GROUP INVESTIGATION
TEORI DAN PRAKTEK DALAM PEMBELAJARAN IPA
A. Pendahuluan
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak terjadi perubahan dalam dunia pendidikan yang salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pendidikan pada saat ini dihadapkan pada tuntutan dan tujuan yang semakin canggih, semakin kompleks, baik ragam maupun kualitasnya. Dengan demikian sistem pendidikan di masa depan perlu dikembangkan agar dapat menjadi lebih responsif terhadap tuntutan masyarakat dan tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang.
Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar (Depdiknas, 2006 : 451). Biologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah biologi di alam sekitar melalui keterampilan proses seperti halnya hakikat pembelajaran IPA sehingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori dan sikap ilmiah di pihak siswa yang dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan.
Dalam kegiatan pendidikan selama ini, siswa hanya tahu banyak fakta tetapi kurang mampu memanfaatkannya secara efektif. Seperti halnya dalam pembelajaran biologi yang selama ini lebih banyak menghapalkan fakta, prinsip dan teori saja. Sementara itu, tuntutan pemerintah, masyarakat dan lingkungan sekitar begitu besar atas terbentuknya pribadi siswa yang memiliki jiwa pemimpin, manajer, inovator, operator yang efektif dan yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Dalam
hal ini, peran guru sangatlah penting. Guru harus mampu mengembangkan potensi peserta didik secara optimal sesuai dengan potensi yang dimiliki, kebutuhan peserta didik, keadaan sekolah dan tuntutan kehidupan di masa depan. Selain itu model pembelajaran juga merupakan salah satu faktor penting yang dapat menunjang proses pembelajaran dengan baik dan dapat meningkatkan mutu pendidikan. Model pembelajaran memberikan kemudahan dan dapat membantu guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam memecahkan beberapa masalah yang dihadapi dalam upaya mengaktifkan siswa dalam belajar adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis. Pembelajaran kooperatif merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran kooperatif, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran. Beberapa ahli menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tidak hanya unggul dalam membantu siswa untuk memahami konsep-konsep, tetapi juga membantu siswa menumbuhkan kemampuan kerjasama, berpikir kritis dan mengembangkan sikap sosial siswa.
Salah satu tipe dalam model pembelajaran kooperatif adalah tipe group investigation. Tipe model ini bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan ataupun berbicara. Tipe model ini menggabungkan kegiatan membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Selain dari itu, tipe model ini cocok untuk semua kelas dan tingkatan dan diharapkan pembelajaran menjadi lebih bermakna, seperti halnya pernyataan Ausubel (Dahar,1996:112) yang menyatakan bahwa bahan pelajaran yang dipelajari haruslah ”bermakna” (meaningfull). Belajar bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang.
Cooperative learning merupakan salah satu daerah yang paling luas dan bermanfaat teori, penelitian, dan praktek dalam pendidikan. Cooperative learning (CL) lebih daripada memiliki kerja siswa dalam kelompok tetapi perubahan mendasar dari guru sebagai penyedia informasi dan satu-satunya sumber kebenaran, guru berperan sebagai fasilitator. Hal tersebut melibatkan penggunaan penyelesaian tugas-tugas yang membutuhkan upaya bersama dan keterampilan individu sebagai anggota kelompok (Zingaro, 2008).
B. Tujuan
Mengkaji dan menelaah salah satu tipe model pembelajaran cooperative learning yaitu group investigation sebagai bahan diskusi mata kuliah pengajaran biologi.
C. Group Investigation
Merujuk pada kamus bahasa Inggris, group investigation berasal dari dua kata yaitu group dan investigation. Dalam bahasa Indonesia disadur menjadi grup yang berarti menunjukkan sesuatu yang lebih dari satu dan investigation adalah investigasi. Lebih jauh dua kata tersebut diperjelas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 2002) yaitu grup menunjukan kata sifat yang berarti rombongan, kelompok dan golongan (Balai Pustaka, 2003 : 372). Sedangkan investigasi (Balai Pustaka, 2002 : 441), menunjukan penyelidikan dengan mencatat atau merekam fakta melakukan peninjauan, percobaan, dan sebagainya, dengan tujuan memperolah jawaban atas pertanyaan tentang peristiwa, sifat atau khasiat suatu zat dan sebagainya atau juga dimaknai sebagai penyelidikan.
Group Investigation atau Investigasi Kelompok merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling kompleks dan paling sulit untuk diterapkan. Model ini dikembangkan pertama kali oleh Thelan. Dalam perkembangannya model ini diperluas dan dipertajam oleh Shlomo dan Sharan dari Universitas Tel Aviv. Group Investigation merupakan perencanaan pengaturan-kelas yang umum dimana para siswa bekerja dalam kelompok kecil menggunakan pertanyaan kooperatif (Sharan dan Sharan, 1992 dalam Slavin, 2008).
Menurut Sharan (1989 dalam Zingaro, 2008) di dalam Group Investigation siswa membentuk kelompok-kelompok untuk merencanakan dan melaksanakan penyelidikan, dan mensintesis temuan ke dalam presentasi kelompok di kelas. Peran umum guru adalah untuk membuat siswa sadar sumber daya yang dapat membantu saat melakukan penyelidikan. Group Investigation mencakup empat komponen penting ("empat I"): investigasi, interaksi, interpretasi dan motivasi intrinsik. Investigasi mengacu pada fakta bahwa kelompok-kelompok fokus pada proses bertanya tentang topik yang dipilih. Interaksi merupakan ciri dari semua metode pembelajaran kooperatif, yang diperlukan bagi siswa untuk mengeksplorasi ide-ide dan saling membantu belajar. Interpretasi terjadi ketika kelompok mensintesis dan menguraikan temuan dari setiap anggota dalam rangka meningkatkan pemahaman dan kejelasan ide. Akhirnya, motivasi intrinsik menyala pada siswa dengan memberikan mereka otonomi dalam proses investigasi.
Keempat komponen penting Group Investigation tersebut digabungkan dalam enam tahap. Sharan (1984 dalam Arends, 2008) mendeskripisikan enam langkah dalam Group Investigation: 1) Pemilihan topik . Siswa memilih sub-sub topik tertentu dalam bidang permasalahan umum tertentu, yang biasanya diterangkan oleh guru. Siswa kemudian diorganisasikan ke dalam kelompok-kelompok kecil berorientasi tugas yang beranggota dua sampai enam orang. Komposisi heterogen baik secara akademis dan etnis; 2) Cooperative Learning. Siwa dan guru merencanakan prosedur, tugas, dan tujuan belajar tertentu yang sesuai dengan sub-sub topik yang yang dipilih dalam langkah 1; 3) Implementasi. Siswa melaksanakan rencana yang diformulasikan dalam langkah 2. Pembelajaran mestinya melibatkan beragam kegiatan dan keterampilan dan seharusnya mengarahkan siswa ke berabagai macam sumber di dalam maupun di luar sekolah. Guru mengikuti dari dekat perkembangan masing-masing kelompok dan menawarkan bantuan bila dibutuhkan; 4) Analisis dan sintesis. Siswa menganalisis dan mengevaluasi informasi yang diperoleh selama langkah 3 dan merencanakan bagaimana informasi itu dapat dirangkum dengan menarik untuk dipertontonkan atau dipresentasikan kepada teman-teman sekelas; 5) Presentasi produk akhir. Beberapa atau semua kelompok di kelas memberikan presentasi menarik tentang topik-topik yang dipelajari untuk membuat satu sama lain saling terlibat dalam pekerjaan temannya dan mencapai perspektif yang lebih luas tentang sebuah topik. Presentasi kelompok dikordinasikan oleh guru; 6) Evaluasi. Dalam kasus-kasus yang kelompoknya menindaklanjuti aspek-aspek yang berbeda dari topik yang sama, siswa dan guru mengevaluasi kontribusi masing-masing kelompok ke hasil pekerjaan kelas secara keseluruhan. Evaluasi dapat memasukkan asesmen individual atau kelompok, atau kedua-duanya.
Menurut Slavin (2008 :218), dalam group investigation, siswa bekerja melalui enam tahap. Tahap-tahapan terdiri dari 1) Mengidentifikasi Topik dan Mengatur Murid ke dalam Kelompok; 2) Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari; 3) Melaksanakan Investigasi; 4) Menyiapkan Laporan Akhir; 5) Mempresentasikan Laporan akhir; 6) Evaluasi. Sedangkan Sharan (2009: 149) menyebutkan model Group Investigation terdiri dari enam tahap sebagai berikut: 1) Kelas menentukan subtema dan menyusunnya dalam kelompok penelitian; 2) Kelompok merencanakan penelitian mereka; 3) Kelompok melakukan penelitian; 4) kelompok merencanakan presentasi; 5) Kelompok melakukan presentasi; 6) Guru dan siswa mengevaluasi proyek mereka.
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disederhanakan bahwa dalam Group Investigation terdiri dari eanam langkah/tahapan, para siswa dibebaskan membentuk kelompoknya sendiri yang terdiri dari dua sampai enam orang anggota. Kelompok ini kemudian memilih topik-topik dari unit yang telah dipelajarai oleh seluruh kelas, membagi topic-topik ini menjadi tugas-tugas pribadi, dan melakukan kegiatan yang diperlukan untuk mempersiapkan laporan kelompok. Tiap kelompok lali mempresentasikan atau menampilkan penemuan mereka di hadapan seluruh kelas (Slavin, 2008 : 24 -25).
D. Komponen Group Investigation
Karakter unik dari Group Investigation terletak pada integrasi empat elemen dasar yaitu penyelidian, interaksi, interpretasi, dan motivasi intrinsik (lihat gambar 1). Semua elemen dasar tersebut terjadi secara simultan, tetapi unsur keempat, motivasi intrinsik memiliki status agak berbeda dengan tiga elemen lainnya, bisa dilihat sebagai akibat dari tiga lainnya. Setiap elemen dasar tersebut diperluas untuk mengamati kontribusi mereka terhadap model pembelajaran kooperatif, meskipun pada prakteknya empat elemen dasar tersebut tidak muncul secara terpisah-pisah atau dalam bentuk potong-potongan (Sharan, 2009 : 144).
Gambar 1. Empat Elemen Dasar group investigation (Sharan & Sharan 1992 : 18).
Empat komponen-komponen penting pendekatan group investigation adalah penyelidikan, interaksi, interpretasi dan motivasi intrinsik. (Bandingkan Gambar 1) Mereka saling terkait dan bersamaan saat ini.
1. Investigasi mengacu pada organisasi dan prosedur untuk mengarahkan pelaksanaan kelas pembelajaran sebagai sebuah proses kolaboratif bangunan pengetahuan. Ini adalah komponen yang paling umum di Grup Investigasi. Investigasi memungkinkan tiga komponen lainnya untuk mengambil tempat.
2. Interaksi menggambarkan dimensi sosial dari proses pembelajaran. Interaksi antara siswa memberikan kontribusi untuk kemampuan mereka untuk menafsirkan dan membuat informasi yang berarti. Interaksi antara rekan-rekan sangat penting dalam mempromosikan verbalisasi dan diskusi.
3. Interpretasi terjadi baik di tingkat sosial dan tingkat kognitif individu. pemahaman Individu 'dari topik yang diteliti ditingkatkan oleh interpretasi informasi mereka. Siswa mengubah informasi menjadi pengetahuan melalui interpretasi informasi.
4. motivasi intrinsik merujuk pada keterlibatan emosional siswa. Tujuannya adalah untuk memiliki siswa menjadi pribadi yang tertarik dalam penyelidikan. (Sharan 1992, 18-19) motivasi intrinsik dapat dilihat sebagai akibat dari tiga lainnya.
Investigasi yang efektif dan interaksi dalam kelompok tergantung pada sejauh mana siswa telah menguasai keterampilan sosial dan akademis. Keterampilan sosial memainkan peran penting dalam pembelajaran kolaboratif yang sukses dan karena itu mereka sangat baik dilatih melalui pembelajaran kooperatif. Guru harus mengevaluasi kebutuhan kelompok dengan member bantuan dalam menjaga interaksi yang efektif di antara anggotanya. Guru dibutuhkan untuk membimbing dan mendukung siswa mereka sepanjang proses untuk mengembangkan studi mereka dan keterampilan sosial dan proses pembelajaran. Untuk menyimpulkan peran guru berubah dari satu-satunya sumber pengetahuan untuk tutor, membimbing dan manajer pembelajaran (Sharan & Sharan 1992; 1994). Group investigation merupakan metode pedagogis di antara peserta didik dan guru di kelas. Dialog tentang objek pembelajaran sangat penting dalam membangun makna dari konten. Group investigation merupakan hal tentang penciptaan pengetahuan dan peningkatan pembelajaran praktek dalam kelompok sosial. Group investigation merupakan salah satu model yang mungkin pengorganisasian pembelajaran kolaboratif dilakukan secara terbuka dan fleksibel dengan multi-media pembelajaran lingkungan.
E. Group Investigation Sebagai Sebuah Model Collaborative Learning
Dalam pembelajaran guru dapat menggunakan Group Investigation sebagai pendekatan, model, dan metode. Pemilihan tersebut disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
1. Group Investigation sebagai pendekatan
Pendekatan pembelajaran yang menggunakan Group Investigation, siswa terlibat dalam perencanaan baik topik yang dipelajari dan bagaiamana penyelidikan mereka. Pendekatan ini memerlukan norma dan struktur kelas yang lebih rumit daripada pendekatan yang lebih berpusat pada guru. Pendekatan ini juga memerlukan bagaimana mengajar siswa keterampilan komunikasi dan proses kelompok yang baik.
Pendekatan Group Investigation berbeda dengan pendekatan struktural baik dilihat dari tujuan kognitif, pemilihan topik, penilaian dan lain-lainnya (Lihat Tabel 1). Pendekatan struktural dikembangkan oleh Spencer Kagan (1992,1998) yang menekankan penggunaan struktur tententu yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Struktur Kagan mengharuskan siswa untuk bekerja secara interdependen di kelompok-kelompok kecil dan ditandai oleh reward kooperatif dan bukan reward individual.
Tabel 1. Perbandingan Pendekatan Group Investigation dan Pendekatan Struktural
Pendekatan Unsur Group Investigation Pendekatan Struktural
Tujuan Kognitif Informasi akademik tingkat tinggi dan keterampilan inkuiri Informasi akademik sederhana
Tujuan Sosial Kerja sama dalam kelompok kompleks Ketermpilan kelompok dan sosial
Struktur Kelompok Kelompok belajar homogeny dengan 5-6 orang anggota Bervariasi berdua, bertiga, kelompok dengan 4-6 orang anggota
Pemilihan Topik Biasanya siswa Biasanya guru
Tugas Utama Siswa menyelesaikan inkuiri kelompok Siswa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan baik sosial maupun kognitif
Penilaian Menyelesaikan proyek dan membuat laporan, dapat menggunakan tes esai Bervariasi
Pengakuan Lembar pengakuan dan publikasi lain Bervariasi
Sumber : Trianto (2009 : 79).
2. Group Investigation Sebagai Model
Kegiatan belajar mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam dunia pendidikan. Bisa diartikan bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan siswa. Untuk mencapai kondisi yang menjadikan siswanya belajar, maka diperlukan suatu model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola (tahapan kegiatan guru dan siswa dalam peristiwa pembelajaran/syntax) pembelajaran tertentu, dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru-siswa (Kartimi dalam Suwara, 2007).
Menurut Sharans (1992) group investigation merupakan model pembelajaran holistik yang dapat didefinisikan sebagai rative pembelajaran kolaborasi daripada metode pembelajaran kooperatif (bandingkan Sharan & Sharan 1994; Vähäpassi 1998). Group investigation merupakan model kolaborasi untuk instruksi kelas dan belajar sekolah yang mengintegrasikan interaksi dan komunikasi dalam ruang kelas dengan proses penyelidikan akademik (Sharan & Sharan 1992, ix). Investigasi kelompok dapat didefinisikan dalam istilah-istilah seperti tujuan paralel, tanggung jawab untuk kolaborasi, masalah otentik, keahlian bersama dan diskusi dialogis. Dalam Group Investigation siswa mengeksplorasi ide-ide mereka, mengklarifikasi mereka untuk mereka sendiri dan satu sama lain, memperluas dan memodifikasi mereka, dan akhirnya membuat mereka sendiri.
Pada model Group Investigation, siswa diminta untuk menggunakan semua keterampilan interpersonal dan mempelajari dan menerapkannya pada perencanaan tujuan pembelajaran yang spesifik. Mereka mengambil bagian aktif dalam pemeriksaan, mengalami dan memahami topik studi mereka. kesempatan para siswa untuk belajar dengan mengajukan pertanyaan, untuk memperoleh informasi yang relevan dengan pertanyaan-pertanyaan ini dan menginterpretasikan informasi dan pengalaman mereka di Group Investigation dimaksimalkan (Sharan & Sharan 1992). Group Investigation memiliki pengaruh terhadap diskusi siswa di mana mereka menguraikan tantangan, subyek dan mengubah salah satu ide-ide lain, dan dengan demikian mengingat ide-ide menjadi lebih mudah. (Cohen 1984; Sharan & Sharan 1992).
Dalam perencanaan dan pelaksanaan Group Investigation, siswa akan melihat kemajuannya melalui serangkaian enam tahapan yang dilakukan secara. Siswa melakukan berbagai aktivitas di antara seluruh perencanaan kelas, studi individu, perencanaan kelompok, dan kelompok belajar. Untuk memulai penyelidikan, guru seharusnya menyajikan masalah umum secara luas. Penyelidikan mungkin akan lebih dirangsang dengan memilih berbagai sumber teks, buku gambar, film, majalah, dan lain-lain yang tujuannya adalah untuk membantu para siswa untuk melihat apa yang telah mereka ketahui tentang topik serta apa yang tidak diketahui mereka.
Guru memiliki komite pengarah, yang mencakup perwakilan dari semua kelompok. Panitia akan membahas masalah, rencana waktu dan bertindak sebagai badan informatif antara siswa, kelompok dan guru. Peran guru adalah untuk memimpin diskusi pengantar yang pada akhirnya akan mengarah pada menentukan subtopic dan memfasilitasi berbagai aspek yang menarik, dan membantu untuk menemukan bahan-bahan sumber. Guru juga seharusnya membantu dengan kemampuan belajar dan membantu kelompok menjaga norma kelompok dalam kooperasi. Guru adalah koordinator dari presentasi, konduktor dari diskusi umpan balik dan salah satu evaluator dalam perjalanan dan pada akhir proses penyelidikan kelompok. (Sharan, Y. & Sharan, S. 1992, 95)
Shlomo Sharan dan rekan-rekannya telah melakukan lebih dari sepuluh percobaan skala besar pada efektivitas pembelajaran kooperatif dalam penelitian umum dan Group Investigation pada khususnya. Lima dari studi dinilai prestasi siswa baik di tingkat dasar dan menengah. Siswa dari kelas Group Investigation umumnya menunjukkan tingkat yang lebih tinggi prestasi akademik dibanding rekan-rekan mereka diajarkan dengan metode seluruh kelas (Sharan, S. & Shachar 1988; Sharan, S. & Shaulov 1989).
Salah satu penelitian menunjukkan bahwa ada perubahan yang signifikan pada tingkat motivasi selama di kelas yang diajarkan dengan metode Group Investigation dibandingkan dengan siswa yang belajar dengan metode seluruh kelas. Para siswa dari kelas Group Investigation menunjukkan peningkatan besar dalam motivasi mereka untuk belajar sepanjang tahun (Sharan, S. & Shaulov 1992).
Menurut Riyanto (2010: 272-273), Group Investigation memiliki langkah-langkah sebagai berikut;
1) Kemukakan masalah/pertanyaan berdasarkan dari hasil pengamatan.
2) Kegiatan kelompok kooperatif untuk menjawab masalah (pengamatan lebih lanjut atau eksperimen).
3) Melaporkan hasil kegiatan kelompok berupa produk atau presentasi.
4) Penghargaan kelompok
3. Group Investigation sebagai metode
Metode yang digunakan dalam suatu pembelajaran artinya pembelajaran itu lebih menekankan pada pelaksanaan kegiatan. Yael dan Shlomo Sharan (1992) memberikan definisi metode secara ringkas sebagai pembelajaran koperasi yang mengintegrasikan interaksi dan komunikasi dalam ruang kelas dengan proses penyelidikan akademik. Hal ini memungkinkan kelas untuk menjadi sistem sosial yang dibangun di atas kerjasama antara siswa dalam kelompok kecil dan koordinasi antar kelompok di kelas.
Metode Group Investigation bisa diterapkan pada hampir semua cabang pengetahuan manusia dan tidak terbatas pada subjek-subjek yang biasanya disebut “sains”. Group Investigation berasal dari filsafat pendidikan John Dewey (Archabault, 1974; Sharan, 1990; Sharan & Sharan, 1992) yang menekankan bahwa pembelajaran yang bermakna bias dihasilkan melalui tahap-tahap penelitian ilmiah, dimana pengalaman tentang pengetahuan siswa diperoleh. Dalam pandangan Dewey (Sharan, 2008 : 145), penyelidikan atau investigasi terhadap banyak subjek bisa menghasilkan fitur penting dari metode ilmiah dan oleh karenanya bias mendidik siswa dalam semangat dan metode penelitian ilmiah.
F. Implementasi Group Investigation dalam Pembelajaran
Menurut Slavin (2008 :218), dalam group investigation, siswa bekerja melalui enam tahap. Tahap-tahap dan komponen-komponennya dijabarkan dibawah ini;
Tahap 1 : Mengidentifikasi Topik dan Mengatur Murid ke dalam Kelompok
• Para siswa meneliti beberapa sumber, mengusulkan sejumlah topik, dan mengkategorikan saran-saran.
• Para siswa bergabung dengan kelompoknya untuk mempelajari topik yang telah mereka pilih.
• Komposisi kelompok didasarkan pada ketertarikan siswa dan harus bersifat heterogen
• Guru membantu dalam pengumpulan informasi dan memfasilitasi pengaturan
Tahap 2 : Merencanakan Tugas yang akan Dipelajari
• Para siswa merencanakan bersama mengenai;
Apa yang akan dipelajari
Bagaimana kita mempelajarinya?
Siapa yang melakukannya? (pembagian tugas)
Untuk tujuan dan kepentingan apa kita menginvestigasi topik ini?
Tahap 3 : Melaksanakan Investigasi
• Para siswa melakukan informasi, menganalisis data, dan membuat kesimpulan
• Tiap anggota kelompok berkontribusi untuk usaha-usaha yang dilakukan kelompoknya
• Para siswa saling bertukar, berdiskusi, mengklarifikasi, dan mensintesis semua gagasan
Tahap 4 : Menyiapkan Laporan Akhir
• Anggota kelompok menentukan pesan-pesan esesnsial dari proyek mereka
• Anggota kelompok merencanakan apa yang akan mereka laporkan, dan bagaimana mereka akan membuat presentasi mereka
• Wakil-wakil kelompok membentuk sebuahpanitia acara untuk mengkordinasikan rencana-rencana presentasi
Tahap 5 : Mempresentasikan Laporan akhir
• Presentasi yang dibuat untuk seluruh kelas dalam berbagai macam bentuk
• Bagian presentasi tersebut harus dapat melibatkan pendengarnya secara aktif
• Para pendengar tersebut mengevaluasi kejelasan dan penampilan presentasi berdasarkan criteria yang telah ditentukan sebelumnya oleh seluruh anggota kelas.
Tahap 6 : Evaluasi
• Para siswa saling memberikan umpan balik mengenai topik tersebut, mengenai tugas yang telah mereka kerjakan, mengenai kefektifan pengalaman-pengalaman mereka.
• Guru dan murid berkolaborasi dalam mengevaluasi pembelajaran siswa.
• Penilaian atas pembelajaran harus mengevaluasi pemikiran paling tinggi.
Tidak jauh berbeda dengan Slavin (2008), Sharan (2009) yang memaparkan group investigation dalam enam tahap yang secara sederhana dirangkum dibawah ini;
Tahap 1 : Kelas menentukan subtema dan menyusunnya dalam kelompok penelitian
• Memberikan masalah umum
• Berbagai sumber pelajaran
• Membuat Pertanyaan
• Menentukan subtema
• Membentuk kelompok minat
Proses Pembelajaran Peran Guru
Memeriksa pilihan Memimpin diskusi penelitian
Mengaitkan pengetahuan pribadi dengan masalah Menyediakan materi dasar
Memilih pertanyaan-pertanyaan Memfasilitasi kepekaaan terhadap masalah
Menentukan subtema penelitian Mengkordinasikan penyusunan subtema pilihan yang diselidiki
Tahap 2 : Kelompok merencanakan penelitian mereka
• Siswa menfokuskan perhatian kepada perencanaan kooperatif yang akan dicari jawabannya.
• Anggota kelompok memiliki tiga tanggung jawab utama, yaitu 1) Memilih pertanyaan yang akan mereka cari jawabannya; 2) Menentukan sumber-sumber yang mereka perlukan; 3) Berbagi pekerjaan dan menentukan peran-peran.
• Anggota kelompok mendiskusikan gagasan, minat dan pandangan tentang cakupan penelitian mereka secara bersamaan.
• Ketika perencanaan berhasil, mereka menambahkan atau membuang beberapa pertanyaan sambil mengklarifikasi apa yang mereka teliti untuk memilih metode penelitian yang sesuai.
• Guru diperbolehkan menawarkan bantuan bagi yang membutuhkan dan bertanggung jawab untuk membantu kelompok memilih sumber-sumber yang tepat, secara umum peran guru group investigation dapat dilihat pada table 2 dibawah ini;
Proses Pembelajaran Peran Guru
Perencanaan kooperatif Membantu kelompok-kelompok
Membuat pertanyaan Merumuskan rencana realistis
Menjelaskan pemikiran kepada teman sekelompok Membantu menjaga norma kooperatif
Mengantisipasi apa yang akan mereka pelajari Membantu kelompok menemukan sumber-sumber yang tepat
Memilih sumber-sumber yang relevan
Memutuskan apa yang perlu diteliti
Menentukan peran-peran
Sumber : Sharan (2009 : 154)
• Interaksi di antara siswa menentukan pilihan dan keputusan yang membentuk penelitian mereka.
Tahap 3 : Kelompok melakukan penelitian
• Menjalankan rencana baik secara sendiri-sendiri atau berpasangan dengan tugas masing-masing yaitu 1) Menemukan sumber informasi dari berbagai sumber; 2) Menyusun dan mencatat data; 3) Melaporkan temuan-temuan mereka kepada teman sekelompok; 4) Mendiskusikan dan menganalisis temuan-temuan mereka; 5) Memutuskan apakah mereka memerlukan informasi lain; 6) Manafsirkan dan menyatukan temuan-temuan mereka.
• Proses pembelajaran dan peran guru pada tahap ini dapat diringkas sebagai berikut;
Proses Pembelajaran Peran Guru
Menemukan informasi dari beragam sumber Membantu keterampilan meneliti
Membandingkan dan mengevaluasi relevansi sumber Membantu memeriksa sumber-sumber
Menjelaskan, memperluas, dan menyaring pengatahuan, serta membuat informasi Membantu menemukan hubungan baru di antara sumber-sumber
Merumuskan jawaban pertanyaan Membantu menjaga norma-norma interaksi kooperatif
Sumber : Sharan (2009 : 157)
Tahap 4 : Kelompok merencanakan presentasi
• Para anggota kelompok saling member tahu tentang pekerjaan mereka, apa yang mereka pahami dan yang tidak, dan apakah mereka menemukan relevansi dengan subtema umum
• Merencanakan persentasi dengan focus pada; 1) menekankan pada gagasan utama dan kesimpulan penelitian; 2) Setiap orang dalam kelompok mengambil bagian secara aktif dalam presentasi; 3) Memperhatikan waktu lamanya presentasi; 4) Mengajak audien untuk aktif selama presentasi; 5) Memberikan waktu untuk bertanya; 6) Memastikan perlengkapan dan materi yang diperlukan sudah tersedia.
• Proses pembelajaran dan peran guru pada tahap ini dapat diringkas sebagai berikut;
Proses Pembelajaran Peran Guru
Menentukan gagasan utama dari temuan-temuan yang ada Menyusun rencana kelompok
Menjelaskan, membandingkan, mengevaluasi temuan-temuan Bertemu dengan komite pelaksana
Menghubungkan temuan dengan masalah umum Membantu memperoleh materi
Memutuskan bagaimana menyajikan temuan Memastikan bahwa semua anggota kelompok berpartisipasi
Sumber : Sharan (2009 : 159)
Tahap 5 : Kelompok melakukan presentasi
• Kelompok menyajikan esensi temuan-temuannya sedangkan kelompok lainnya menjadi pendengar
• Guru dan siswa menyiapkan lembar evaluasi yang diisi oleh siswa ketika presentasi berlangsung
• Proses pembelajaran dan peran guru pada tahap ini dapat diringkas sebagai berikut;
Proses Pembelajaran Peran Guru
Menunjukan manfaat pengetahuan Mengkordinasi presentasi kelompok
Mengevaluasi kejelasan, daya tarik, dan relevansi presentasi Mengarahkan komentar diskusi siswa
Membuat hubungan baru di antara subtema Membuat aturan-aturan untuk membuat komentar
Mengarahkan penyimpulan diskusi
Menunjukkan hubungan di antara subtema
Sumber : Sharan (2009 : 161)
Tahap 6 : Guru dan siswa mengevaluasi proyek mereka.
• Evaluasi difokuskan pada pengetahuan yang diperoleh selama berlangsungnya proyek itu, dan juga pengalaman investigasi individu atau kelompok
• Guru dan siswa bisa bekerjasama dalam penyusunan tes untuk menilai pemahaman siswa atas gagasan utama dari temuan-temuan yang mereka peroleh dengan meminta tiap-tiap kelompok untuk menyerahkan dua atau tiga pertanyaan berdasarkan pada gagasan utama dari hasil penelitian.
• Proses pembelajaran dan peran guru pada tahap ini dapat diringkas sebagai berikut;
Proses Pembelajaran Peran Guru
Mengevaluasi gagasan hasil penelitian Mengevaluasi pemahaman atas gagasan utama
Mengevaluasi pengetahuan Mengevaluasi pengetahuan atas fakta dan istilah baru
Menggabungkan semua temuan kelompok Mengevaluasi penggabungan semua temuan kelompok
Memperlihatkan prestasi sebagai peneliti dan sebagai anggota kelompok Memfasilitasi refleksi siswa tentang proses dan isi penelitian
Sumber : Sharan (2009 : 163)
G. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas maka untuk mengatasi beraneka ragam persoalan dalam pembelajaran yang semakin rumit, maka pembelajaran behavioristik yang selama ini telah digunakan selama bertahun-tahun, tampaknya tidak mampu lagi menjawab semua persoalan pembelajaran, maka perlu mencari alternatif pembelajaran yang lebih mampu mengatasi semua persoalan pembelajaran yang ada, salah satunya adalah pendekatan konstruktivistik yang telah diuraikan dengan cooperative learning yang salah satunya adalah metode group investigation. Pendekatan ini menghargai perbedaan, menghargai keunikan invidu, menghargai keberagaman dalam menerima dan memaknai pengetahuan serta siswa akan menemukan kebermaknaan belajar sebagai makhluk yang senantiasa berinteraksi dengan manusia dalam kehidupan sosial untuk menemukan sebuah pemahaman dari permasalahan-permasalahan kehidupan dengan struktur ilmu yang telah didapatkan ataupun akan didapatkannya ketika melakukannya pembelajaran tersebut.
Daftar Pustaka
Arends, R.I. (2008). Learning To Teach. Pustaka Pelajar. Jakarta
Dahar, R.W. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta. Erlangga.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Balai Pustaka. Jakarta
Depdiknas. (2006). Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
Passi, A & Vahtivuori, S. (Tanpa tahun). From Cooperative Learning Towards Communalism. Media Education Publication 8 (259-272). Tersedia : http://www.edu.helsinki.fi/media/mep8/passi_vahtivuori.pdf [5 Maret 2011].
Sharan, S. (2009). Handbook of Cooperatif Learning. Imperium. Yogyakarta
Slavin, et.al (1985). Learning to Cooperate, Cooperating to Learn. Plenum Press. New York.
Slavin. (2008). Cooperatif Learning : Teori, Riset, dan Praktek. Penerbit Nusa Media. Bandung
Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Kencana Prenada Media Group. Jakarta
Vähäpassi, A. (Tanpa tahun). Variations of Co-Operative Learning: An Analysis of Four Different Approaches. Tersedia : [5 Maret 2011].
Zingaro.(2008). Group Investigation: Theory and Practice. Tersedia: http://www.danielzingaro.com/gi.pdf [5 Maret 2011].
Tidak ada komentar:
Posting Komentar