COOPERATIVE LEARNING
STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD)
A. Pembelajaran Kooperatif
Salah satu prinsip penting dari psikologi pendidikan menyatakan bahwa peran guru tidak semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam pikirannya. Hal ini sesuai dengan hakekat konstruktivis yang disampaikan oleh Piaget dan Vigotsky. Hakekat dari teori konstruktivis adalah bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Guru dapat memberikan tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut (Nur, 2004).
Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis salah satunya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut Muslimin dkk (2000), pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan kerjasama antarsiswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan menemukan dan memahami konsep yang sulit apabila mereka saling berinteraksi dan berdiskusi dengan temannya. Hakikat belajar sosial dan belajar teman sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Siswa dihadapkan pada proses berpikir teman sejawat. Metode belajar teman sejawat menjadikan hasil belajar terbuka untuk seluruh siswa, dan menjadikan proses berpikir siswa lain terbuka untuk seluruh siswa. Pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu membuat mereka belajar sama baiknya (Slavin, 2008).
Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dengan cara siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri 3 sampai 5 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, dilihat dari kemampuan, jenis kelamin, suku/ras dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan belajar (Trianto, 2007).
Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi
siswa dengan pengalaman sikap kepemimpinan dan membuat keputusan dalam kelompok. Menurut Eggen (1996), pembelajaran kooperatif merupakan sebuah strategi pengajaran yang melibatkan siswa bekerja secara berkolaborasi untuk mencapai tujuan bersama.
Pembelajaran kooperatif dapat digunakan sebagai metode atau sebagai model pembelajaran. Terdapat 6 tahap/ fase dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif. Adapun tahap-tahap atau fase yang dilalui dapat dilihat pada Tabel berikut.
FASE KEGIATAN GURU
I Menyampaikan tujuan dan memotivasii siswa Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa
II Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan melakukan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
III Mengorganisasi siswa ke dalam kelompok kooperatif Guru membentuk kelompok belajar dan mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar
IV Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas belajar
V Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar kelompok setelah masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
VI Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk memberikan penghargaan kelompok
Sumber : Trianto, 2007
B. Unsur-Unsur Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif bukan sekedar siswa belajar dalam kelompok. Ada unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakannya dengan pembelajaran kelompok biasa. Pelaksanaan prosedur pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan guru mengelola kelas dengan lebih efektif.
Roger dan David Johnson (dalam Lie, 2000) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dikatakan cooperative learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, terdapat 5 unsur model pembelajaran kooperatif yang harus diterapkan, yaitu: 1) Saling ketergantungan positif; 2) Tanggung jawab perseorangan; 3) Tatap muka; 4) Komunikasi antar anggota; 5) Evaluasi proses kelompok.
1. Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan ini yang disebut dengan saling ketergantungan positif. Saling ketergantungan positif menuntut menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesame siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Saling ketergantungan positif dapat diwujudkan melalui: a. saling ketergantungan pencapaian tujuan, b. saling ketergantungan dalam penyelesaian tugas, c. saling ketergantungan bahan/sumber belajar, d. saling ketergantungan peran, e. saling ketergantungan memperoleh penghargaan.
2. Tanggung jawab perseorangan
Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugas kooperatif. Guru yang efektif dalam melaksanakan pembelajaran kooperatif akan membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri, agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
3. Tatap muka
Pembelajaran kooperatif menuntut siswa dalam kelompok untuk saling bertatap muka, melakukan dialog antar siswa, dan juga dengan guru. Interaksi ini memungkinkan siswa dapat saling bertukar informasi, gagasan dan menjadi sumber belajar bagi semua siswa. Hasil pemikiran kelompok akan menjadi lebih baik, dari pada hasil pemikiran dari satu orang saja. Selain itu, akan timbul rasa saling pengertian antar anggota kelompok, dan sikap menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan dan mengisi kekurangan masing-masing.
4. Komunikasi antar anggota
Unsur ini membekali siswa dengan berbagai keterampilan berkomunikasi. Sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, guru perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. Siswa mempunyai kemampuan yang beraneka ragam, tidak setiap siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara. Keberhasilan suatu kelompok bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan, serta kemampuan anggota untuk menyampaikan pendapatnya. Komunikasi yang terbangun juga berhubungan erat dengan keterampilan sosial, seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri, dan sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi.
5. Evaluasi proses kelompok.
Guru perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerjasama siswa agar untuk pelaksanaan selanjutnya dapat lebih efektif. Waktu untuk evaluasi tidak harus setiap kali ada kerja kelompok, tetapi bisa dilakukan selang beberapa waktu atau setelah beberapa kali pembelajaran. Format evaluasi bisa bermacam-macam, bergantung pada tingkat pendidikan siswa.
C. Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
STAD (students teams achievement divisions) dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawan dari Universitas John Hopkins. STAD dipandang sebagai tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dari model pembelajaran kooperatif. STAD telah digunakan dalam berbagai mata pelajaran, mulai dari Matematika, bahasa, seni, sampai dengan ilmu sosial dan ilmu pengetahuan ilmiah. STAD sangat cocok untuk mengajarkan konsep pada bidang studi yang telah terdefiniskan dengan jelas, misalnya matematika, geografi, kemampuan peta, dan konsep-konsep ilmu pengetahuan ilmiah (Slavin, 2008).
Gagasan utama dari STAD adalah untuk memotivasi siswa agar dapat saling mendukung dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Para siswa harus saling mendukung teman satu timnya untuk bisa melakukan yang terbaik, menunjukkan norma bahwa belajar itu suatu hal penting, berharga dan menyenangkan. Para siswa bekerjasama dengan teman satu timnya, menilai kekuatan dan kelemahan untuk saling membantu agar berhasil dalam kuis.
Slavin (2008) menyatakan bahwa dalam STAD, para siswa dibagi dalam tim belajar yang terdiri atas empat orang yang berbeda tingkat kemampuan, jenis kelamin, dan latar belakang etniknya. Guru menyampaikan pelajaran, kemudian siswa bekerja dalam timnya. Selanjutnya, untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah menguasai pelajaran, semua siswa mengerjakan kuis mengenai materi yang telah diajarkan secara sendiri-sendiri dan tidak diperbolehkan untuk saling membantu. Tanggung jawab individual akan memotivasi siswa melakukan hal terbaik bagi timnya. Skor kuis para siswa akan dibandingkan dengan rata-rata pencapaian mereka sebelumnya (skor awal), dan masing-masing tim akan diberikan skor/poin berdasarkan tingkat kemajuan yang dicapai siswa dibandingkan skor/poin yang dicapai sebelumnya. Skor tim didasarkan pada kemajuan yang di buat anggotanya, hal ini memberikan kesempatan sukses yang sama untuk semua siswa. Tim yang berhasil memenuhi kriteria tertentu akan mendapatkan sertifikat atau penghargaan.
Model pembelajaran kooperatif tipe STAD mempunyai lima tahapan atau langkah-langkah, yaitu: 1. Tahap penyajian materi, 2. Tahap kegiatan kelompok/tim, 3. Tahap tes individu/kuis, 4. Tahap perhitungan skor (skor kemajuan individu), 5. Tahap penghargaan kelompok (rekognisi tim).
1. Tahap penyajian materi
Penyajian materi dilakukan oleh guru, dimulai dari kegiatan pembukaan, penyampaian konsep esensial, pengembangan materi, serta petunjuk pelaksanaan. Penyampaian materi bisa menggunakan pengajaran langsung, atau ceramah-diskusi yang dilakukan oleh guru. Dapat juga melalui presentasi audio-visual atau kegiatan penemuan kelompok (Nur, 2005).
Pada kegiatan ini siswa bekerja untuk menemukan informasi atau mempelajari konsep-konsep. Penyajian materi pada STAD berbeda dari pengajaran biasa, yaitu materi yang disajikan harus secara jelas dan fokus pada unit STAD tersebut. Dengan cara ini, siswa menyadari bahwa mereka harus sungguh-sungguh memperhatikan untuk dapat mengerjakan kuis dengan baik, yang nantinya akan menentukan skor timnya.
2. Tahap kegiatan kelompok/tim
Tim terdiri dari empat atau lima siswa yang mewakili seluruh bagian dari kelas dalam hal kinerja akademik, jenis kelamin, ras dan etnis. Fungsi utama tim adalah memastikan bahwa semua anggota tim benar-benar belajar, untuk mempersiapkan anggotanya untuk dapat mengerjakan kuis dengan baik.
Pada kegiatan tim, setiap tim bertugas menguasai materi pembelajaran, dan membantu anggota tim lainnya untuk menguasai materi/konsep pelajaran. Siswa diberi lembar kerja dan lembar jawaban yang dipakai untuk mengerjakan tugas kelompok. Diskusi kelompok yang berhasil ditandai dengan tingginya interaksi perbincangan ilmiah antar siswa dalam satu kelompok untuk mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, atau menyusun berbagai alternatif pemikiran. Sebelum memulai kerja tim, perlu dibahas peraturan-peraturan tim sebagai berikut.
a. Siswa mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa anggota kelompoknya telah mempelajari materi yang diberikan.
b. Tidak ada satu pun yang boleh berhenti berdiskusi sampai semua anggota kelompok telah menguasai materi.
c. Siswa yang mengalami kesulitan atau belum paham tentang materi, disarankan minta bantuan pada semua anggota timnya, sebelum bertanya kepada guru.
d. Teman satu tim boleh saling berbicara satu sama lain dengan suara pelan dan tidak mengganggu kelompok lain.
Kerja tim merupakan ciri terpenting dalam STAD. Pada kegiatan ini ditekankan kepada semua anggota tim agar melakukan yang terbaik untuk timnya, dan pada tim sendiri agar melakukan yang terbaik untuk membantu anggotanya.Tim memberikan dukungan teman sejawat untuk kinerja akademik yang memiliki pengaruh berarti pada pembelajaran. Selain itu, melalui kegiatan tim dapat menunjukkan adanya saling peduli, toleransi, saling menghargai serta penerimaan dalam tim. Hal ini memiliki pengaruh positif terhadap hasil belajar siswa.
Slavin (2008) menyatakan bahwa derajat keyakinan siswa pada kesuksesan akademik tergantung pada usaha yang dilakukan atau lokus kontrol internal. STAD meningkatkan perasaan para siswa bahwa hasil yang mereka keluarkan tergantung pada kinerja, dan bukan karena keberuntungan. Hal ini yang mendorong siswa untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan juga untuk timnya. Individu/siswa di dalam kelompok kooperatif menggunakan tekanan sosial kepada satu sama lain untuk mencapai prestasi. Sanksi interpersonal berperan sebagai dorongan tanggung jawab yang akan memelihara perilaku yang membantu kelompok untuk sukses.
3. Tahap tes individu/kuis
Pada tahap kuis, guru membagi soal tes dan memberi cukup waktu bagi siswa untuk menyelesaikannya. Pada kegiatan tes/kuis ini, siswa tidak diperbolehkan bekerjasama atau saling membantu antar anggota timnya. Siswa berusaha menunjukkan hasil yang diperoleh secara individu, hal ini menjamin agar siswa secara individual bertanggung jawab untuk memahami materi/konsep yang telah dipelajari.
Setelah kegiatan tes selesai, hasil pekerjaan tiap siswa dikumpulkan untuk diperiksa guru. Apabila waktu cukup tersedia, hasil pekerjaan siswa bisa langsung diperiksa bersama dengan saling menukar lembar jawaban siswa dalam tim dengan tim lainnya, selanjutnya dihitung skor kemajuan siswa dan skor tim.
4. Tahap perhitungan skor (skor kemajuan individual)
Setelah dilakukan tes, dan jawaban siswa diperiksa, kemudian ditentukan nilai peningkatan siswa dan skor tim. Gagasan di balik skor kemajuan individual adalah untuk memberikan kepada tiap siswa tujuan kinerja yang dapat dicapai apabila mereka bekerja lebih giat, dan memberikan kinerja yang lebih baik dari pada sebelumnya. Tiap siswa diberikan skor awal yang diperoleh dari rata-rata kinerja siswa sebelumnya dalam mengerjakan kuis yang sama atau dapat menggunakan hasil nilai terakhir siswa pada tahun sebelumnya. Siswa selanjutnya akan mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat kenaikan skor kuis mereka dibandingkan dengan skor awal siswa (Slavin, 2008).
Perhitungan skor kemajuan siswa dan skor tim dapat dilakukan sesegera mungkin, sehingga dapat digunakan pada kelas selanjutnya. Hal ini akan membuat hubungan antara melakukan tugas dengan baik dengan penerimaan penghargaan dari para siswa, sehingga akan meningkatkan motivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Para siswa mengumpulkan poin untuk tim mereka berdasarkan tingkat skor kuis yang telah dicapai melampaui skor awal yang telah dimiliki.
Tabel 1. Pedoman Pemberian Skor Peningkatan Individu
Nilai Tes Poin Kemajuan
Lebih dari 10 poin di bawah skor awal 5
10 - 1 poin di bawah skor awal 10
Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal 20
Lebih dari 10 poin di atas skor awal 30
Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 30
Sumber : Slavin, 2008
Tujuan dari pemberian skor awal dan poin kemajuan adalah untuk memungkinkan semua siswa memberikan nilai maksimum pada timnya masing-masing, berdasarkan hasil prestasi/kinerja pencapaian siswa sebelumnya. Siswa memahami bahwa cukup adil untuk membandingkan masing-masing siswa dengan tingkat prestasi sebelumnya, karena siswa memiliki tingkat kemampuan dan pengalaman yang tidak sama. Sebelum menentukan poin kemajuan, diperlukan satu salinan nilai tes, yaitu nilai tes awal yang akan dibandingkan dengan nilai yang dicapai dalam kuis untuk menentukan poin kemajuan.
Nilai tim ditentukan dengan mencatat nilai peningkatan dari masing-masing anggota tim pada lembar ringkasan tim. Nilai tim diperoleh dengan membagi nilai total peningkatan tim dengan jumlah anggota tim yang hadir.
5. Tahap penghargaan tim (rekognisi tim)
Tiga tingkat penghargaan diberikan untuk tim, yang didasarkan pada nilai rata-rata tim sebagai berikut.
Tabel 2. Kriteria dan Penghargaan terhadap Nilai Rata-rata Tim
Kriteria Penghargaan
Tim dengan rata-rata skor tim 15 Good Team
Tim dengan rata-rata skor tim 20 Great Team
Tim dengan rata-rata skor tim 25 Super Team
Sumber : Saptono, 2004
Atau dengan kriteria sebagai berikut.
Tabel 3. Kriteria dan Penghargaan terhadap Nilai Rata-rata Tim
Kriteria (rata-rata tim) Penghargaan
15 Tim Baik
16 Tim Sangat Baik
17 Tim Super
Sumber : Slavin, 2008
Untuk memberikan penghargaan tim, guru dapat membuat sertifikat penghargaan sesuai dengan tingkatan pencapaian siswa yang telah dibuat. Penghargaan juga bisa diberikan dalam bentuk hadiah (reward), atau yang paling sederhana memberikan penghargaan secara verbal. Penghargaan yang diberikan guru berfungsi untuk memotivasi siswa dalam bekerja dan belajar, agar prestasi dan kinerjanya semakin meningkat.
D. Pelaksanaan STAD dalam Pembelajaran
Pada pelaksanaan STAD dalam pembelajaran, ada beberapa tahap penting yang harus diperhatikan, diantaranya: tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Pada tahap persiapan terdiri dari kegiatan menyiapkan materi yang akan dibelajarkan dengan STAD, membagi siswa dalam tim dan menentukan skor awal. Sedangkan tahap pelaksanaan terdiri dari 5 langkah kegiatan seperti telah diuraikan di depan, meliputi: 1. Tahap penyajian materi, 2. Tahap kegiatan kelompok/tim, 3. Tahap tes individu/kuis, 4. Tahap perhitungan skor (skor kemajuan individu), 5. Tahap penghargaan kelompok/ rekognisi tim.
Guru perlu menyiapkan materi yang akan dibelajarkan dengan STAD. Secara umum, STAD bisa diterapkan pada semua materi atau konsep Biologi/ Sains. Materi yang dipilih disesuaikan dengan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan tujuan pembalajaran yang akan dicapai. Selain menyiapkan materi, guru juga perlu merancang dan mempersiapkan perangkat pembelajaran yang lainnya. Perangkat pembelajaran yang perlu dipersiapkan diantaranya, Lembar Kerja Siswa atau Lembar Diskusi Siswa, media pembelajaran (apabila dikehendaki akan menggunakan media), lembar penilaian selama proses pembelajaran. Selain soal untuk kuis, guru juga perlu membuat lembar pengamatan untuk aktivitas atau kinerja siswa pada saat pembelajaran.
Membagi siswa ke dalam kelompok/tim juga perlu dilakukan guru pada tahap persiapan. Tim yang dibentuk diupayakan merata dan heterogen, dilihat dari jenis kelamin, suku/ras, dan tingkat prestasi/ kemampuan siswa. Guru yang membagi dan memasukkan siswa ke dalam tim, serta tidak dianjurkan membiarkan siswa memilih sendiri anggota kelompoknya, karena siswa akan cenderung memilih siswa lain yang setara atau yang lebih disukai. Berdasarkan jenis kelamin dan suku/ras, guru dapat membagi siswa secara merata sesuai jumlah yang ada di dalam kelas. Namun demikian, guru perlu mempertimbangkan tingkat prestasi/ kemampuan siswa sebelum memutuskan siswa masuk dalam tim-tim tertentu. Guru dapat membuat urutan peringkat siswa di dalam kelas, mulai dari yang tertinggi sampai yang terendak kinerjanya. Berbagai informasi dapat dikumpulkan dan digunakan untuk membuat peringkat siswa, nilai ujian adalah yang terbaik, tetapi penilaian guru sendiri juga dapat digunakan (Slavin, 2008).
Hal penting lainnya yang harus dipersiapkan guru dalam menerapkan STAD adalah menentukan skor awal pertama. Skor awal mewakili skor rata-rata siswa pada kuis-kuis sebelumnya. Apabila guru mempunyai nilai tiga kali atau lebih kuis, maka skor-skor kuis tersebut dirata-rata sebagai skor awal. Skor awal juga dapat diperoleh dari nilai terakhir siswa dari tahun yang lalu.
Sebelum memulai program pembelajaran kooperatif apapun, akan sangat baik apabila memulai dengan satu atau lebih latihan pembentukan tim. Hal ini dilakukan untuk memberi kesempatan kepada anggota tim untuk melakukan sesuatu yang mengasyikkan dan untuk saling mengenal. Pada kegiatan ini diberikan kesempatan tim untuk menciptakan logo tim, semboyan (yel-yel) tim. Apabila tahap persiapan telah mantap, guru dapat menuju ke tahap pelaksanaan STAD yang terdiri 5 langkah kegiatan seperti telah diuraikan.
Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar individual atau kompetitif (Ibrahim, 2000). Hasil penelitian Nurchasanah (2005) menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered. Pemberian penghargaan atas tim dengan rata-rata peningkatan terbaik pada tiap-tiap pemberian kuis mampu meningkatkan motivasi untuk mengoptimalkan efektifitas pembelajaran kelompok.
Slavin (2008) menemukan bahwa para siswa dalam STAD menunjukkan motivasi yang lebih besar dibandingkan dengan siswa-siswa kelompok kontrol (yang diberi pembelajaran tradisional). Hal ini terjadi karena siswa-siswa dalam STAD merasa bahwa mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan yang terbaik dibandingkan para siswa dalam kelas kontrol. Usaha yang dilakukan akan mengarah kepada kesuksesan dan terdapat tujuan bermakna, yaitu mendapatkan prestasi yang terbaik dalam kelompok.
E. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut.
1. Langkah atau tahapan pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD yaitu: penyajian materi oleh guru, siswa belajar didalam tim yang terdiri 4-5 siswa, pemberian kuis, penghitungan peningkatan skor dan penghargaan tim.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD menjadi salah satu alternatif model yang dapat diterapkan dalam pembelajaran yang dapat memotivasi siswa belajar dan mengubah pembelajaran dari teacher center menjadi student centered.
3. Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD akan berjalan dengan baik apabila guru memperhatikan hal-hal pada tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan antara lain: guru menyiapkan materi, perangkat pembelajaran yang diperlukan, alat penilaian, menyiapkan tim yang heterogen, menyiapkan skor awal, serta melakukan latihan pembentukan tim.
F. DAFTAR PUSTAKA
Ibrahim, M. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Pusat Sains dan Matematika Sekolah, Program Pasca Sarjana UNESA: University Press.
Nurchasanah & Harjono. 2005. Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif STAD Sebagai Upaya Memaksimalkan Implementasi KBK 2004 Pada Mata Pelajaran Kimia di Kelas X SMAN 5 Semarang. (Artikel Penelitian). FMIPA UNNES : Semarang
Nur, M. 2005. Pembelajaran Kooperatif. Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan : Jawa Timur
Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning. (Teori, Riset dan Praktik). Nusa Media : Bandung
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Prestasi Pustaka Publisher : Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar