REVISI MAKALAH
INTERGATED APPROACH
Diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Pengajaran Biologi Sekolah Lanjut yang diberikan oleh Prof.DR.Hj. Sri Redjeki, M.Pd dan DR. Taufik Rahman, M.Pd
Oleh :
HIKMAWATI HANURANI (0907668)
JENTA PUSPARIKI (1004661)
NURMALIAHAYATI (1004693)
PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI SL
SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2011
BAB I
PENDAHULUAN
Tidak dapat dipungkiri bahwa yang turut menentukan sikap, mental, perilaku, kepribadian dan kecerdasan anak adalah pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang diberikan dan dialami serta dilalui mereka sejak kecil. Suatu kegiatan pembelajaran akan sangat bermakna bagi peserta didik, apabila kegiatan pembelajaran tersebut mengutamakan interaksi dan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didiknya, artinya kegiatan pembelajaran yang dilakukan merupakan tempat bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, sehingga tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat terlaksana. Ada kecenderungan selama ini guru mengemas pengalaman belajar siswa terkotak-kotak dengan tegas antara satu bidang study dengan bidang studi yang lainnya, pembelajaran yang memisahkan penyajian mata pelajaran secara tegas akan membuat kesulitan belajar bagi siswa. Di sekolah dasar khususnya di kelas-kelas rendah para siswa lebih menghayati pengalaman belajarnya secara totalitas.
Banyaknya permasalahan yang timbul saat ini dalam kehidupan mengakibatkan banyak materi baru yang diusulkan untuk dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, misalnya masalah kerusakan lingkungan hidup, ilmu kelautan, narkoba, masalah HIV/AIDS, flu burung, pendidikan moral dan budi pekerti, keimanan dan ketakwaan, reproduksi sehat, pendidikan seks, dan lain-lain. Untuk memasukkan hal-hal tersebut menjadi mata
pelajaran tersendiri, tentu tidak mungkin sehingga muatan ilmu pengetahuan dan informasi tersebut harus difusikan dalam mata pelajaran yang melahirkan kurikulum terpadu (integrated curriculum). Dalam pelaksanaan kurikulum ini timbul model pembelajaran terpadu, dengan tujuan agar proses pembelajaran dapat mengakomodasikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta permasalahan yang begitu kompleks dalam masyarakat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Integrated Approach
Istilah integrated approach atau dikenal juga dengan pendekatan terpadu berawal dari konsep ”integrated teaching dan learning” atau ”integrated curriculum approach”. Konsep ini pertama kali dikemukan oleh John Dewey sebagai usaha untuk mengintegrasikan perkembangan dan pertumbuhan siswa dan kemampuan pengetahuannya. Dengan pendekatan ini siswa mengembangkan kemampuan nalar dalam pembentukan pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam kehidupannya. Siswa dapat belajar menghubungkan apa yang telah dipelajarinya dengan yang baru mereka pelajari.
Pendekatan terpadu memiliki istilah-istilah yang sering dipersamakan atau termasuk dalam konteks pembelajaran terpadu diantaranya adalah : integrated teaching and learning, integrated curriculum approach, a coherent curiculum approach, holistic approach dan integrative learning serta tematik (Sriyati, 2008).
• Integrated Teaching and Learning atau Integrated Curriculum Approach.
Pendekatan dalam pengembangan kemampuan anak dalam proses pembentukan pengetahuan berdasarkan interaksi dengan lingkungan dan pengalaman dalam kehidupan.
• Interdiciplinary Curriculum Approach
Memadukan antar materi pelajaran dengan semua aspek perkembangan anak, kebutuhan dan minat anak, serta kebutuhan dan tuntutan lingkungan sosial keluarga
• Thematic Approach
Suatu proses dan strategi yang mengintegrasikan isi bahasa ( membaca, menulis, berbicara, dan mendengar) dan mengaitkannya dengan materi pelajaran yang lain.
• A coherent Curriculum Approach
Pendekatan untuk mengembangkan program pembelajaran yang menyatukan dan menghubungkan berbagai program pendidikan.
• A Holistic Approach
Pengkombinasian aspek estimologi, sosial, psikologi, dan pendekatan pedagogi untuk pendidikan anak, yaitu menghubungkan antara otak dan raga, antara pribadi dan pribadi, antara individu dan komunitas, dan antara domain-domain pengetahuan.
Adapun pendekatan terpadu atau integrated approach (Rustaman, N.Y dkk., 2004) merupakan pendekatan yang memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran. Unsur pembelajaran yang dipadukan dapat berupa konsep dengan proses, konsep dari satu mata pelajaran dengan konsep mata pelajaran lain, atau dapat juga berupa penggabungan suatu metode dengan metode lain. Pemaduan dilakukan dengan menekankan pada prinsip keterkaitan antar satu unsur dengan unsur lain, sehingga diharapkan terjadi peningkatan pemahaman yang lebih bermakna dan peningkatan wawasan karena satu pembelajaran melibatkan lebih dari satu cara pandang. Keterpaduan dalam pendekatan terpadu diciptakan melalui suatu “jembatan” untuk menghubungkan unsur-unsur yang akan dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. Jembatan tersebut dapat berupa tema sentral sebagai focus dari berbagai konsep yang akan ditanamkan, target perilaku atau keterampilan tertentu yang dibutuhkan bukan hanya oleh satu disiplin ilmu, ataupun berupa suatu kegiatan yang melibatkan sebagai konsep, metode, keterampilan. Keragaman unsur yang terlibat akan dapat memperkaya pengalaman belajar siswa. Kegiatan belajar menjadi lebih dinamis dan menarik dan dapat meningkatkan motivasi belajar. Bagi guru, memadukan beberapa unsur dalam satu paket kegiatan belajar akan meningkatkan kreativitas mengajar serta dapat lebih menghemat waktu.
B. Alasan Dilakukannya Integrated Approach
Ada dua alasan perlunya penerapan proses pembelajaran dilakukan dengan memadukan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain, atau satu mata pelajaran dengan bahan ajar tertentu, sehingga menjadi satu menu yang akan disajikan dalam proses pembelajaran menurut Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikdasmen, Depdiknas tahun 2004 (Sriyati, 2008), yaitu:
1. Alasan Empirik
Pada hakekatnya pengalaman hidup ini sifatnya kompleks dan terpadu, artinya menyangkut berbagai aspek yang saling terkait. Misalnya pergi belanja ke pasar, merupakan kegiatan kompleksitas pengalaman hidup yang tidak hanya bersifat sosial (berhubungan dengan orang lain), ekonomi (memenuhi kebutuhan rumah tangga), tetapi juga matematika (terkait dengan hitung menghitung) dan biologi (berkaitan dengan sayur-sayuran dan lauk pauk yang akan dibeli) dan yang lainnya. Proses pembelajaran di sekolah hendaknya dapat dilaksanakan dengan model pengalaman hidup dalam masyarakat, karena proses pembelajaran yang demikian sesuai dengan realita kehidupan.
2. Alasan Teoritis Ilmiah
Keadaan dan permasalahan dalam kehidupan terus berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Contoh : ilmu ruang angkasa menjadi lebih terbuka setelah pesawat ruang angkasa dapat mendarat di bulan. Begitu juga teknologi komputer dan informasi yang telah demikian pesat berkembang. Hal ini menuntut bahan ajar di sekolah harus diperkaya dengan muatan-muatan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru.
C. Keunggulan dan Kelemahan Integrated Approach
Pendekatan terpadu memiliki beberapa keunggulan atau kekuatan dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional (Sa’ud, dkk. 2006), diantaranya adalah :
• Mendorong guru untuk mengembangkan kreatifitas, baik bagi guru tersebut maupun bagi siswa.
• Memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi pembelajaran yang utuh, menyeluruh, dinamis dan bermakna sesuai dengan keinginan dan kemampuan guru maupun kebutuhan dan kesiapan siswa.
• Mempermudah dan memotivasi siswa untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan antara konsep, pengetahuan, nilai atau tindakan yang terdapat dalam beberapa pokok bahasan atau bidang studi.
• Menghemat waktu, tenaga dan sarana serta biaya pembelajaran, disamping menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran.
Meskipun pendekatan ini tampak menjanjikan perubahan ke arah kualitas pembelajaran yang lebih baik, pendekatan ini juga memiliki beberapa kelemahan (Sa’ud, dkk. 2006), yaitu:
• Dilihat dari aspek sarana atau sumber pembelajaran, pembelajaran terpadu memerlukan bahan atau sumber informasi yang cukup banyak dan berguna, seperti yang dapat menunjang dan memperkaya serta mengembangkan wawasan dan pengetahuan yang diperlukan.
• Dilihat dari aspek kurikulum, pembelajaran terpadu memerlukan jenis kurikulum yang terbuka untuk pengembangannya.
• Dilihat dari suasana dan penekanan proses pembelajaran, pembelajaran terpadu cenderung mengakibatkan “tenggelamnya” atau pengutamaan salah satu atau lebih mata pelajaran.
Adapun keterbatasan lain dari pendekatan terpadu yang pernah diterapkan di sekolah baik pada saat persiapan maupun pelaksanaan pembelajaran (Rustaman, N.Y. dkk., 2004), yaitu:
a. Menentukan “jembatan” yang bersifat alamiah sehingga keterkaitan antar unsur tidak tampak dipaksakan
b. Struktur kurikulum yang dibatasi oleh catur wulan, seringkali menghambat penentuan fokus untuk mencari keterkaitan antar unsur.
c. Pendekatan ini menuntut cara mengases hasil pembelajaran dengan tingkat variasi tinggi pada saat hampir bersamaan, hal ini dianggap beban yang cukup berat oleh guru.
d. Kurangnya dukungan dari pihak orangtua dan pihak luar sekolah yang seharusnya dapat menjadi narasumber otentik bagi siswa, sehingga siswa mengalami hambatan untuk menjaring pengalaman otentik yang justru menjadi jiwa dari pendekatan ini.
Selain dari pihak guru, dari pihak siswa terungkap juga beberapa permasalahan yang menjadi hambatan bagi pengembangan pendekatan ini yaitu:
a. Seringkali rancangan kegiatan pembelajaran melibatkan terlalu banyak tugas-tugas yang akhirnya terkesan membebani siswa.
b. Fokus atau jembatan kurang jelas sehingga siswa merasa bingung dan gagal memahami keterkaitan antar unsur yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, peran guru tampaknya sangat diperlukan dalam menggiring siswa untuk sampai pada fokus yang telah ditetapkan.
D. Langkah Perencanaan Integrated Approach
Salah satu kunci pembelajaran terpadu yang terdiri atas beberapa bidang kajian adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan siswa mendapat pengalaman belajar yang dapat menghubungkaitkan konsep-konsep dari berbagai bidang kajian, Pendekatan terpadu untuk pelajaran Biologi mengandung makna menghubungkan pelajaran Biologi dengan berbagai bidang kajian. Lintas bidang kajian dalam Biologi-IPA adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu seperti makhluk hidup dan proses kehidupan, energi dan perubahannya, materi dan sifatnya, geologi dan astronomi. Sebenarnya Biologi-IPA dapat juga dipadukan dengan bidang kajian lain di luar bidang kajian IPA namun hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Pada jenjang SMP keterpaduan akan lebih baik bila dibatasi bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian, mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik. Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang dapat menghubungkan antara IPA dengan kajian lain yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Dengan ditentukannya tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek (Sriyati, 2008) yaitu :
1. Peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri.
2. Peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivasi dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya
3. Peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena merek mendengar, berbicara, membaca, menulis, dan melakukan kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya.
4. Memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik
5. Belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru dan dunia nyata.
Adapun syarat yang harus diperhatikan dalam menentukan tema (Rustaman, N.Y., dkk. 2004) apabila seorang guru memutuskan untuk mencoba mengajar dengan pendekatan terpadu adalah:
1. Tema bersifat “fertil” artinya tema tersebut memiliki kemungkinan keterkaitan yang kaya dengan unsur atau konsep lain. Tema yang fertil biasanya berupa pola atau siklus.
2. Tema sebaiknya sudah dikenal oleh siswa sehingga siswa dapat dengan mudah menemukan kebermaknaan dari hubungan antar konsepnya.
3. Tema memberikan banyak kesempatan untuk melakukan eksplorasi dari objek atau kejadian nyata dan dekat dengan lingkungan keseharian siswa sehingga kesempatan untuk memperkaya pengalaman serta keterampilan akan banyak didapatkan.
4. Tema menggambarkan keterkaitan yang logis dan alamiah antar unsurnya.
5. Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak (Karli & Hutabarat, 2007).
Setelah tema ditentukan, langkah selanjutnya adalah membuat perencanaan pembelajaran yang mencakup kegiatan :
1. Pengembangan subtema jika diperlukan
2. Mengidentifikasi target pembelajaran dalam bentuk pengembangan TPK
3. Merancang kegiatan pembelajaran dengan pengalaman belajar yang disesuaikan dengan tema, termasuk merinci pihak yang dapat dilibatkan dalam memberikan pengalaman otentik kepada siswa.
4. Merancang bentuk asesmen untuk mengetahui ketercapaian target pembelajaran.
Keberhasilan pembelajaran terpadu akan lebih optimal jika perencanaan mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Ada berbagai model dalam mengembangkan pembelajaran terpadu dapat dilihat pada alur penyusunan perencanaan pembelajaran terpadu berikut ini (Puskur,2005).
Bagan alur penyusunan perencanaan pembelajaran terpadu ( Puskur, 2005)
E. Model-model Integrated Approach
Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik dan unit tematiknya, Fogarty (1991) mengemukakan 10 model yaitu : 1). Fragmented, 2).Connected, 3). Nested, 4). Sequenced, 5). Shared, 6). Webbed, 7). Threaded, 8). Integrated, 9). Immersed dan 10). Networked. Di bawah ini adalah uraian mengenai masing-masing model (Fogarty, 1991).
1. Model Fragmented (Terpisah)
Model fragmented adalah model pembelajaran konvensional yang terpisah secara mata pelajaran atau model tradisional yang memisahkan secara diskrit masing-masing mata pelajaran seperti Matematika, Sains, Ilmu Sosial, Bahasa dan Seni dengan maksud agar siswa kemampuan atau kecakapan tertentu. Model ini tercapai ketika satu satuan waktu telah ditempuh, misalnya pada satu semester siswa telah menyelesaikan seluruh runtutan kajian atau materi pelajaran yang pada akhirnya seluruh satuan-satuan konsep itu mencapai keutuhan, baik konsep, pemahaman suatu kajian, keterampilan dan nilai.
Keuntungan pembelajaran model ini adalah siswa menguasai secara penuh satu kemampuan tertentu untuk tiap mata pelajaran, ahli dan terampil dalam bidang tertentu. Guru leluasa menentukan kedalaman materi dan prioritas utama dalam materi tersebut. Kekurangannya adalah siswa kurang mampu membuat hubungan atau mengintegrasi satu konsep dengan konsep lain dan siswa dibebani tugas per mata pelajaran. Model ini mengutamakan kemurnian disiplin ilmu tertentu. Model ini lebih cocok untuk tingkat SMA dan Universitas.
2. Model Connected (Keterhubungan)
Model Connected merupakan model dimana dalam setiap mata pelajaran berisi konten yang berkaitan antara topik dengan topik atau konsep dengan konsep dalam satu mata pelajaran. Model ini penekanannya terletak pada perlu adanya integrasi inter bidang studi itu sendiri. Fogarti (1991) menyatakan bahwa di dalam mata pelajaran terdapat isi mata pelajaran yang dikaitkan, misalnya topik dengan topik, konsep dengan konsep, dan ide-ide yang berhubungan. Kaitan dapat diadakan secara spontan atau direncanakan terlebih dahulu sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna dan efektif.
Keuntungan yang diperoleh dalam model connected ini adalah adanya hubungan antar ide-ide dalam satu mata pelajaran, anak akan memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan siswa diberi kesempatan untuk melakukan pendalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap. Guru lebih percaya diri untuk menghubungkan ide dalam satu lingkup pelajaran Kekurangan dalam model ini, model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran lain.
3. Model Nested (sarang)
Model Nested merupakan model pembelajaran terpadu yang merupakan pengintegrasian kurikulum dalam satu disiplin ilmu dengan memfokuskan pada sejumlah keterampilan belajar yang ingin dilatihkan oleh guru kepada siswa dalam satu unit pembelajaran untuk ketercapaian materi pelajaran (content) yang meliputi keterampilan berfikir (thinking skill), keterampilan sosial (social skill), dan keterampilan mengorganisir (organizing skill).
Kelebihan model ini yaitu guru dapat memadukan beberapa keterampilan sekaligus dalam pembelajaran satu mata pelajaran, memberikan perhatian pada bebebrapa bidang penting dalam satu waktu sehingga tidak memerlukan penambahan waktu dan guru dapat memadukan kurikulum secara ekstensif. Kekurangannya adalah apabila dilakukan tanpa perencanaan yang matang dalam memadukan beberapa keterampilan yang menjadi target dalam suatu pembelajaran akan berdampak pada siswa dimana prioritas pelajaran menjadi tidak fokus karena siswa diminta untuk melakukan beberapa tugas dalam satu waktu.
4. Model Sequenced
Model Sequenced merupakan model pembelajaran dimana guru dapat menyusun kembali urutan materi pelajaran disesuaikan dengan keterkaiatan satu materi dengan materi yang lain. Keunggulan dari model ini yaitu dengan menyusun kembali urutan topik, bagian dari unit, guru dapat mengutamakan prioritas kurikulum daripada hanya mengikuti urutan yang dibuat penulis dalam buku teks. Membantu siswa memahami isi pembelajaran dan menjadikan pembelajaran lebih bermakna. Adapun kelemahannya diperlukan kolaborasi berkelanjutan dan fleksibilitas dari guru-guru yang terlibat dalam dalam model pembelajaran ini.
5. Model Shared
Model shared ini merupakan suatu model pembelajaran terpadu yang didasarkan pada ide yang sama yang datang dari dua disiplin ilmu. Model ini berbeda dengan model tematik dalam hal penyatuan konsep. Model shared mendapatkan konsep yang disatukan dari adanya elemen yang sama sedangkan model tematik menggunakan tema yang telah ditentukan sebelumnya. Untuk dapat menggunakan model shared ini guru harus mengeksplor dua disiplin ilmu untuk mendapatkan kesamaan konsep, keterampilan, dan sikap.
Keunggulan dari model ini adalah dengan menyatukan dua disiplin ilmu maka bagian yang tumpang tindih dari kedua disiplin ilmu dapat menjadi fasilitator bagi pembelajaran yang lebih mendalam. Seringkali model ini dirancang dalam bentuk field trip karena memungkinkan dua orang guru untuk memasukkan ide mereka dalam satu waktu sehingga waktu yang didapat lebih leluasa. Kekurangan model ini yaitu integrasi antar dua disiplin ilmu memerlukan komitmen dan komunikasi pasangan untuk bekerja sama mulai fase awal.
6. Model Webbed (Jaring Laba-laba)
Model Webbed merupakan model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik. Model ini menggunakan tema yang fertil umpamanya seperti pola atau siklus sehingga dapat menyediakan kemungkinan pemaduan dari beberapa disiplin ilmu. Adapun ketika menentukan tema maka perlu diperhatikan beberapa kriteria yaitu dapat digunakan secara luas, dapat digunakan secara pervasif, dapat mengungkap pola yang fundamental, dapat mengungkapkan kesamaan dan perbedaan, dan juga menarik.
Keuntungan pendekatan jaring laba-laba untuk mengintegrasikan kurikulum adalah faktor motivasi sebagai hasil bentuk tema yang menarik, faktor motivasi siswa juga dapat berkembang karena adanya pemilihan tema yang didasarkan pada minat siswa. Selain itu juga memudahkan siswa untuk melihat bagaimana aktivitas dan ide yang berbeda terhubung. Kelemahan model ini adalah banyak guru sulit memilih tema. Guru cenderung menyediakan tema yang dangkal sehingga kurang bermanfaat bagi siswa, dan guru seringkali terfokus pada kegiatan sehingga materi atau konsep menjadi terabaikan.
7. Model Threaded ( Pembelajaran Terpadu Bergalur)
Model Threaded merupakan model pembelajaran yang memfokuskan pada metakurikulum yang menggantikan atau berpotongan dari semua isi materi pelajaran. Beberapa orang guru menentukan target keterampilan berpikir yang akan dimasukan sebagai prioritas isi. Dengan kata lain kemampuan sosial dan berbagai kecerdasan dapat tercapai melalui beberapa disiplin ilmu.
Keuntungan dari model ini yaitu guru dapat menekankan perilaku metakognitif sehingga siswa dapat belajar bagaimana mereka belajar. Dengan membuat siswa menyadari proses pembelajaran maka secara tidak langsung transfer materi pelajaran dapat tercapai. Selain itu dengan model ini tidak hanya isi materi tiap pelajaran tetap murni tetapi juga siswa dapat memperoleh beberapa keterampilan berpikir yang berguna bagi kehidupannya. Adapun kelemahannya yaitu hubungan isi antar materi pelajaran tidak terlalu terlihat sehingga secara eksplisit siswa kurang dapat memahami keterkaitan isi antara mata pelajaran satu dengan yang lainnya. Selain itu juga guru perlu memahami keterampilan dan stategi yang akan digunakan dalam pembelajaran yang menghubungkan metakurikulum melalui isi materi pelajaran.
8. Model Integrated (Keterpaduan)
Model Integrated merupakan pembelajaran yang menyajikan satu pendekatan penyebrangan mata pelajaran yang serupa dengan model “Shared”. Model integrated memadukan mata pelajaran dengan latar prioritas kurikulum pada, menemukan keterampilan-keterampilan, konsep-konsep, dan sikap-sikap yang tumpang tindih dari empat mata pelajaran.
Keuntungan dari model ini yaitu siswa saling mengaitkan, saling menghubungkan diantara macam-macam bagian dari mata pelajaran. Model ini membangun pemahaman dari beberapa disiplin ilmu dan mengembangkan pengetahuan dan keahlian. Selain itu model ini juga mendorong motivasi belajar siswa. Kelemahannya yaitu model ini sulit dilaksanakan secara penuh; membutuhkan keterampilan tinggi, percaya diri dalam memprioritaskan konsep, keterampilan dan sikap yang meliputi secara dari masing-masing mata pelajaran. Selain itu juga membutuhkan tim yang memiliki komitmen, kesamaan batasan pelajaran dan waktu mengajar.
9. Model Immersed
Model Immersed model pembelajaran yang melibatkan beberapa mata pelajaran dalam satu proyek. Model ini memungkinkan siswa menyeberang atau tetap di dalam mata pelajaran sesuai dalam minat dan kemauannya untuk belajar. Misalnya seorang mahasiswa yang memperdalam Biokimia maka selain spesialisasi nya dalam bidang biokimia, untuk menganalisis data dari eksperimennya maka ia mempelajari ilmu komputer. Untuk menjaga hak paten dari hasil eksperimen maka ia juga perlu mempelajari tentang hukum.
Kelebihan dari model ini adalah setiap siswa mempunyai ketertarikan mata pelajaran yang berbeda maka secara tidak langsung siswa akan belajar materi lain yang dapat mendukung ketertarikannya tersebut. Mereka terpacu untuk dapat menghubungkan mata pelajaran yang satu dengan yang lainnya. Adapun kekurangan dari model ini adalah dengan menyaring semua ide melalui satu lensa mengakibatkan fokus pembelajaran menjadi prematur atau sempit.
10. Model Networked
Model networked merupakan model pembelajaran yang didalamnya terjadi pemasukan sumber informasi yang terus menerus, selalu menyediakan ide baru, mendalam, dan mengekstrapolasi atau memperbaiki ide-ide. Dalam model ini siswa bergantung pada jaringan sebagai sumber informasi yang harus mereka saring melalui keahlian dan minat mereka. Hanya siswa sendiri yang mengetahui intrik dan dimensi untuk menentukan sumber-sumber yang dianggap penting.
Kelebihan dari model ini adalah siswa menjadi pro-aktif, inisiatif dalam melakukan penyelidikan. Siswa juga terstimulasi dengan informasi yang relevan, keterampilan, atau konsep selama pembelajaran. Kelemahannya adalah bagi siswa yang memiliki ketertarikan pada bidang yang berbeda-beda. Jika model ini terlalu dipaksakan maka ketertarikan dan konsentrasi pada apa yang dilakukan lama-lama dapat berkurang.
BAB III
KESIMPULAN
Kurikulum merupakan suatu rancangan pendidikan yang menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Pendidikan diarahkan pada pengembangan pribadi anak agar sesuai dengan nilai-nilai yang ada dan diharapkan masyarakat, proses pendidikannya harus bersifat membina dan mengembangkan nilai. Perkembangan dari kurikulum ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya perkembangan masyarakat yang mencakup perubahan pola pekerjaan, perubahan kehidupan keluarga, perkembangan IPTEK, dll, selain itu aliran-aliran dalam pendidikan juga mempengaruhi perkembangan kurikulum. Terdapat beberapa macam model kurikulum, yaitu kurikulum subjek akademis, kurikulum humanistik, kurikulum rekonstruksi sosial, kurikulum teknologis, dan kurikulum terpadu atau dikenal juga dengan pembelajaran terpadu.
Dalam rangka membekali siswa untuk menghadapi pembelajaran seumur hidupnya, guru sebaiknya tetap mengupayakan proses-proses pembelajaran yang benar-benar membuat siswa mendapatkan pengalaman yang bermakna. Salah satunya dengan menggunakan pendekatan terpadu ini. Pembelajaran terpadu dapat dipandang sebagai suatu pendekatan dalam merancang bentuk aktivitas belajar-mengajar yang secara struktur sama dengan program satuan pembelajaran untuk satu pokok bahasan/ materi pokok dalam silabus, hanya muatan materi dan konteksnya berbeda, yaitu berasal dari beberapa pokok bahasan untuk satu mata pelajaran atau bahkan antar pokok bahasan dari dua atau lebih mata pelajaran. Pembelajaran ini merupakan pendekatan edukasional yang mempersiapkan siswa untuk menghadapi pembelajaran seumur hidup. Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik dan unit tematiknya, Fogarty (1991) mengemukakan 10 model dalam pengintegrasian kurikulum yaitu : 1). Fragmented, 2).Connected, 3). Nested, 4). Sequenced, 5). Shared, 6). Webbed, 7). Threaded, 8). Integrated, 9). Immersed dan 10). Networked.
DAFTAR PUSTAKA
Fogarty, Robin. (1991). Integrate The Curricula. IRI/ Skylight Publishing Inc: Illinois
Indrawati.(2009).Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. PPPPTK IPA: Jakarta
Karli dan Hutabarat. (2007). Implementasi KTSP Dalam Model-Model Pembelajaran.
Bandung: Generasi Info Media.
Puskur. 2005. Model Pembelajaran Terpadu IPA. Depdiknas : Badan Penelitian Dan Pengembangan Pendidikan Nasional
Rustaman, Nuryani. (2004). Strategi Belajar Mengajar Biologi. UM Press: Malang
Sa’ud. Dkk. (2006). Pembelajaran Terpadu. Bandung: UPI Press.
Sriyati, Siti.(2008).Integrated Approach. Makalah (Tugas Mata Kuliah Pengajaran Biologi Sekolah Lanjut, Sekolah Pasca sarjana UPI): Tidak diterbitkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar