideas and techniques; solving problems; and using technology. Sementara itu, United Kingdom melalui General National Vocational Qualification (1993) mengharuskan bahwa setiap penduduknya harus memiliki core skills sebagai berikut: communication, personal skills, problem solving, information technology, and modern language. New Zealand (l994) juga menghendaki semua generasi muda memiliki essential skills sebagai berikut: information skills, communication skills, self-management skills, work and study skills, numeracy skills, problem solving and decision-making skills.
Tim Broad-Based Education Depdiknas (2002) memilah kecakapan hidup menjadi lima, yaitu kecakapan personal, kecakapan berfikir rasional, kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan kejuruan. Kecakapan personal terlalu sempit definisinya karena hanya difokuskan pada pengenalan diri (self awareness). Padahal kecakapan personal sangat luas dimensinya.
Demikian juga, kecakapan berpikir hanya disempitkan pada berpikir rasional, padahal kecakapan berpikir sangat luas dimensinya, misalnya kecakapan berpikir deduktif induktif, ilmiah, kritis, kreatif, nalar/logik, lateral, discovery, exploratory, dan sistem. Kemudian makna kecakapan akademik juga rancu karena yang dimaksud kecakapan akademik (oleh Tim Broad-Based Education) adalah kecakapan berpikir ilmiah. Tidak jelas perbedaan antara kecakapan berpikir rasional (thinking skill) dan kecakapan berpikir akademik.
Berdasarkan wacana-wacana tersebut maka terdapat juga yang merumuskan kecakapan hidup menjadi dua kategori, yaitu kecakapan hidup yang bersifat dasar dan instrumental. Kecakapan hidup yang bersifat dasar adalah kecakapan yang bersifat universal dan berlaku sepanjang zaman, tidak tergantung pada perubahan waktu dan ruang, dan merupakan fondasi dan sokoguru bagi siswa agar bisa mengembangkan kecakapan hidup yang bersifat instrumental. Kecakapan hidup yang bersifat instrumental adalah kecakapan yang bersifat relatif kondisional, dan dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan ruang, waktu, situasi, dan harus diperbaharuhi secara terus menerus sesuai dengan derap perubahan.
Mengingat perubahan kehidupan berlangsung secara terus menerus, maka diperlukan kecakapan-kecakapan yang mutakhir, adaptif dan antisipatif. Oleh karena itu, prinsip belajar sekali selesai dan tidak perlu beiajar lagi. tidak relevan lagi. Siswa selain harus belajar sesuatu yang baru (learning), harus juga mampu melupakan pengalaman belajar yang lalu yang tidak lagi relevan lagi dengan kehidupan saat ini (unlearning) dan selalu belajar kembali (relearning).
Adapun kategori dimensi kecakapan hidup yang bersifat dasar dan instrumental yang dimaksud dapat dirinci sebagai berikut :
A. Kecakapan Dasar
l) Kecakapan belajar terus-menerus
Kecakapan belajar terus menerus (sepanjang hayat) adalah kecakapan yang paling penting dibandingkan dengan semua kecakapan hidup lainnya. Pengetahuan, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan kehidupan berubah makin cepat sehingga menuntut siswa memiliki kemampuan untuk belajar terus-menerus. Kecakapan ini merupakan kunci yang dapat membuka kesuksesan masa depan. Dengan kecakapan ini, siswa mudah menguasai kecakapan-kecakapan lainnya. Karena itu, siswa perlu diberi bekal dasar tentang strategi, metode, dan teknik belajar untuk memperoleh dan menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi baru dalam kehidupannya.
2) Kecakapan membaca, menulis, menghitung
Siswa diharapkan memiliki kecakapan membaca dan menulis secara fungsional, baik dalam bahasa Indonesia maupun salah satu bahasa asing, misalnya bahasa Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Jepang, Mandarin, atau yang lain. Kecakapan membaca- memahami dan menafsirkan informasi tertulis dalam surat kabar, majalah, jurnal, dan dokumen. Menulis – mengkomunikasikan pikiran, ide-ide, informasi dan pesan-pesan tertulis dan membuat dokumen-dokumen seperti surat, arahan, bimbingan, pedoman kerja, manual, laporan, grafik, dan diagram alir. Kecakapan menghitung – kemampuan dasar menghitung dan memecahkan masalah-masalah praktis, dengan memilih secara tepat dari teknik-teknik matematika yang ada, dengan atau tanpa bantuan teknologi.
3) Kecakapan berkomunikasil lisan, tertulis, tergambar, mendengar
Manusia berinteraksi dengan manusia lain melalui komunikasi langsung, baik secara lisan, tertulis, tergambar, dan bahkan melalui kesan pun bisa. Mengingat manusia menggunakan sebagian besar waktunya untuk berkomunikasi dengan orang lain, maka kecakapan berkomunikasi termasuk kecakapan mendengar harus dimiliki oleh siswa. Suatu studi menyimpulkan bahwa kelemahan berkomunikasi akan menghambat pengembangan personal dan professional seseorang. Bahkan para pebisnis memperkirakan bahwa kelemahan berkomunikasi akan menambah pembiayaan usahanya akibat kesalahan yang dibuat. Mengingat era globalisasi telah bergulir, maka penguasaan salah satu bahasa asing (Inggris, Perancis, Arab, Jepang, J erman, Mandarin, dsb) oleh peserta didik merupakan keniscayaan.
4) Kecakapan berpikir
Tingkat kecakapan berpikir seseorang akan berpengaruh terhadap kesuksesan hidupnya. Mengingat kehidupan manusia sebagian besar dipengaruhi oleh cara berpikir, maka peserta didik perlu diberi bekal dasar dan latihan-latihan dengan cara yang benar tentang kecakapan berpikir deduktif induktil ilmiah, kritis, nalar, rasional, lateral, sistem, kreatif, eksploratif, discovery, inventory, reasoning, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Selain itu, peserta didik harus diberi bekal dasar tentang kecintaan terhadap kebenaran, keterbukaan terhadap kritik dan saran, dan berorientasi kedepan.
5) Kecakapan kalbu: iman (spiritual), rasa dan emosi
Memiliki bangsa kecakapan kalbu yang baik merupakan asset kualitas batiniyah yang sangat bermanfaat bagi kehidupan bangsa. Kecakapan kalbu yang terdiri dari iman (spiritual), rasa, dan emosi merupakan unsur-unsur pembetuk jiwa selain akal. Pada dasarnya jiwa merupakan peleburan iman, rasa, emosi, dan akal. Jiwa merupakan sumber kekuatan dan kendali bagi setiap manusia dalam menyelesaikan setiap masalah yang dihadapi. Bahkan, baik buruknya suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh baik buruknya kalbu bangsa yang bersangkutan. Erosi kalbu akan berpengaruh sangat dahsyat karena apapun tingginya derajad berpikir seseorang, tetapi jika tidak dilandasi oleh moral, spiritual dan emosional yang baik, hanya kehancuran yang terjadi.
Untuk itu peserta didik perlu diberi bekal dasar dan latihan-latihan dengan eara yang benar tentang kecakapan moral, emosional dan spiritual. Integritas, kejujuran, solidaritas, kasih sayang pada orang lain, kesopanan, disiplin diri, menghargai orang lain, hak asasi, kepedulian, toleransi, dan tanggung jawab adalah contoh-contoh kecakapan moral yang perlu diajarkan kepada peserta didik. Iman dan Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kedamaian antar umat beragama, dan toleransi religius, adalah contoh-contoh pendidikan kecakapan iman/spiritual yang merupakan payung bagi pendidikan kecakapan hidup lainnya. Bekerja keras, semangat yang membaja, pintar bergaul, rajin, memiliki keinginan untuk maju, dan upaya-upaya secara konsisten untuk mencapai keinginan untuk maju, adalah contoh-contoh kecakapan emosional yang sangat signifikan kontribusinya terhadap kesuksesan hidup seseorang.
6) Kecakapan mengelola kesehatan badan
Di mana terdapat kesehatan badan, disitulah terdapat kesehatan jiwa. Manusia diciptakan oleh-Nya dengan martabat tertinggi sehingga yang bersangkutan harus memelihara kesehatan dirinya lebih baik dari pada memelihara barang-barangnya. Oleh karena itu, peserta didik sudah selayaknya diberi bekal dasar tentang pengelolaan kesehatan badan agar yang bersangkutan memiliki kesehatan badan yang prima, bebas penyakit, dan memiliki ketahanan badan yang kuat. Berolahraga secara teratur, makan yang bergizi dan bervitamin, menjaga kebersihan, dan beristirahat cukup merupakan pendidikan kecakapan mengelola kesehatan badan yang harus diterapkan dalam kehidupan peserta didik.
7) Kecakapan merumuskan keinginan dan upaya-upaya untuk mencapainya
Dua hal yang karakteristik sifatnya dalam kehidupan adalah: (l) adanya keinginan baru, dan (2) upaya-upaya yang diperlukan untuk mencapai keinginan baru tersebut. Kecakapan merumuskan dua hal yang karakteristik ini merupakan bagian penting bagi kehidupan seseorang. Dalam kehidupan banyak dijumpai orang-orang yang kurang mampu merumuskan tujuan hidup yang realistik, dan kalaupun tujuan yang dirumuskan cukup realistic, tidak jarang pula upaya-upaya yang ditempuh kurangs esuai.
Kecakapan semacam ini perlu diajarkan kepada peserta didik agar yang bersangkutan mampu menjalani kehidupan secara realistis. Perumusan tujuan study tour dan upaya-upaya yang diperlukan untuk mencapai tujuan study tour adalah contoh pendidikan kecakapan merumuskan keinginan dan upaya-upaya untuk mencapainya.
8) Kecakapan berkeluarga dan sosial
Peserta didik hidup dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dalam keluarga, siswa tersebut berinteraksi dengan ayah, ibu, dan saudara-saudaranya. Peserta didik harus memahami, menghayati, dan menerapkan nilai-nilai kasih sayang, kesopanan, toleransi, kedamaian, keadilan, respek, kecintaan, solidaritas, dan tatakrama sebagai anak terhadap kedua orang tuanya maupun sebagai saudara terhadap saudara-saudaranya. Dalam sekolah, peserta didik harus memahami, menghayati; dan menerapkan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah.
Dalam masyarakat, peserta didik harus memahami, menghayati dan menerapkan nilai-nilai sosial sebagai berikut: menjunjung tinggi hak asasi manusia, peduli terhadap barang-barang milik publik, kerjasama, tanggung jawab dan akuntabilitas sosial, keterbukaan dan apresiasi terhadap keanekaragaman. Peserta didik harus mampu berkomunikasi, baik secara verbal maupun non-verbal. Kelancaran berkomunikasi, selain memperbanyak kawan, juga untuk memupuk kesehatan mental. Karena peserta didik hidup dalam masyarakat yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan, maka dia harus memiliki kemampuan untuk memimpin dan dipimpin.
B. Kecakapan Instrumental
Kecakapan instrumental meliputi:
1) Kecakapan memanfaatkan teknologi dalam kehidupan
Teknologi telah merambah ke segala kehidupan dan merupakan alat penggerak utama kehidupan. Bahkan keunggulan teknologi merupakan salah satu faktor daya saing yang ampuh. Salah satu faktor yang membuat negara berkembang tertinggal dengan negara maju adalah ketertinggalan teknologi. Generasi muda harus diberi bekal agar mengapresiasi pentingnya teknologi bagi kehidupan dan mempersiapkannya untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi yang ada.
Mereka harus dididik bagaimana bekerja dengan jenis-jenis teknologi dan disiapkan agar mereka memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi dalam berbagai kehidupan (pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan, kerumahtanggan, kesehatan, komunikasii, industry manufaktur, perdagangan, kesenian, pertunujukan, olah raga, konstruksi, transportasi, dan perbankan). Peserta didik perlu dibekali cara-cara memilih teknologi, menggunakannya untuk tugas-tugas tertentu dan cara-cara memeliharanya.
2) Kecakapan mengelola sumber daya
Peserta didik perlu diberi bekal tentang arti, tujuan dan cara-cara mengidentifikasi, mengorganisasi, merencanakan, dan mengalokasikan sumber daya. Lebih spesifiknya, siswa perlu dilatih: (1) mengelola sumber daya alam; (2) mengelola waktu; (3) mengelola uang, dengan melatih mereka membuat rencana teknis dan anggaran, penggunaannya, dan membuat penyesuaian-penyasuaian untuk mencapai tujuan; (4) mengelola sumber daya ruang, (5) mengelola sumber daya sosial budaya, (6) mengelola peralatan dan perlengkapan, dan (7) mengelola lingkungan.
3) Kecakapan bekerjasama dengan orang lain
Kehidupan, baik perusahaan, bank, pendidikan, maupun yang lain, yang akan dimasuki oleh tamatan PS dan PLS kelak pada umumnya bersifat kolektif. Tamatan PS dan PLS hanyalah merupakan bagian dari kehidupan tersebut. Mereka nantinya harus bisa bekerjasama secara harmonis dengan orang lain. Karena itu, sejak dini mereka perlu diberi bekal dan latihan: latihan yang dilakukan secara benar tentang cara-cara bekerja sama, menghargai hak asasi orang lain, pentingnya kebersamaan, tanggung jawab dan akuntabilitas perbuatan, keterbukaan, apresiasi keanekaragaman, kemauan baik yang kreatif, kepemimpinan, manajemen negosiasi, dan masih banyak hal-hal lain yang perlu diajarkan.
4) Kecakapan memanfaatkan informasi
Saat ini dan lebih-lebih di masa mendatang, informasi akan mengalir secara cepat dan deras dalam berbagai kehidupan. Siapa yang tertinggal inforrnasi akan tertinggal pula dalam kehidupannya. Jadi, informasi sudah merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Untuk itu, peserta didik perlu dibekali cara-cara mendapatkan dan memanfaatkan aneka ragam informasi yang ada. Mereka harus dididik cara-cara mendapatkan dan mengevaluasi inforrnasi, mengorganisasi dan memelihara informasi, menafsirkan dan mengkomunikasikan informasi, dan menggunakan computer untuk mengolah data agar menjadi informasi.
5) Kecakapan menggunakan system dalam kehidupan
Kehidupan diciptakan oleh-Nya dalam serba sistem. Oleh karenanya, jika ingin mengenali hakikat (kebenaran seutuhnya) segala yang ada dalam kehidupan, harus mengenali sampai pada sistemnya. Mengenali sampai pada sistemnya ditempuh melalui perbuatan berpikir sistem. Berpikir system adalah berpikir membangun keberadaan hal menurut kriteria sistem. Sistem adalah kumpulan proses berstruktur hirarkis yang terikat pada tujuan.
Peserta didik perlu memahami, menghayati, dan menerapkan system dalam kehidupannya. Mereka perlu diberi bekal dasar tentang cara berpikir, cara mengelola, dan cara menganalisis kehidupan sebagai sistem. Mereka harus memahami cara kerja system-sistem kehidupan seperti misalnya bank, perusahaan, sekolah, pertanian, peternakan, dan keluarga. Bahkan dirinya sebagai system harus dikenalinya secara baik.
6) Kecakapan berwirausaha
Kecakapan berwirausaha adalah kecakapan memobilisasi sumber daya yang ada di sekitarnya untuk mencapai tujuan organisasinya atau untuk keuntungan ekonomi. Seringkali istilah kewirausahaan dikaitkan dengan income generating activities (IGA). Memang kewirausahaan terkait dengan IGA, tetapi kewirausahaan tidak sama dengan IGA. Jika IGA memiliki ciri untuk mencari keuntungan ekonomi, kewirausahaan tidak selalu. Kewirausahaan memiliki ciri-ciri: (1) bersikap dan berpikiran mandiri, (2) memiliki sikap berani menanggung resiko, (3) tidak suka mencari kambing hitam, (4) selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumber daya, (5) terbuka terhadap umpan balik, (6) selalu ingin perubahan yang lebih baik, (7) tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya, dan (8) memiliki tanggung jawab moral yang baik.
7) Kecakapan kejuruan, termasuk olah raga dan seni (cita rasa)
Tidak semua peserta didik menyukai keterampilan berpikir, sebagian dari mereka menyukai keterampilan-keterampilan kejuruan seperti misalnya pertanian, peternakan, kerajinan, bisnis, boga, busana, industry, olah raga, dan kesenian (seni kriya, seni music, seni tari, seni lukis, seni suara, dan seni pertunjukan dsb.). Juga tidak semua peserta didik melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi dan karenanya perlu diberi bekal keterampilan kejuruan agar mereka memiliki kemampuan untuk mencari nafkah. Lebih-lebih bagi peserta didik yang berasal dari kalangan marginal secara ekonomi-sosial maka dapat dipastikan bahwa mereka tidak akan melanjutkan kependidikan yang lebih tinggi dan mereka akan terjun dalam kehidupan. Untuk itu, mereka jelas membutuhkan keterampilan kejuruan yang secara praktis dapat digunakan untuk mencari nafkah.
8) Kecakapan memilih, menyiapkan dan mengembangkan karir
Setiap siswa kelak berharap memiliki karir yang sesuai dengan potensi diirinya dan sesuai dengan peluang yang ada. Selain itu, karir yang dimiliki diharapkan dapat memberikan penghargaan yang layak. Untuk sampai pada harapan tersebut, peserta didik perlu dikenalkan tentang potensi diirinya, jenis-jenis karir yang ada dalam kehidupan, persyaratan untuk memasuki jenis karir tertentu dan disiapkan agar kelak setelah lulus siswa mampu memilih, menyiapkan, dan mengembangkan karir yang sesuai dengan potensi dirinya. Jangan sampai siswa tidak mengenal potensi dirinya sendiri dan jenis-jenis karir yang ada. Karena itu tahap-tahap pendidikan karir yang dimulai dari career awareness, career planning , sampai pada career development perlu dikenalkan kepada semua peserta didik.
9) Kecakapan menjaga harmoni dengan lingkungan
Peserta didik hidup dalam lingkungan nyata dan lingkungan maya sekaligus. Lingkungan nyata berupa fisik yang dapat dirasakan oleh panca indera seperti tanah, air dan udara. Terhadap lingkungan fisik, peserta didik harus mampu menjaga kesehatan dirinya (kebersihan, ketegaran badan) dan keharmonisan dengan alam sekitarnya (memelihara lingkungan). Lingkungan maya yang juga disebut nirpisik adalah suasana sosial yang dapat ditangkap oleh otak dan dirasakan oleh hati. Terhadap lingkungan maya (nirpisik), peserta didik harus mampu menjaga keharmonisan dengan masyarakat disekitarnya.
10) Kecakapan menyatukan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila
Negara Kesatuan Repuplik Indonesia terdiri dari keanekaragaman kebhinekaan dalam suku, agama, ras, dan asal-usul, tetapi harus tetap menjadi satu (bhineka tunggal ika). Untuk mencapai bhineka tunggal ika diperlukan upaya-upaya nyata, baik melalui PS maupun PLS. Peserta didik perlu diberi bekal kemampuan mengintegrasikan kebhinekaan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi hak asasi manusia, menjaga kesatuan bangsa, demokrasi, keadilan sosial, kecintaan terhadap negaranya, kepahlawanan dan apresiasi terhadap para pahlawan, apresiasi terhadap peninggalan budaya, kebebasan dan tanggung jawab, kesadaran sebagai warganegara, adalah contoh-contoh kecakapan hidup untuk menyatukan bangsa berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
3. PEMBELAJARAN BERORIENTASI “LIFE SKILL”
“Life Skill” atau Kecakapan Hidup, perlu dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan berkehidupan secara wajar, proaktif, dan kreatif serta menemukan solusi sehingga akhirnya siswa mampu mengatasinya. Tujuan pendidikan yang berorientasi pada “Life Skill’ secara umum adalah mengembangkan potensi peserta didik dalam rangka menghadapi perannya dalam kehidupan di masa yang akan datang.
Adapun secara khusus tujuan pendidikan berorientasi “Life Skill” menurut Tim “Broad Base Education” (2002),adalah :
a. Mengaktulisasikan potensi peserta didik, sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problem yang dihadapi.
b. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas.
c. Mengoptimalkan sumber daya di lingkungan sekolah.
Ada lima macam “Life Skill” menurut Tim “BBE” (2002), yaitu kecakapan:
a. Mengenal diri / “Personal Skill” / “Self Awaraness”
b. Berfikir rasional / “Thinking Skill”
c. Sosial / “Social Skill”
d. Akademik / “Academic Skill”
e. Vokasional / Keterampilan Kejuruan // “Vovational Skill”
Berikut ini adalah kecakapan hidup tentang :
a. Kecakapan Mengenal Diri (Self Awareness) atau sering juga disebut kemampuan personal,
mencakup :
1) Penghayatan diri sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa
2) Menyadari sebagai anggota masyarakat , dan warga Negara (Eksistesi)
3) Menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus
menjadikannya sebagai modal dan meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat
bagi diri sendiri dan lingkungannya (Potensi)
b. Kecakapan Berfikir Rasional (Thinking Skill), mencakup :
1) Kecakapan menggali dan menemukan informasi.
2) Kecakapan mengolah informasi
3) Kecakapan mengambil keputusan.
4) Kecakapan memecahkan masalah secara kreatif.
c. Kecakapan Sosial (Social Skill) atau Kecakapan Interpersonal, mencakup :
1) Kecakapan komunikasi lisan
2) Kecakapan komunikasi tulisan
3) Kecakapan bekerjasama.
d. Kecakapan Akademik (Academik Skill) disebut juga Kemampuan Berfikir Ilmiah, mencakup :
1) Mengidentifikasi variabel.
2) Menghubungkan variabel
3) Merumuskan hipotesis.
3) Melakukan penelitian.
e. Kecakapan Vocational (Vocational Skill) sering kali disebut Keterampilan Kejuruan. Artinya,
keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat,
seperti teknisi, sekretaris, dan lain sebagainya. Keterampilan kejuruan dapat diklasifikasikan
dalam 9 macam keterampilan, yaitu :
1) Berbahasa, meliputi : berkomunikasi, bercerita, membaca, menulis, berbicara, dan lain
sebagainya.
2) Seni, meliputi : merancang, melukis, bernyanyi, dan bersyair.
3) Gerak, meliputi : olahraga, bela diri, menari, dan lain sebagainya.
4) Ruang, meliputi : tata letak ruang, penempatan barang, keindahan ruang.
5) Logika atau penalaran, meliputi : observasi, analisis, evaluasi, berhitung, penelitian, dan
kegiatan ilmiah.
6) Interpersonal, meliputi : bergaul, memimpin, empati, kerjasama, dan saling menghormati.
7) Intrapersonal, meliputi : kepedulian, kasih saying, toleransi, keadilan, dan tanggungjawab.
8) Spiritual yaitu mempraktekkan agam yang dianut dalam kehidupan sehari-hari dengan
konsisten
9) Emosional, meliputi : sabar, keteladanan, dan lain sebagainya.
Pada kehidupan nyata, antara General Life Skill, dan Specific Life Skill tidak berfungsi secara terpisah, tetapi kecakapan-kecakapan ini melebur menjadi satu dalam diri pribadi seseorang. Wujudnya berupa sebuah tindakan individu yang melibatkan aspek fisik, mental, emosional, dan intelektual (Nurfina Aznam, 2002).
Dalam melaksanakan kebijakan pendidikan yang berorientasi pada kecakapan untuk hidup, maka fokus utama kegiatan pendidikan haruslah ditajukan untuk mempersiapkan para siswa agar memiliki kecakapan untuk hidup, agar mampu menempuh perjalanan hidup. Pendidikan formal untuk mengembangkan keempat spektrum life skills' itu perlu dirancang ulang secara sistematis ke dalam kurikulum sekolah. Untuk itu pengorganisasian mata pelajaran secara bertahap juga perlu mengacu kepada keempat bidang life skills' itu dengan porsi alokasi waktu yang seimbang dan proporsional sesuai dengan jenjang pendidikan dan jenis persekolahannya.
3.1 Bagaimana kurikulumnya ?
Oleh karena semua kegiatan pendidikan pada hakekatnya adalah merupakan upaya untuk mempersiapkan generasi muda anak-anak bangsa agar mampu menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya di kelak kemudian hari, maka kurikulum pada semua jenjang pendidikan dan jenis persekolahan haruslah mengarah kepada life skills education' dengan porsi dan kadar yang serasi. Struktur program kurikulum hendaknya juga menggambarkan keinginan kita sebagai bangsa untuk mewujudkan terkuasainya keempat jenis kecakapan dasar tersebut untuk memperkuat kecakapan-kecakapan yang telah diperoleh melalui pendidikan informal di dalam keluarga dan masyarakat. Penataan ulang ini hendaknya senantiasa mempertimbangkan kepentingan nasional sebagai suatu bangsa yang besar yang disesuaikan dengan jenjang pendidikan dan jenis persekolahan secara nasional, narnun dengan mempertimbangkan juga kepentingan sekolah dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.
Di dalam melaksanakan life skills education' ini porsi untuk 'personal skills' dan 'vocational skills' diusahakan seimbang, misalnya masing-masing 40%. Narnun spektrum 'social skills' dan 'environmental skills' juga perlu dijamah secara merata, misalnya masing-masing 10% dari alokasi waktu ideal yang tersedia. Alokasi 40% untuk 'personal skills' pelu dijabarkan lagi untuk 'physical skills', 'intellectual skills', 'emotional skills' dan 'spiritual skills' secara proporsional. Sejumlah mata pelajaran yang selama ini sudah diajarkan di sekolah-sekolah sebaiknya tetap diteruskan untuk diajarkan, tetapi perlu ditata-ulang dan diarahkan untuk mendukung terwujudnya kemampuan setiap bidang kecakapan untuk menempuh perjalanan hidup.
Pendidikan keterampilan pada bidang 'Vocational Skills' hams benar-benar disesuaikan dengan keperluan nyata masing-masing sekolah bersama-sama masyarakat setempat sebagai salah satu wujud dari pelaksanaan olonomi daerah dan otonomi di bidang penyelenggaraan pendidikan. Namun demikian kepentingan nasional dan internasional juga periu dipertimbangkan. Dalam rangka pelaksanaan 'Broad Based Education' pendidikan keterampilan tersebut harus menjadi fokus utama. Pelaksanaan pendidikan keterampilan ini harus perpihak pada kepentingan sebagian besar masyarakat yang, sangat membutuhkan kehadirannya mengingat anak-anak mereka sangat kecil kemungkinannya untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
3.2 Bagaimana proses pembelajarannya ?
"Life Skills Education" diberikan secara tematis mengenai masalah-masalah kehidupan nyata sehari-hari. Tema-tema yang akan ditetapkan harus betul-betul bermakna bagi siswa, baik untuk saat ini maupun untuk kehidupannya di kelak kemudian hari. Pendekatan yang digunakan adalah pemecahan masalah secara kasus yang dapat dikaitkan dengan beberapa mata pelajaran lain untuk memperkuat penguasaan life skills tertentu. Dengan pendekatan pemecahan masalah kehidupan sehari-hari para siswa menjadi semakin terlatih untuk menghadapi kehidupan yang nyata. Tema yang disajikan dapat berupa bahan diskusi untuk masing-masing kelas, untuk tingkat kelas yang sama dan untuk seluruh siswa.
Cakupan untuk setiap mata pelajaran juga perlu ditata-ulang dan diatur kembali alokasi waktu dan jamnya dalam setiap minggu. Di dalam alokasi jam pelajaran yang sudah diajarkan selama ini, untuk jam-jam pelajaran tertentu perlu disepakati pengurangannya untuk direalokasikan sebagai kontribusi kepada kegiatan life skills education' menjadi kumpulan jam pelajaran untuk membahas tema tertentu bersama-sama dengan semua mata pelajaran terkait.
3.3 Bagaimana Pengorganisasian Gurunya ?
Dalam melaksanakan life skills education' yang disajikan secara tematis, pada minggu-minggu tertentu guru tidak lagi mengajar sebagai guru mata pelajaran, akan tetapi sebagai suatu tim pelaksana life skills education'.Dalam tema 'Menyembelih binatang kurban' misalnya, guru Agama sebagai inti dalam merancang persiapan, pelaksanaan dan pelaporan kegitan akan bekerja sama dengan guru Bahasa Indonesia, guru Bahasa Inggris, guru IPS, guru PPKn, guru Matematika. Tema 'Rekreasi ke bendungan air setempat', atau 'Membantu korban banjir', atau 'Membangun jembatan baru' maka Guru IPA dan IPS sebagai inti akan bekerja sama dengan guru Matematika, guru Bahasa Indonesia, guru Bahasa Inggris, guru Agama, dan guru PPKn untuk merancang persiapan, pelaksanaan dan pelaporan kegiatan. Tema-tema lain masih banyak sekali yang dapat disepakati untuk ditetapkan sebagai penunjang pencapaian tujuan life skills' dengan melibatkan sebanyak mungkin guru mata pelajaran yang terkait.
Ketika merancang suatu tema ada baiknya para siswa juga dilibatkan agar pelaksanaannya lebih bermakna bagi mereka. Guru Pembimbing juga perlu untuk selalu dilibatkan secara berkala agar dapat menjelaskan kepada para siswa mengenai berbagai jenis pekerjaan yang tersedia, cara-cara untuk memilih dan mempersiapkannya sesuai dengan bakat dan minat siswa yang bersangkutan. Dalam merancang Program Semester, sekolah menetapkan jadwal mingguan yang isinya mencakup antara lain: pada minggu ke berapa akan dibahas topik apa, guru mata pelajaran apa yang menjadi inti dan guru mata pelajaran apa saja yang terlibat sebagai pendukung, media apa yang digunakan dan bagaimana mengevaluasinya.
3.4 Bagaimana pemanfaatan media belajarnya ?
Media pembelajaran baik yang tersedia di dalam sekolah, di lingkungan sekitar sekolah maupun di luar sekolah, hendaknya dimanfaatkan sebanyak mungkin dalam proses pembelajaran. Para siswa, orang tua siswa dan masyarakat sekitar juga dapat dilibatkan dalam penyediaan media pembelajaran yang diperlukan.
3.5 Bagaimana contoh modelnya ?
Tabel di bawah ini hanya dimaksudkan sebagai suatu contoh model kerangka struktur program kurikulum sekolah yang mengarah kepada kebijakan life skills'. Model ini masih sangat terbuka luas untuk didiskusikan secara lebih mendalam lagi, khususnya dalam menyepakati berapa jumlah kontribusi jam dalam seminggu untuk mendukung pelaksanaan life skills'.
MODEL KERANGKA STRUKTUR PROGRAM KURIKULUM"LIFE SKILLS"
No BIDANG LIFE SKILLS PORSI MATA PELAJARAN INTI KONTRIBUSI JAM UNTUK LIFE SKILLS PER MINGGU
1. Personal Skills : 40%
Physical skills Pendidikan Jasmani dan
Kesehatan
Intellectual Skills Bahasa Indonesia dan
Matematika Dasar
Emotional Skills Kesenian, Sastra dan Budi
Pekerti
Spritual Skills Pendidikan Agama
2. Social Skills : 10% PPKn, Sejarah dan Ekonomi
3. Environmental Skills : 10% Geografi, Kependudukan
dan Lingkungan Hidup
4. Vocational Skills : 40% Matematika Lanjut
IPA Lanjut
Bahasa Inggris
Bahasa Asing lain
Pendidikan Ketrampilan
4. Implementasi Pendidikan “Life Skill” dalam Pembelajaran Biologi
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah : SMA Negeri 21 Bandung
Mata Pelajaran : Biologi
Kelas/Semester : X/1
Waktu : 2 Jampel
KKM : 70
I. Standar Kompetensi : Memahami hakikat biologi sebagai ilmu
II. Kompetensi Dasar : Mengidentifikasi ruang lingkup biologi
III. Indikator : 1. Menunjukkan contoh kaitan antara fenomena alam dengan persoalan biologi
dengan benar
2. Mengelompokkan ruang lingkup biologi berdasarkan objek, persoalan, dan
tingkat organisasi dengan benar
3. Membuat laporan ruang lingkup biologi berdasarkan hasil observasi dengan
benar
4. Menunjukkan sikap dan minat belajar terhadap mata pelajaran biologi
IV. Tujuan Pembelajaran :
1. Setelah melakukan pengamatan fenomena alam diharapkan siswa dapat menunjukkan contoh kaitan antara fenomena alam dan persoalan biologi dengan benar
2. Setelah siswa mengelompokkan ruang lingkup biologi berdasarkan objek, persoalan, dan tingkat
organisai kehidupan dengan benar
3. Membuat laporan ruang lingkup biologi berdasarkan hasil observasi dengan benar
V. Materi :
Berdasarkan struktur keilmuan Biological Science Curikulum Study (BSCS) memiliki objek berupa kerajaan/kingdom Hewan, Tumbuhan, Protista terdapat pula cabang-cabang biologi yang didasarkan atas objek misalnya zoology, botani, entomologi, cabang biologi didasarkan pada persoalan seperti ekologi, toksiologi, taksonomi dll. Cabang biologi didasarkan pada tingkat organisasi seperti sitologi, histology, organolog
VII. Pendekatan dan Metoda :
- Pendekatan : Lingkungan
- Metoda : Pengamatan / observasi, diskusi, Problem Solving
VIII. Kegiatan pembelajaran :
A. Pendahuluan (10’)
1. menyampaikan tujuan pembelajaran
2. prasyarat / apersepsi : siswa telah memahami tentang sains
3. Motivasi : Ditunjukkan beberapa contoh fnomena alam berupa bencana alam. Apakah peristiwa
ini ada kaitannya dengan Biologi ?
B. Kegiatan Inti (50’)
Eksplorasi….
1. Siswa mengamati fenomena alam yang terjadi di sekitar, misalnya tentang kebersihan
lingkungan, bencana alam.
2. Siswa berdiskusi mengidentifikasi persoalan-persoalan biologi di sekitar siswa yang ada
kaitannya dengan ruang lingkup biologi. (kesadaran diri, kecakapan berpikir, kecakapan social)
3. Guru selama proses pembelajaran melakukan penilaian proses (instrument penilaian terlampir)
Elaborasi …
4. Siswa memaparkan hasil pengamatan dan observasi tentang ruang lingkup biologi
Klarifikasi …
5. Diskusi kelas untuk melakukan penegasan tentang ruang lingkup biologi
C. Penutup (20’)
1. Diskusi kelas untuk melaksanakan refleksi dan membuat rangkuman tentang ruang lingkup
biologi berdasarkan persoalan lingkungan
2. guru memberikan tugas di rumah untuk melakukan pengamatan tentang persoalan
Lingkungan / alam yang ada di sekitar siswa (TT) kaitannya dengan ruang lingkup biologi dan
membuat laporannya (PT / TMTT)
IX. Penilaian :
A. Instrumen Penelitian Kognitif
No. Indikator Soal
1.
Berdsarkan hasil pengamatan fenomena alam yang terjadi di sekitar siswa, siswa dapat menunjukkan fenomena alam yang ada kaitannya dengan persoalan biologi
1. Perhatikan pernyataan berikut ini :
a. Akibat adanya semburan lumpur di Sidoarjp
Jawa Timur sampai saat ini (hari ke 73)
belum dapat diatasi sehingga volume lumpur
saat ini sekitar 3,65 juta m3
b. Tumpukan sampah pernah terjadi di kota
Bandung karena ditutupnya TPA, sehingga
selama beberapa bulan memperoleh
predikat kota terkotor.
c. Tsunami di daerah Pantai selatan P. Jawa
telah menyebabkan hilangnya pekerjaan
para nelayan di pantai Pangandaran dan
rusaknya taman laut
Berdasarkan pernyataan tersebut, kejadian
manakah yang merupakan persoalan Biologi ?
Jelaskan !
2
Disajikan contoh fenomena alam, siswa dapat mengelompokan ruang lingkup biologi berdasarkan objek, persoalan, dan ingkat organisasi kehidupan.
2. Masyarakat Desa Kenari mengalami
kerawanan pangan karena musim kemarau,
selain itu 3 orang meninggal akibat terserang
flu burung, 10 orang balita meninggal karena
demam brdarah. Berdasarkan data tersebut
kelompokkanruang lingkup Biologi berdasarkan
objek, persoalan, dan tinglat organisasi
kehidupan
3
Berdarkan hasil pengamatan fenomena alam yang terjadi di sekitar siswa membuat laporan ruang lingkup biologi
3. Buatlah laporan hasil pengamatan tenang ruang lingkup
Biologi !
4
Setelah belajar biologi, siswa dapat menunjukkan sikap dan minat belajar biologi yang positif
4. Setelah belajar tentang ruang lingkup Biologi,
bagaimana menurut pendapatmu ?
○Meningkatkan imtaq 4 3 2 1
○Mudah dipahami 4 3 2 1
○Bermanfaat 4 3 2 1
○Menyenangkan 4 3 2 1
○Menantang 4 3 2 1
B. Penilaian Afektif (Life Skill)
No. Nama Siswa Aspek yang dinilai Skor Nilai
1 2 3 4 5 6 7
Ket : 1. Bekerjasama 2. Berkomunikasi lisan 3. Berkomunikasi tulisan 4. Menggali informasi 5. Mengolah informasi
6. Mengambil Keputusan 7. Memecahkan Masalah. Nilai : 1= kurang 2= cukup 3= baik 4= amat baik
C. Kriteria Jawaban dan Kriteria Penilaian
No. Kriteria Jawaban Kriteria Penilaian Skor Total
1 Semburan lumpur di Sidoarjo, tumpukan sampah di Bandung, tsunami di Pangandaran merupakan persoalan biologi
Penjelasan : karena akan mengganggu keseimbangan lingkungan sehingga sumber daya dukung lingkungan akan terganggu dan berpengaruh kepada samua makhluk hidup yang hidup di tempat tersebut. Ini merupakan persoalan biologi karena ada kaitannya dengan ekosistem 0 - 10
0 - 10 20
2 - Objek biologi misalnya hewan punah, tumbuhan punah
dan rusak
- Persoalan biologi misalnya ekosistem terganggu karena
daya dukung lingkungan rusak
- Tingkat oeganisme kehidupan akan mengalami kerusakan
misalnya plankton, zooplankton dan makhluk hidup
anggota multiseluler (hewan, tumbuhan) lainnya (individu,
populasi, dan komunitas). Makhluk hidup yang
berkembangbiak dengan cepat misalnya nyamuk dan yang
lainnya. 0 - 5
1 - 5
0 -20 30
3 - Laporan berisi :
Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab Pendahuluan
- Latar Belakang
- Rumusan Masalah
- Tujuan
Bab Kajian Pustaka
Bab Hasil Pengamatan dan Pembahasan
Bab Penutup
- Kesimpulan
- saran
0 - 3
0 - 4
0 - 3
0 – 5
0 – 5
0 – 5
0 – 15
0 – 20
0 – 10
0 – 5
0 - 5
80
4 - Sangat baik A = 4
- Baik B = 3
- Cukup C = 2
- Kurang 1 = 1 4 - 12 12
Mengetahui, Bandung, ………………………………….
KEPALA, Guru Mata Pelajaran,
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬___________________ _______________________
LEMBAR KERJA SISWA
Mata Pelajaran : Biologi
Konsep : Ruang lingkup Biologi
1. Perhatikan lingkungan sekitar kamu, kemudian isilah tabel hasil pengamatan dan pengukuran berikut :
No. Tempat Fenomena Alam Dampak terhadap organisme/lingkungan Keterangan
Suhu :
Kelembaban :
2. Perhatikan tabel di atas !
a. Kondisi / fenomena alam apa yang kamu amati / terjadi ? ___________________________________
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
b. Apakah dampak terhadap organisme / lingkungan yang berada di sekitar tempat tersebut ?
_________________________________________________________________________________
_________________________________________________________________________________
c. Apakah ada kaitannya dengan biologi ? Mengapa ? ________________________________________
__________________________________________________________________________________
__________________________________________________________________________________
3. Berdasarkan data di atas kelompokkan ruang lingkup biologi berdasarkan objek, persoalan, dan tingkat
organisasi kehidupan !_________________________________________________________________
___________________________________________________________________________________
Nilai Paraf
Guru Orang tua
kehidupan masa depan. Sanggup dalam arti lulusan mau, komit, bertanggung jawab dan berdedikasi menjalankan kehidupannya. Terampil dalam arti cepat, cekat, dan tepat dalam mencapai sasaran hidup yang diinginkannya. Mengingat siswa berada dalam kehidupan nyata, maka salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mendekatkan pendidikan (kegiatan belajar mengajar) dengan kehidupan nyata yang memiliki nilai-nilai preservative dan progresif sekaligus melalui pengintensifan dan pengefektifan pendidikan kecakapan hidup. Istilah pengintensifan dan pengefekktifan perlu digaris bawahi agar tidak salah persepsi bahwa selama ini tidak diajarkan kecakapan hidup sama sekali dan yang diajarkan adalah kecakapan untuk mati. Kecakapan hidup sudah diajarkan, akan tetapi perlu peningkatan intensitas dan efektivitasnya, sehingga sekolah dapat menghasilkan lulusan yang mampu, sanggup, dan terampil terjun dalam kehidupan nyata nantinya. UUSPN telah mengamantkan pendidikan kecakapan hidup, yang bunyinya: “Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarkatan dan kebangsaan“. Jadi, pendidikan kecakapan hidup bukanlah sesuatu yang baru dan karenanya juga bukan topik yang orisinil. Yang benar-benar baru adalah bahwa kita mulai sadar dan berpikir bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata perlu ditingkatkan intensitas dan efektivitasnya. 1.2. Tujuan 1.2.1 Tujuan Pendidikan Nasional Secara normatif, pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Undang-Undang Republik Indonesia No.2, Tahun 1989 tentang sistem Pendidikan Nasional). Berdasarkan tujuan tersebut, maka guru bertugas dan berfungsi mempersiapkan siswa agar mampu: (1) mengembangkan kehidupan sebagai pribadi, (2) mengembangkan kehidupan untuk bermasyarakat, (3) mengembangkan kehidupan untuk berbangsa, dan (4) mempesiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi. Konsekuensinya apa yang diajarkan harus menampilkan sosok utuh keempat kemampuan tersebut. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional sebagaimana ditulis pada butir 2.5.1. diperlukan upaya-upaya yang dapat menjembatani antara siswa dengan kehidupan nyata. Kurikulum yang ada saat ini memang merupakan salah satu upaya untuk menjembataninya, namun perlu ditingkatkan kedekatannya dengan nilai-nilai kehidupan nyata. Bila demikian, pertanyaannya adalah: “Apakah kurikulum yang ada sekarang sudah merefleksikan kehidupan nyata saat ini? Untuk menjawab pertanyaan ini diperlukan kajian yang mendalam terhadap kurikulum yang ada dan terhadap nilai-nilai kehidupan saat ini. Kesenjangan antara keduanya (kurikulum dan kehidupan nyata) merupakan tambahan pengayaan yang perlu diintegrasikan terhadap kurikulum yang ada sehingga kurikulum yang ada saat ini benar-benar merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata. Pengenalan kecakapan hidup terhadap peserta didik bukanlah untuk mengganti kurikulum yang ada, akan tetapi untuk melakukan reorientasi terhadap kurikulum yang ada sekarang agar benar-benar merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata. Jadi, pendidikan kecakapan hidup merupakan upaya untuk menjembatani kesenjangan antara kurikulum yang ada dengan tuntutan kehidupan nyata yang ada saat ini, bukan untuk merombaknya. Penyesuaian-penyesuaian kurikulum terhadap tuntutan kehidupan perlu dilakukan mengingat kurikulum yang ada memang dirancang per mata pelajaran yang belum tentu sesuai dengan kehidupan nyata yang umumnya bersifat utuh (Tim Broad Based Education Depdiknas, 2002). Selain itu, kehidupan memiliki karakteristik untuk berubah, sehingga sudah sewajarnya jika kurikulum yang ada perlu didekatkan dengan kehidupan nyata. Dalam pandangan ini, maka kurikulum merupakan sasaran yang bergerak dan bukan sasaran yang diam. Dalam arti yang sesungguhnya, pendidikan kecakapan hidup memerlukan penyesuaian-penyesuaian dari pendekatan supply-driven menuju ke demand-driven. Pada pendekatan supply-driven, apa yang diajarkan cenderung menekankan pada school-based learning yang belum tentu sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai kehidupan nyata yang dihadapi oleh peserla didik. Pada pendekatan demand-driven, apa yang diajarkan kepada peserta didik merupakan refleksi nilai-nilai kehidupan nyata yang dihadapinya sehingga lebih berorientasi kepada life skill-based learning. Dengan demikian, kerangka pengembagan pendidikan berbasis kecakapan hidup idealnya ditempuh secara berurutan sebagai berikut (Slamet PH, 2002). Pertama, diidentifikasi masukan dari hasil penelitian, pilihan-pilihan nilai, dan dugaan para ahli tentang nilai-nilai kehidupan nyata yang berlaku. Kedua, masukan tersebut kemudian digunakan sebagai bahan, untuk mengembangkan kompetensi kecakapan hidup. Kompetensi kecakapan hidup yang dimaksud harus menunjukkan kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya dalam dunia yang sarat perubahan. Ketiga, kurikulum dikembangkan berdasarkan kompetensi kecakapan hidup yang telah dirumuskan. Artinya, apa yang harus, seharusnya, dan yang mungkin diajarkan pada peserta didik disusun berdasarkan kompetensi yang telah dikembangkan. Keempat, penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup perlu dilaksanakan dengan jitu agar kurikulum berbasis kecakapan hidup dapat dilaksanakan secara cermat. Hal-hal yang diperlukan untuk penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup seperti misalnya tenaga kependidikan (guru), pendekatan-strategi-metode pembelajaran, media pendidikan, fasilitas, tempat belajar dan durasi belajar, harus siap. Kelima, evaluasi pendidikan kecakapan hidup perlu dibuat berdasarkan kompetensi kecakapan hidup yang telah dirumuskan pada langkah kedua. Karena evaluasi belajar disusun berdasarkan kompetensi, maka penilaian terhadap prestasi belajar peserta didik tidak hanya dengan pencil and paper test, melainkan juga dengan performance test dan bahkan dengan evaluasi otentik. Pendidikan masa depan akan menekankan pada kecakapan hidup. Diharapkan, tujuan pendidikan nasional lebih menekankan pada penguasaan kehidupan, kurikulum lebih merefleksikan kehidupan nyata, penyelenggaraannya benar-benar jitu dalam merealisasikan kurikulum berbasis kecakapan hidup yang ditunjukkan oleh guru memiliki penguasaan kehidupan yang kuat, siswa mempelajari kenyataan dan aktif, metode pembelajaran lebih konkrit, kerja tim kuat, media pendidikan menggunakan kenyataan, tempat belajar tidak harus selalu dikelas tetapi juga di kancah/kehidupan, durasi pembelajaran tergantung kompetensi yang ingin dikuasai, referensi tidak selalu berupa buku tetapi juga kehidupan nyata/konteks, pengalaman hidup akan lebih kaya, dan evaluasi belajar lebih menekankan pada autentik. 1.2.1. Tujuan Kecakapan Hidup Seperti juga ada pengertian kecakapan hidup, tujuan pendidikan kecakapan hidup juga bervariasi sesuai kepentingan yang akan dipenuhi. Naval Air Station Antlanta (2002) menuliskan bahwa tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah: to promote family strength and growth through education; to teach concepts and principles relevant to family living, to explore personal. attitudes and values, and help members understand and accept the attitudes and values of others; to develop interpersonal skills which contribute to family well-being; to reduce mariage and family conflict and theeby enhance service member productivity; and to encourage on-base delivery of family education program and referral as appropriate to community programs.”i appropriate to community programs. Sementara itu, Tim Broad-Based Education Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah untuk: (1) mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi, (2) memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan (3) mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah, dengan member peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyaakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah. Meskipun bervariasi dalam menyatakan tujuan pendidikan kecakapan hidup, namun konvergensinya cukup jelas yaitu bahwa tujuan utama pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya di masa datang. Esensi dari pendidikan kecakapan hidup adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif. Lebih spesifiknya, tujuan pendidikan kecakapan hidup dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama, memberdayakan aset kualitas batiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyah peserta didik melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengamalan (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kedua, memberikan wawasan yang luas tentang pengembangan karir, yang dimulai dari pengenalan diri, eksplorasi karir; orientasi karir, dan penyiapan karir. Ketiga, memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus. Keempat, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah dengan mendorong peningkatan kemandirian sekolah, partisipasi stakeholders, dan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah. Kelima, memfasilitasi peserta didik dalam memecahkan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari, misalnya kesehatan mental dan pisik, kemiskinan, kriminal, pengangguran, lingkungan sosial dan pisik, narkoba, kekerasan, dan kemajuan iptek. 1. 3. Hasil yang Diharapkan Hasil yang diharapkan dari pendidikan kecakapan hidup pada PS dan PLS adalah sebagai berikut. Pertama, peserta didik memiliki asset kualitas batiniyah, sikap,dan perbuatan lahiriyah yang siap untuk menghadapi kehidupan masa depan sehingga yang bersangkutan mampu dan sanggup menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kedua, peserta didik memiliki wawasan luas tentang pengembangan. Karir dalam dunia kerja yang sarat perubahan yaitu yang mampu memilih, memasuki, bersaing, dan maju dalam karir. Ketiga, peserta didik memiliki kemampuan berlatih untuk hidup dengan cara yang benar, yang memungkinan peserta didik berlatih tanpa bimbingan lagi. Keempat, peserta didik memiliki tingkat kemandirian, keterbukaan, kerjasama, dan akuntabilitas yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kelima, peserta didik memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk mengatasi berbagai permasalahan hidup yang dihadapi. 1. 4. Manfaat Pendidikan kecakapan hidup memberikan manfaat pribadi peserta didik dan manfaat sosial bagi masyarakat. Bagi peserta didik, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kualitas berpikir, k ualitas kalbu, dan kualitas fisik. Peningkatan kualitas tersebut pada gilirannya akan dapat meningkatkan pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya karir, penghasilan, pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani, peluang, pengembangan diri, kemampuan kompetitif, dan kesejahteraan pribadi. Bagi masyarakat, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan indikator-indikator adanya: peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalah-masalah sosial, dan pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampun memadukan nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni (cita rasa). 2. KAJIAN TEORI 2. 1. Pengertian “Life Skill” (Kecakapan Hidup) Kata cakap memiliki beberapa arti. Pertama dapat diartikan sebagai pandai atau mahir, kedua sebagai sanggup, dapat atau mampu melakukan sesuatu, dan ketiga sebagai mempunyai kemampuan dan kepandaian untuk mengerjakan sesuatu. Jadi kata kecakapan berarti suatu kepandaian, kemahiran, kesanggupan atau kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menyelesaikan sesuatu. Oleh karena itu kecakapan untuk hidup ('life skills') dapat didefinisikan sebagai suatu kepandaian, kemahiran, kesanggupan atau kemampuan yang ada pada diri seseorang untuk menempuh perjalanan hidup atau untuk menjalani kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak sampai dengan akhir hayatnya. Meskipun kecakapan hidup telah didefinisikan berbeda-beda, namun esensi pengertiannya sama. Brolin (l989) mendefinisikan kecakapan hidup sebagai kontinum pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam kehidupan. Pendapat lain mengatakan bahwa kecakapan hidup adalah kecakapan sehari-hari yang diperlukan oleh seseorang agar sukses dalam menjalankan kehidupan (http://www.lifeskills-stl.org/page2.html) Malik Fajar (2002) mendefinisikan kecakapan hidup sebagai kecakapan untuk bekerja selain kecakapan untuk berorientasi ke jalur akademik. Sementara itu Tim Broad-Based Education (2002) menafsirkan kecakapan hidup sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Meskipun terdapat perbedaan dalam pengertian kecakapan hidup, namun esensinya sama yaitu bahwa kecakapan hidup adalah kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Oleh karena itu, pendidikan kecakapan hidup adalah, pendidikan yang member bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupannya, yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Dengan definisi tersebut, maka pendidikan kecakapan hidup harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari, baik yang bersifat preservative maupun progresif. Pendidikan perlu diupayakan relevansinya dengan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari. Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis, lebih kontekstual. Tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur. Seseorang dikatakan memiliki kecakapan hidup apabila yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Kehidupan yang dimaksud meliputi kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan tetangga, kehidupan perusahaan, kehidupan masyarakat, kehidupan bangsa, dan kehidupan-kehidupan lainnya. Ciri kehidupan adalah perubahan dan perubahan selalu menuntut kecakapan-kecakapan untuk menghadapinya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jikpa PS dan PLS mengajarkan kecakapan hidup. 2.2 Perjalanan Hidup. Keberadaan seseorang di dunia ini memerlukan dimensi ruang dan dimensi waktu. Setiap orang memerlukan ruang untuk tempat wujud sosok fisiknya itu, karena dia sebelumnya tidak ada, kemudian ada (dilahirkan) dan akhirnya tidak ada lagi (meninggal dunia). Dia berada di salah satu tempat di planet bumi ini untuk berpijak, lalu tumbuh raganya dan berkembang sukma atau roh beserta potensinya untuk melangkahkan kaki menempuh perjalanan hidup sampai akhir hayatnya. Perjalanan hidup seseorang siapapun dia pasti dan selalu diawali dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian. Di samping emerlukan ruang, keberadaan seseorang juga memerlukan waktu, karena dia berada dalam kurun waktu tertentu selama batas jatah usianya. Batas jatah usia (kamatian) seseorang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Ada yang meninggal ketika masih bayi, ada yang pada masa kanak-kanak, ada yang pada masa remaja, ada yang setelah dewasa, ada yang setelah masa tua, dan ada pula yang setelah sangat renta. Dalam perjalanan hidupnya sejak dia dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, dimensi waktu yang dilalui oleh sesorang pada saat ini senantiasa terdiri atas dimensi masa lalu, dimensi masa kini dan dimensi masa depan. Dimensi masa lalu merupakan sejarah pengalaman yang menjadi pelajaran untuk manjalani hidup pada masa kini, dan kehidupan masa kini dijalani untuk mempersiapkan masa depan generasi penerusnya. Masa yang telah lalu disebut juga hari kemarin, dan masa kini atau waktu sekarang dikenal sebagai hari ini, sedangkan masa yang akan datang atau masa depan biasa disebut hari esok. Orang Inggris menamakannnya sebagai 'yesterday, today and tomorrow'. Pada kehidupan suatu masyarakat atau suatu bangsa, demikian pula pada kehidupan umat manusia berlaku pula dimensi ruang dan waktu yang serupa. Oleh karena itu berdasarkan hasil belajar dari pengalaman hidup hari kemarin, hidup pada hari ini pada hakikatnya adalah mempersiapkan untuk menghadapi hari esok yang diperlukan bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi generasi keturunannya, bagi masyarakatnya, bagi bangsanya, dan juga bagi umat manusia secara keselunihan. Bagi para pemeluk agama yang percaya penuh terhadap kehidupan setelah mati, dalam mempersiapkan diri untuk hari esok, usaha seseorang tidak berhenti hanya untuk memenuhi keperluan hidupnya sampai dengan ia meninggal dunia. Persiapan tersebut juga dilakukan untuk memenuhi keseriuan perjalanan hidupnya setelah mati, yaitu setelah sukmanya terlepas dari raganya. Persiapan itu terwujud antara lain dalam berbagai upaya untuk senantiasa berbuat baik, beramal salih, mengerjakan sesuatu dengan ihklas, berbuat jujur, beramal jariah dan sejenisnya semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Tuhan, sebagai persediaan atau bekal yang terbaik demi keselamatan dan ketenteraman hidupnya kelak di akhirat, yaitu masa yang abadi di alam baka, di suatu tempat yang paling aman dan darnai yang benar-benar dapat membahagiakan bagi kehidupan rohnya. Untuk mampu menjalani kehidupannya, sejak dilahirkan setiap orang telah dibekali dengan berbagai potensi untuk dapat mengenali teka-teki misteri tentang dirinya. Pengenalan ini dicapainya melalui daya fisiknya, melalui daya fikirnya, melalui daya emosionalnya dan melalui daya spiritualnya yang menyatu menjadi daya kalbu untuk melakukan dialog dan kemudian berkarya sesuai dengan aturan Tuhan, yaitu Sang Penciptanya. 2. 3 Potensi Life Skill Dalam menciptakan manusia untuk menjadi khalifahNya di planet bumi ini,Tuhan telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencukupi keperluan khalifahNya itu sejak masih berwujud benih janin di dalam rahim ibunya. Persiapan itu mencakup penyediaan berbagai bentuk pelayanan dan kemudahan yang berada di dalam dan di luar diri manusia. Penciptaan manusia merupakan wujud sosok diri yang final, utuh dan unik sebagai suatu sistem yang sempurna, tidak ada kekurangan sesuatu apa pun padanya. Hal ini dapat dianalogikan dengan potensi pada mahluk hidup lainnya yang diciptakan oleh Tuhan, antara lain misalnya potensi untuk hidup di air bagi ikan, potensi untuk terbang bagi burung, potensi untuk berkoloni bagi lebah, potensi untuk melata dan berpuasa bagi ular. Subsistem-subsistem pendukung keberadaan manusia juga diciptakan dengan sangat sempurna, baik untuk keperluan pertumbuhan fisiknya maupun untuk perkembangan sukma atau rohnya. Demikian juga pelayanan dan kemudahan-kemudahan yang berada di luar dirinya yaitu lingkungan yang harus diakrabi selama hidupnya, semua telah disiapkan dengan sangat sempuma. Potensi kecakapan untuk menempuh perjalanan hidup bagi seseorang merupakan bawaan yang telah melekat pada dirinya sejak dia tercipta. Kesernuanya itu disediakan sebagai potensi yang perlu dikembangkan lebih lanjut oleh orang tua, mayarakat, negara dan bangsa. Upaya yang secara sadar dilakukan untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri pribadi setiap orang agar mampu menjalani kehidupan dikenal dengan nama mendidik. Mendidik yang dilakukan oleh keluarga atau masyarakat secara alamiah disebut sebagai pendidikan informal. Sedangkan pendidikan yang dilakukan oleh suatu bangsa secara bersistem melalui sekolah disebut sebagai pendidikan formal. Tugas orang tua dan masyarakat adalah mengembangkan potensi itu melalui pendidikan informal yang dilakukan dengan ikhlas sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta. Dalam bahasa yang religius kegiatan ini merupakan wujud dari rasa syukur karena telah dikaruniai keturunan yang diharapkan akan dapat meneruskan kehidupan dan generasi terdahulu kepada generasi berikutnya. Negara dan bangsa sebagai kesatuan keluarga dan masyarakat mewujudkan rasa syukur itu dengan menciptakan suatu sistem pendidikan yang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar