A. PENDAHULUAN
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualistis telah mendominasi pendidikan di Amerika serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi dan mendapat tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Dalam belajar kompetitif dan individualistis guru menempatkan siswa pada tempat duduk yang terpisah dari siswa lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, saya ingin agar kamu bekerja sendiri”, dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualistis (Johnson &Johnson, 1994). Proses belajar seperti itu pun bahkan sebagian besar masih digunakan dan terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Belajar kompetitif dan individualistis akan efektif jika disusun dengan baik, juga dapat menjadi salah satu cara alternatif memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualistis, yaitu (a) Kompetisi siswa kadang tidak sehat, sebagai contoh jika seseorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain berharap agar
jawaban yang diberikan salah, (b) siswa berkemampuan rendah akan kurang termotivasi, (c) siswa berkemampuan rendah akan sulit untuk sukses dan semakin tertinggal, dan (d) dapat membuat frustrasi siswa lainnya (Slavin, 1995). Untuk menghindari hal-hal tersebut dan agar siswa dapat membantu siswa lain untuk mencapai sukses, maka salah satu alternatif penyelesaian untuk masalah tersebut adalah dengan mulai menerapkan pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif memberikan suatu kepercayaan kepada diri siswa untuk bekerja secara kolaboratif dalam suatu kelompok kecil, menyelesaikan suatu permasalahan atau mengerjakan tugas bersama. Hal ini berbeda dari pembelajaran kompetitif di mana siswa berkompetisi untuk menjadi yang terbaik, pembelajaran kooperatif juga berbeda dari pembelajaran individual yang menuntut siswa untuk dapat bekerja dan belajar sendiri.
Model pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar-mengajar yang menekankan pada sikap dan perilaku bersama dalam bekerja, membantu di antara sesama dalam suatu struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok. Pada model pembelajaran ini, keberhasilan belajar tidak hanya tergantung dari guru dan kemampuan individu secara utuh, tetapi juga dari pihak yang terlibat dalam pembelajaran ini.
Pada pembelajaran kooperatif, setiap anggota kelompoknya memiliki tanggung jawab untuk menguasai materi yang diberikan oleh guru. Siswa dari kelompok tinggi membantu siswa dari kelompok rendah agar memahami konsep, siswa dari kelompok rendah pun akan berani bertanya pada anggota kelompok agar tidak tertinggal. Hubungan yang positif dan sportif di antara teman juga meningkat, sehingga dapat mengurangi kecemasan dan stress pada siswa dari kelompok rendah. Dengan kata lain model kooperatif ini dapat memberi motivasi dan meningkatkan hasil belajar.
Model pembelajaran yang dapat memadukan belajar kooperatif dan kompetisi dapat menjadi salah satu alternatif pembelajaran untuk mengatasi permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya, salah satu model pembelajaran yang memadukan belajar kooperatif dan kompetisi adalah Teams Games Tournament (TGT). Hal senada diungkapkan oleh Hidayat (2001) dan Slavin (2005) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) menggabungkan suatu kelompok belajar dan kompetisi tim. Berdasarkan hal tersebut, model pembelajaran TGT mengandung pula unsur reinforcement dan permainan yang bisa menggairahkan semangat belajar. Aktivitas belajar yang menggabungkan kelompok belajar kooperatif dengan permainan berupa turnamen akademik, memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, kerjasama, persaingan sehat, dan keterlibatan belajar.
B. PEMBELAJARAN KOOPERATIF TGT
1. Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif menurut Slavin (1995) adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok yang heterogen. Kelompok heterogen terdiri dari campuran kemampuan siswa dan jenis kelamin. Mereka belajar bersama-sama, saling membantu antar satu dengan yang lain dalam belajar atau menyelesaikan tugas kelompok dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya.
Dalam pembelajaran kooperatif, belajar belum dikatakan selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran yang diberikan. Hal ini berarti setiap anggota kelompok harus dapat menyelesaikan semua tugas yang diberikan kepada kelompoknya selama pembelajaran berlangsung. Dengan demikian, pembelajaran kooperatif menyangkut teknik pengelompokan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4-5 orang (Ibrahim, 2000).
Model-model pembelajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis. Hal ini sesuai dengan penjelasan Vygotsky dan Piaget, menekankan pentingnya interaksi dengan teman sebaya melalui pembentukan kelompok belajar. Pada saat siswa berinteraksi dengan teman sebaya, siswa akan mengalami kendala, untuk mengatasi kendala tersebut siswa perlu mengadaptasikan pemahamannya agar sesuai dengan informasi yang diterima. Hal ini dapat dilakukan siswa dengan cara menjelaskan apa yang diketahuinya pada siswa lain, sekaligus menguji kesesuaian pemahamannya. Sebaliknya saat siswa mencoba untuk memahami penjelasan temannya pun, menjadi tertantang untuk menyesuaikan pemahamannya dengan informasi yang diterimanya. Implikasi dari teori Vygotsky dan Piaget ini dikehendakinya susunan kelas berbentuk pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran kooperatif mengajarkan kepada siswa keterampilan kerja sama dan kolaborasi. Keterampilan ini sangat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat dimana banyak orang dewasa sebagian besar dilakukan dalam organisasi yang saling bergantung satu sama lain dan dimana masyarakat secara budaya semakin beragam (Slavin, 1995). Saling membutuhkan antar siswa dengan teman sebayanya akan terbentuk di suatu kelas terlebih lagi pada suatu kelompok belajar terutama pada saat melakukan diskusi. Berbagi materi diskusi, memberikan dukungan dan bantuan antar satu siswa dengan yang lain merupakan ciri dari sikap kooperatif. Mengacuhkan teman, menyimpan materi untuk diri sendiri juga mungkin terjadi dalam suatu kelas dan hal ini merupakan ciri sikap kompetitif. Tidak ada interaksi sama sekali merupakan sikap yang individualistik.
Menurut Johnson dan Johnson (1975) kelas maupun kelompok siswa dengan karakter kooperatif, kompetitif dan individualistik akan menghadirkan suatu iklim kelas.
Tabel 1 : Perbedaan Pembelajaran kooperatif, Kompetitif dan Individualistik
Kooperatif Kompetitif Individualistik
Interaksi tinggi Interaksi rendah Tidak ada interaksi
Hubungan menyukai Hubungan tidak menyukai Tidak ada interaksi
Komunikasi Efektif Tidak ada komunikasi atau misleading komunikasi Tidak ada interaksi
Kepercayaan tinggi Kepercayaan rendah Tidak ada interaksi
Tinggi penerimaan dan suport Rendah penerimaan dan suport Tidak ada interaksi
Tinggi dalam penggunaan bahan bersama dengan siswa lain Rendah dalam penggunaan bahan bersama dengan siswa lain Tidak ada interaksi
Saling berbagi dan membantu Kurang berbagi dan membantu Tidak ada interaksi
Tinggi dalam hubungan emosi antar siswa Rendah dalam hubungan emosi antar siswa Tidak ada interaksi
Tinggi dalam berkoordinasi Rendah dalam berkoordinasi Tidak ada interaksi
Tinggi dalam melatih kemampuan berfikir tingkat tinggi Rendah dalam melatih kemampuan berfikir tingkat tinggi Tidak ada interaksi
Tinggi perbandingan kemampuan dengan yang lain Tinggi perbandingan kemampuan dengan yang lain Tidak ada interaksi
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa sikap kooperatif memiliki keunggulan yang jauh lebih banyak dibanding kompetitif dan individualistik. Tabel tersebut juga memperlihatkan bahwa pembelajaran yang dilakukan secara kooperatif akan memunculkan tidak hanya keberhasilan komponen kognitif tetapi juga banyak memunculkan keberhasilan dalam komponen afektif.
Menurut Johnson dan Johnson (1975), terdapat empat elemen dasar dalam pembelajaran kooperatif yaitu :
a. Adanya saling ketergantungan yang positif. Dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif, siswa harus mengerti pentingnya saling ketergantungan atau saling membutuhkan.
b. Adanya interaksi tatap muka langsung. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa saling bertatap muka, berhadapan dan berinteraksi secara langsung, sehingga siswa harus mampu mengembangkan komunikasi yang efektif dan efisien.
c. Adanya akuntabilitas individu. Setiap anggota kelompok harus mempelajari materi secara tuntas, yang mana dalam hal ketuntasan belajar, belajar kooperatif tidak berbeda dengan pembelajaran biasa. Ketuntasan dalam pembelajaran kooperatif sangat penting guna pemahaman terhadap tingkat kemampuan belajar siswa.
d. Adanya keterampilan menjalin hubungan interpersonal. Keterampilan sosial dalam pembelajaran kooperatif, seperti tenggang rasa, bersikap sopan, berani mengemukakan pendapat dan mempertahankan ide, serta berbagai keterampilan sosial lainnya sengaja dilatihkan.
Slavin (1995) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki sejumlah karakteristik tertentu yang membedakan dengan pembelajaran lain. Karakteristik tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Mengacu kepada keberhasilan kelompok. Keberhasilan kelompok merupakan kemenangan kelompok dalam berkompetisi pada kegiatan pembelajaran, dan keberhasilan ini dicapai bersama oleh semua anggota kelompok.
b. Menekankan peranan anggota. Setiap anggota kelompok memiliki tugas dan fungsi yang jelas, artinya anggota dalam kelompok berperan sebagai pendorong, pendamai, penggerak, pemberi keputusan atau perumus.
c. Mengandalkan sumber atau bahan. Sumber atau bahan yang dipelajari dibagi secara merata untuk setiap anggota kelompok. Bahan pelajaran yang dimaksudkan adalah berupa bahan bacaan atau Lembar Kegiatan Siswa (LKS) yang berkenaan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
d. Menekankan interaksi. Setiap anggota kelompok berinteraksi secara tatap muka dalam kelompok secara terarah dan memanggil teman dengan menyebut nama.
e. Mengutamakan tanggung jawab individu. Kemenangan atau keberhasilan kelompok bergantung kepada hasil belajar individu terhadap pemahaman materi pelajaran. Setiap anggota kelompok membimbing satu sama lain terhadap bahan pembelajaran yang belum dipahami. Setelah semua anggota kelompok memahami bahan pembelajaran, maka anggota kelompok siap untuk melakukan tes pada akhir setiap pertemuan.
f. Menciptakan peluang untuk kemenangan bersama. Setiap siswa memberikan konstribusi kepada kelompoknya berupa nilai hasil belajarnya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara setiap anggota kelompok berupaya memperoleh nilai terbaik.
g. Mengutamakan hubungan pribadi. Semua anggota kelompok perlu bergaul, berkomunikasi satu sama lain dan saling tolong menolong dalam belajar kelompok.
h. Menitikberatkan kepada kepemimpinan bersama. setiap siswa berhak untuk bicara dan memiliki tugas sendiri-sendiri. Guru bertindak sebagai tutor pada setiap waktu pembelajaran dilaksanakan.
i. Menekankan penilaian atau penghargaan kelompok. Penilaian kelompok diberikan sebagai usaha bersama anggota kelompok dan penghargaan kelompok biasanya diberikan apabila suatu kelompok menang atau menjuarai permainan antar kelompok.
Terdapat enam fase atau tahapan utama dalam pembelajaran kooperatif (Arends, 2007). Keenam fase tersebut tergambar dalam Tabel 2.
Tabel 2. Sintaks model pembelajaran kooperatif
SINTAK PERILAKU GURU
Fase 1 Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa
Fase 2 Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Fase 3 Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Fase 5 Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Fase 6 Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
(Arends, 2007)
2. Pembelajaran kooperatif tipe TGT
TGT atau Teams Games Tournament ditemukan pertama kali oleh David De Vries dan Keith Edwards pada tahun 1972 dan dikembangkan oleh Robert Slavin. Johnson dan Johnson (1975) pada bukunya “Learning Together and Alone” juga mengemukakan pembelajaran yang dikenal dengan Intergroup Competition yang sebetulnya jika dikaji langkah-langkah dan aturannya sebetulnya persis sama dengan TGT.
Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan untuk mendukung pelaksanaannya yaitu berupa sintak model pembelajaran TGT: Presentasi Kelas, Kelompok belajar (Kelompok Belajar), Game/Turnamen Akademik, Penghargaan terhadap Kelompok dan Pergeseran atau Bumping.
a. Presentasi Kelas
Pada kegiatan ini guru memperkenalkan materi pelajaran yang akan dibahas, dengan pembelajaran langsung, diskusi, atau dapat menggunakan cara yang lainnya. Hal yang perlu diperhatikan dalam presentasi kelas ini berbeda dengan presentasi kelas biasa, karena presentasi kelas pada pembelajaran kooperatif tipe TGT yang disampaikan hanya menyangkut pokok-pokok materi dan penjelasan tentang teknik pembelajaran yang akan digunakan. Dengan demikian siswa harus memperhatikkan secara cermat selama presentasi kelas berlangsung. Siswa harus menyadari bahwa kecermatannya sangat menunjang untuk mempelajari materi yang disampaikan oleh guru, sehingga dapat mendukung keberhasilan belajar selanjutnya dan pada akhirnya dapat membantu usaha mengumpulkan nilai untuk kelompok mereka.
1) Persiapan Pembelajaran
Pada pembelajaran kooperatif tipe TGT, penyusunan materi pelajarannya dibuat sedemikian rupa dengan maksud agar dapat disajikan dalam: presentasi kelas, belajar kelompok dan turnamen akademik. Bentuk persiapan tersebut dapat dikemas dalam satu perangkat pembelajaran yang terdiri dari Silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, Bahan Pembelajaran, dan Lembar Kerja Siswa (yang akan dipelajari siswa dalam belajar kelompok), Perlengkapan Turnamen (yang akan digunakan dalam turnamen akademik) dan Tes Hasil Belajar yang akan diujikan setelah pembelajaran selesai (post-test).
2) Pelaksanaan Pembelajaran
Perangkat Pembelajaran yang diperlukan :
a) Lembar transparan atau yang lainnya, untuk memuat : Tujuan Pembelajaran dan Materi Pembelajaran.
b) Bahan Pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa.
Kegiatan utama pada tahap ini adalah mempresentasikan di dalam kelas, dengan memberikan pembelajaran langsung dan diskusi. Presentasi pelajaran dibuka dengan menampilkan sesuatu yang dapat menarik perhatian siswa. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu siswa tentang materi yang akan dipelajari dan secara singkat mengulangi keterampilan atau materi pelajaran yang merupakan prasyarat. Setelah itu guru menyajikan materi pokok dengan memberikan contoh-contoh menampilkan secara visual atau dengan memanipulasi data contoh. Untuk mengevaluasi pemahaman siswa dengan jalan memberikan pertanyaan atau soal kepada siswa secara acak dan melanjutkan pada konsep berikutnya dengan segera setelah siswa dapat menangkap ide utamanya. Pada langkah ini sebaiknya guru tidak memberi pertanyaan kepada siswa yang penyelesaiannya memerlukan waktu yang terlalu panjang.
b. Belajar Kelompok (Kelompok Belajar)
Sebuah kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT, adalah kelompok belajar yang terdiri dari empat sampai enam siswa dengan kemampuan akademik yang berbeda. Anggota kelompok mewakili strata yang ada, dalam hal kemampuan akademik, jenis kelamin atau ras dan suku. Fungsi utama dari sebuah kelompok adalah untuk memberi kepastian bahwa semua anggota kelompok telah belajar, yang lebih khusus lagi bahwa fungsi sebuah kelompok adalah untuk menyiapkan anggotanya supaya dapat mempelajari bahan pembelajaran dan LKS serta dapat mengerjakan latihan soal dengan baik. Setelah presentasi kelas kegiatan kelompok pada umumnya adalah berdiskusi antar anggota, saling membandingkan jawaban atas tugas yang diberikan, memeriksa dan mengoreksi pekerjaan sesama anggota satu kelompok.
Kelompok merupakan komponen terpenting dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT. Penekanannya terletak pada anggota kelompok, yaitu untuk melakukan sesuatu yang terbaik bagi kelompoknya dan dalam memberikan dukungan untuk meningkatkan kemampuan akademik anggotanya selama belajar. Kelompok memberikan perhatian dan penghargaan yang sama terhadap setiap anggotanya hingga setiap anggota merasa dihargai.
1) Penempatan Siswa Dalam Kelompok (Kelompok Belajar)
Berikut ini cara-cara untuk menentukan anggota kelompok, diantaranya:
a) Menentukan Peringkat Siswa
Untuk menentukan anggota suatu kelompok belajar diperlukan informasi tentang peringkat siswa. Menentukan peringkat siswa dalam suatu kelas yaitu dengan jalan mencari informasi tentang skor kemampuan awal siswa. Skor awal siswa ini dapat diperoleh dari skor rata-rata nilai siswa pada tes sebelumnya, atau nilai raport siswa. Siswa diurutkan dengan cara menyusun peringkat dari yang berkemampuan akademik tinggi sampai dengan siswa yang mempunyai kemampuan akademik rendah. Apabila guru mengalami kesulitan untuk menyusun peringkat siswa dengan tepat, maka guru dapat menggunakan informasi lainnya mengenai siswa yang akan ditetapkan peringkatnya asalkan informasi tersebut dapat menggambarkan kedudukan siswa di dalam suatu kelas.
b) Menentukan Jumlah Kelompok
Setiap kelompok yang akan dibentuk, mempunyai anggota terdiri dari empat sampai enam orang siswa. Sebagai pedoman yang dapat digunakan untuk menentukan jumlah kelompok yaitu dengan memperhatikan banyak anggota setiap kelompok dan jumlah siswa yang ada dalam kelas tersebut.
c) Penyusunan Anggota-Kelompok
Dalam menyusun anggota kelompok ditentukan atas dasar susunan peringkat siswa yang telah dibuat. Diusahakan agar setiap kelompok beranggotakan siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik tinggi, sedang dan rendah. Dengan demikian antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain mempunyai rata-rata kemampuan yang seimbang. Penyebaran kondisi siswa pada setiap kelompok juga harus memperhatikan jenis kelamin dan kinerja siswa. Dengan demikian keseimbangan di antara kelompok dapat dicapai.
2) Pelaksanaan Belajar Kelompok
Perangkat pembelajaran yang diperlukan yaitu: Bahan Pembelajaran dan Lembar Kerja Siswa. Kegiatan utama pada tahap ini adalah siswa mempelajari bahan pembelajaran sesuai dengan materi yang sedang dipelajari dan mengerjakan LKS secara berkelompok. Selama belajar kelompok siswa selalu berada dalam kelompoknya, tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan guru dan membantu teman satu kelompok untuk menguasai materi tersebut.
Perlu ditekankan pada siswa bahwa ada aturan dasar dalam belajar kelompok agar tujuan dari belajar kelompok dapat tercapai dengan baik maka siswa harus memperhatikan hal-hal berikut ini :
• Siswa tetap berada dalam kelompok
• Siswa mengajukan pertanyaan pada kelompoknya sebelum pada guru.
• Siswa memberikan umpan balik terhadap ide teman satu kelompok.
• Kegiatan serta aturan-aturan lain yang dianggap penting dan perlu diperhatikan oleh siswa adalah : Siswa mengatur bangku dan duduk sesuai kelompoknya,Siswa diberi waktu untuk memilih nama kelompok masing-masing.
Setiap siswa mengerjakan tugas mengisi LKS secara individu setelah itu mereka mencocokkan jawabannya dengan teman satu kelompoknya. Apabila ada teman satu kelompok yang tidak/belum menemukan jawabannya maka teman yang lain wajib memberi penjelasan.
Siswa menghentikan belajarnya jika semua anggota kelompoknya telah memahami materi yang sedang dipelajari, atau telah menjawab semua soal yang ditugaskan atau waktu yang disediakan untuk mempelajari materi yang ditugaskan telah habis.
Ketika semua siswa sedang belajar bersama kelompoknya, sebaiknya guru berkeliling dalam kelas memperhatikan cara kerja mereka, memberikan bimbingan belajar jika memang diperlukan.
c. Turnamen Akademik
Dalam pembelajaran kooperatif tipe TGT, turnamen akademik haruslah didesain sedemikian rupa dengan tujuan untuk menguji pengetahuan yang telah dicapai setiap siswa. Soal turnamen ini biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang dipelajari. Pada setiap pelaksanaan turnamen akademik, setiap meja turnamen dapat dilakukan oleh tiga atau empat orang siswa yang mempunyai kemampuan akademik yang setara, dan setiap siswa mewakili kelompoknya masing masing.
Perlengkapan yang harus disiapkan untuk turnamen ini adalah berupa lembar soal dengan jawabannya yang telah diberi nomor dan dilengkapi dengan setumpuk kartu benomor untuk pengundian soal/pertanyaan turnamen. Siswa yang memperoleh giliran pertama mengambil satu kartu bernomor, lalu membaca pertanyaan sesuai dengan nomor kartu yang terambil kemudian siswa tersebut harus berusaha menjawab pertanyaan yang ada.
Apabila siswa tersebut tidak bisa menjawab boleh menyatakan lewat dan kesempatan menjawab diberikan pada siswa yang mendapat giliran berikutnya. Apabila siswa yang mendapat giliran pertama tadi berusaha menjawab dan siswa yang mempunyai kesempatan menantang pertama (giliran kedua) mempunyai jawaban yang "berbeda", maka siswa giliran kedua boleh "menantang", jika siswa tersebut tidak menantang maka kesempatan menantang dapat diberikan kepada siswa yang mendapat giliran berikutnya.
Siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar, maka dapat menyimpan kartu bernomor tadi sebagai bukti bahwa siswa tersebut dapat menjawab soal yang diberikan dengan benar. Pada akhir turnamen dilakukan penghitungan kartu yang telah dikumpulkan siswa untuk menentukan skor siswa dalam turnamen, penghitungan skor tersebut dilakukan sesuai dengan aturan pemberian skor dalam pembelajaran kooperatif TGT.
Turnamen akademik dalam pembelaiaran kooperatif TGT terjadi pada saat berlangsungnya permainan ini. Biasanya turnamen diselenggarakan pada setiap akhir minggu atau setelah guru memberikan presentasi kelas dan semua siswa dan kelompoknya telah berlatih dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Setiap siswa yang mempunyai kemampuan akademik setara dan mewakili kelompok yang berbeda bersaing untuk mendapatkan nilai maksimal dan berusaha untuk menyumbangkan bagi kelompoknya.
KELOMPOK A
KELOMPOK B KELOMPOK C
Gambar 1. Penempatan siswa dalam kelompok meja turnamen
Untuk menggambarkan hubungan antara kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen dan meja-meja turnamen dengan anggota yang homogen seperti yang terlihat dalam illustrasi pada Gambar 1.
Gambar tersebut menunjukkan bagaimana menempatkan siswa pada setiap kelompok dalam suatu turnamen atas dasar rangking kemampuan awal siswa. Meja turnamen-1 adalah meja tempat berkompetisi siswa dengan kemampuan awal tertinggi dalam kelompok, sebagai meja turnamen maka meja ini adalah meja turnamen yang mempunyai tingkatan paling tinggi dalam permainan ini. Meja turnamen-1 lebih tinggi tingkatannya apabila dibandingkan dengan meja turnamen-2, begitu pula meja turnamen-2 tingkatannya lebih tinggi bila dibandingkan dengan meja turnamen-3. Meja turnamen-4 adalah meja turnamen yang mempunyai tingkatan paling rendah diantara semua meja turnamen tadi.
Setelah turnamen selesai selanjutnya dilakukan penghitungan skor dimana guru melakukan pengaturan kembali posisi siswa untuk turnamen berikutnya. Siswa pemenang (memperoleh skor tertinggi) pada setiap meja turnamen posisinya dinaikkan atau digeser satu tingkat ke meja turnamen yang mempunyai tingkatan yang lebih tinggi dari meja semula, sedangkan siswa yang memperoleh skor terendah posisinya diturunkan satu tingkat pada meja turnamen yang mempunyai tingkatan lebih rendah dari meja semula.
Siswa yang mempunyai skor paling tinggi pada meja turnamen yang tingkatannya tertinggi, posisinya tidak dapat digeser lagi. Seperti halnya pada siswa yang mempunyai skor tertinggi tadi, maka siswa yang mempunyai skor terendah pada meja dengan tingkatan terendah posisinya tidak dapat digeser lagi. Perubahan posisi ini dilakukan terus menerus pada setiap turnamen dilaksanakan, hingga pada akhirnya posisi siswa berada pada meja yang sesuai dengan kinerja mereka.
a) Penetapan Siswa pada Meja Turnamen
Satu meja turnamen terdapat tiga atau empat siswa yang bertanding atau berkompetisi dengan kemampuan yang seimbang. Berkemampuan seimbang di sini dimaksudkan agar turnamen dapat berjalan sesuai dengan tujuan dari pembelajaran ini.
Tabel 3. Contoh Penetapan Siswa dalam Kelompok dan pada Meja Turnamen
(16 siswa, 4 kelompok, 4 siswa pada meja turnamen)
NO NAMA SISWA
(dlm rangking) KELOMPOK MEJA SISWA PADA TURNAMEN KE
1 2 3 4 5 6 7
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16 A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
M
N
O
P Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Sedang
Rendah
Rendah
rendah
Rendah Biru
Biru
Biru
Biru
Kuning
Kuning
Kuning
Kuning
Merah
Merah
Merah
Merah
Hijau
Hijau
Hijau
Hijau
Setiap siswa adalah sebagai wakil dari kelompok yang berbeda. Untuk menetapkan banyak anggota setiap meja turnamen sebaiknya memperhatikan banyaknya kelompok yang terbentuk. Apabila banyak kelompok merupakan kelipatan dari banyak anggota kelompok, maka penempatan siswa pada meja turnamen akan menjadi lebih mudah.
Barangkali yang perlu diperhatikan adalah bahwa nomor-nomor yang menunjukkan tingkatan meja turnamen hanya ada pada catatan guru, sehingga siswa tidak tahu secara tepat bagaimana penempatan meja turnamen tersebut dilakukan dan dimeja tingkatan berapa mereka bertanding. Nomor meja turnamen dapat diganti dengan nama huruf atau nama sesuatu benda, misalnya diberi nama "warna" : meja merah, biru, hijau dan sebagainya atau diberi nama "bunga" misalnya : melati, mawar, kemuning atau yang lainnya.
b) Pelaksanaan Turnamen Akademik
Untuk melaksanakan turnamen akademik, perangkat turnamen yang diperlukan yaitu :
• Lembar pertanyaan/ soal
• Lembar kunci/ jawaban
• Lembar pencatatan skor
• Satu set kartu bernomor
Kegiatan utama dalam pelaksanaan turnamen akademik ini adalah kompetisi pada meja turnamen. Setiap meja turnamen diikuti oleh tiga sampai empat siswa yang bertanding dengan kemampuan seimbang. Pada awal turnamen (tanpa sepengetahuan siswa) ditetapkan meja turnamen bagi setiap siswa, dengan demikian siswa tidak tahu meja turnamen mana yang mempunyai tingkatan tertinggi dan meja turnamen mana yang mempunyai tingkatan terendah. Turnamen dapat dilaksanakan setelah semua siap, seluruh peserta telah duduk pada meja turnamen dan dipastikan telah memperoleh kelengkapan untuk turnamen. Putaran pada satu meja turnamen dengan tiga orang peserta adalah seperti yang tertulis pada bagan perputaran di bawah ini.
Pemain Pertama
Pemain kedua Pemain ketiga
Gambar 2. Perputaran pemain dalam turnamen akademik
Aturan permainan seperti digambarkan pada Gambar 2 di atas dan penjelasannya dan gambar tadi adalah sebagai berikut: setelah kartu bernomor dikocok, pemain pertama mengambil soal yang sesuai dengan nomor kartu yang diambil dan selanjutnya membaca dengan suara keras (tujuannya adalah agar terdengar oleh kedua pemain lainnya yang berada dalam satu meja) dan pemain pertama tadi harus mencoba untuk menjawab, jika jawaban pemain pertama ini salah tidak dikenakan hukuman. Perlu ditambahkan bahwa apabila isi dari pertanyaan dalam turnamen ini berupa soal-soal maka semua pemain harus mencoba untuk mengerjakan soal tersebut, sehingga mereka slap untuk menantang apabila ada kesempatan.
Setelah pemain pertama memberikan jawabannya, maka pemain kedua berhak untuk menantang (apabila mempunyai jawaban yang berbeda dari pemain yang pertama) atau kalau tidak menantang boleh menyatakan lewat. Apabila pemain kedua menyatakan lewat maka sekarang yang mempunyai kesempatan untuk menantang adalah pemain ketiga, ini pun kalau siswa mempunyai jawaban berbeda dari pemain pertama dan kedua. Apabila semua pemain telah menjawab, menantang atau menyatakan lewat maka sekarang pemain ketiga mencocokkan kunci jawabannya, dan membacanya dengan suara keras agar terdengar oleh kedua pemain lainnya.
Pemain yang menjawab benar berhak untuk menyimpan kartu bernomor tadi, jika pemain penantang (pemain kedua dan ketiga) memberikan jawaban yang salah, maka mereka mendapatkan hukuman dengan mengembalikan kartu yang diperoleh pada putaran sebelumnya. Apabila dari ketiga pemain tersebut tidak ada yang menjawab benar maka kartu bernomor tadi dikembalikan pada tempat semula.
Putaran berikutnya para pemain berganti giliran (berputar searah jarum jam), sekarang yang mendapat giliran pertama adalah pemain kedua dan pemain giliran kedua adalah pemain ketiga dan seterusnya. Seperti pada putaran pertama tadi yang berhak untuk membacakan pertanyaan adalah pemain yang mendapat giliran pertama, dan sebagai pembaca kunci jawaban adalah pemain terakhir, sedangkan sebagai penantang pertama dan seterusnya adalah pemain berikutnya yang berada pada posisi tempat duduk yang berlawanan dengan arah putaran jarum jam.
Permainan terus berlanjut hingga waktu turnamen berakhir atau kartu bernomor telah habis. Pada akhir turnamen seluruh pemain menghitung jumlah perolehan kartu dan mencatat skor yang didapat pada lembar pencatatan.
Semua siswa dalam meja turnamen yang berbeda, bermain pada saat yang sama, sementara itu guru mengawasi dengan berjalan dari satu meja turnamen ke meja turnamen yang lain. Hal ini untuk meyakinkan bahwa semua siswa telah berturnamen dengan benar serta mengecek kebenaran soal atau jawabannya. Berikut ini akan diberikan contoh tabel menurut Slavin (1995) sebagai patokan untuk menentukan skor yang dimenangkan siswa pada setiap tumamen yang diselenggarakan.
Tabel 4. Game score sheet
Tabel : …………….. Round : ………………….
PLAYER TEAM GAME 1 GAME 2 GAME 3 DAY’S TOTAL TOURNAMENT
POINTS
M Giants 5 7 - 12 20
R Geniuses 14 10 - 24 60
D B. Bombs 11 12 - 23 40
Misalkan dalam suatu turnamen, sebuah meja turnamen berisi tiga siswa yang dalam kompetisinya tidak memperoleh skor seri, maka siswa yang paling banyak mengumpulkan kartu mendapatkan skor 60, siswa yang berada pada posisisi kedua memperoleh skor 40 dan yang ketiga mendapatkan skor 20 seperti yang tercantum di atas. Pedoman selanjutnya menurut Slavin (1995) adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Calculating tournament points (for a four-player game)
PLAYER NO TIES TIES FOR TOP TIE FOR MIDDLE TIE FOR LOW 3-WAY TIE FOR TOP 3-WAY TIE FOR LOW 4-WAY TIE TIE FOR LOW & HIGHT
Top scorer 60 50 60 60 50 60 40 50
High mid. Scorer 40 50 40 40 50 30 40 50
Low mid. Scorer 30 30 40 30 50 30 40 30
Low scorer 20 20 20 30 20 30 40 30
Tabel 6. Calculating tournament points (for a three-player game)
Player No tiles Tie for Top scorer Tie for Low scorer 3- Way Tie
Top scorer 60 50 60 40
Middle scorer 40 50 30 40
Low scorer 20 20 30 40
Tabel 7. Calculating tournament points (for a three-player game)
PLAYER NO TIES TIED
Top scorer 60 40
Low scorer 20 40
d. Penghargaan Kelompok
Pada setiap akhir turnamen dilakukan penghitungan skor, ini dimaksudkan untuk menentukan kelompok mana yang memperoleh nilai tertinggi. Untuk kelompok yang memperoleh nilai rata-rata mencapai kriteria tertentu maka diberikan penghargaan berupa sertifikat atau bisa juga yang lainnya. Berikut ini diberikan contoh lembar rangkuman pencatatan skor yang sudah diisi menurut Slavin (1995) seperti yang tertera sebagai berikut ini :
Tabel 8. Team summary sheet
Team Name : GENIUSES
TEAM MEMBERS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
I 60 20 20 40
R 40 40 20 60
V 50 20 40 60
D 60 60 20 40
TOTAL TEAM SCORE 210 140 160 200
TEAM AVERAGE 52.5 35 25 50
TEAM AWARD Super Team Good Team
Bagi kelompok yang memperoleh skor tertentu dapat diberikan predikat misalnya : Good Team, Great Team dan kelompok yang memperoleh skor tertinggi diberikan predikat Super Team. Pemberian penghargaan ini dimaksudkan untuk memberikan rangsangan bagi siswa untuk lebih giat dalam belajar, agar pada turnamen berikutnya dapat memperoleh nilai yang baik hingga dapat menyumbang skor bagi kelompokya.
a) Pelaksanaan Penghargaan Kelompok
Perangkat yang perlu disiapkan untuk melaksanakan penghargaan kelompok : Hasil pencatatan skor, Lembar rangkuman skor, Sertifikat atau yang lainnya
pada tahap ini kegiatannya dilakukan oleh guru, yaitu untuk menghitung skor yang diperoleh kelompok serta membagikan sertifikat sesuai dengan predikat yang diberikan. Kriteria penghargaannya adalah sebagai berikut
Tabel 9. Kriteria Penghargaan Kelompok
NILAI PENGHARGAAN
Nilai ≥ 50 Super Team
45 ≤ Nilai < 50 Great team
40 ≤ Nilai < 45 Good Team
e. Bumping (pergeseran)
Setelah turnamen pertama dilaksanakan, selanjutnya dilakukan pergeseran posisi (bumping) untuk setiap siswa pada meja turnamen. Bumping ini selalu dilakukan setiap selesai dilaksanakannya turnamen akademik, untuk mengatur posisi siswa pada meja turnamen dalam kompetisi berikutnya. Pergeseran posisi tersebut dilakukan berdasarkan skor yang diperoleh siswa pada turnamen yang telah dilaksanakan (skor siswa ditulis pada lembar pencatatan skor).
Pada intinya dilakukannya bumping ini adalah untuk menggeser (menempatkan) siswa yang memenangkan turnamen ke meja turnamen dengan tingkatan yang lebih tinggi sedangkan siswa yang kalah digeser pada meja turnamen yang mempunyai tingkatan lebih rendah dari meja turnamen semula. Untuk lebih jelasnya cara untuk melakukan pergeseran pemain, dapat dilihat seperti Gambar 3 berikut ini :
Penjelasan dari gambar di atas adalah sebagai berikut :
a) Bagi siswa yang skornya tertinggi posisinya bergeser naik (kemeja tumamen dengan tingkatan lebih tinggi), sedangkan yang skornya terkecil) digeser turun (ke meja turnamen dengan tingkatan lebih rendah).
b) Bagi siswa yang memperoleh skor sedang (middle scorer) tetap berada pada meja turnamen semula.
Meja-1
Tertinggi
Skor terendah Pemenang
Meja 2
Skor terendah Pemenang
Meja 3
Skor terendah Pemenang
Meja 4
Skor terendah Pemenang
Gambar 3. Bumping
c) Apabila terdapat dua siswa yang mempunyai skor sama maka untuk menentukan pemenangnya, dilakukan dengan cara diundi.
d) Bumping ini dilakukan sebelum turnamen selanjutnya dimulai, sehingga para pemain yang bertanding telah diatur sedemikian rupa sesuai dengan perolehan skor pada turnamen sebelumnya.
C. PENUTUP
Model pembelajaran kooperatif tipe TGT merupakan gabungan belajar kooperatif dan kompetitif sehingga tercipta turnamen akademik, model pembelajaran koooperatif TGT dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa, yang meliputi :
1. aspek pencapaian akademik
2. aspek sikap dan perilaku toleransi ( altruisme yaitu berkorban untuk
membantu teman yang lemah, self esteem (rasa harga diri) yaitu
mengangkat harga diri siswa yang lemah)
3. aspek keterampilan-keterampilan sosial (mainstream yaitu memelihara atau
menjaga hubungan komunikasi atar teman)
Dengan adanya belajar kooperatif dalam tipe TGT ini, terutama melalui kegiatan diskusi secara berkelompok akan menumbuhkan saling ketergantungan positif antar anggota kelompok, mengembangkan tanggung jawab, dan keterampilan sosial lainnya. Kegiatan yang kompetitif melalui turnamen akademik dalam tipe TGT ini, memberikan motivasi dan kepercayaan diri bagi siswa untuk positif dan sportif dalam meningkatkan kompetensinya melalui kolaborasi yang teratur.
Daftar Pustaka
Hidayat, K. (2001). Active learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: Yappendis.
Ibrahim, M. (2000). Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : UNESA University Press.
Isjoni. 2007. Cooperative learning efektifitas Pembelajaran Kelompok. Bandung: Alfabeta.
Johnson, D.W. and Johnson, R.T. (1975) Learning Togenther and Alone. Cooperation, Competition, and Individualization. New Jersey: Prentice Hall.
Slavin, R.E. (2005). Cooperative Learning : Toeri, riset dan Praktik. (terjemahan : Nurulita Yusron). Bandung : Nusa Media.
Trianto, M.Pd (2009). Mendesain Model pembelajaran Inovatif Progresif. Surabaya: Prenada Media
Yasa Doantara (2008). Pembelajaran Kooperatif tipe Team Games Tournament. Tersedia [online] http://ipotes.wordpress.com/2008/05/11/pembelajaran-kooperatif-tipe-teams-games-tournaments-tgt/. 15 April 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar