BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Di dalam interaksi belajar mengajar, guru memegang kendali utama untuk keberhasilan tercapainya tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, sedangkan guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup.
Dalam proses pembelajaran di kelas, pada umumnya pembelajaran itu berpusat pada guru. Hal ini menyebabkan suasana belajar di kelas menjadi membosankan dan monoton. Sebaiknya guru memiliki variasi
dalam mengajar, misalnya model pembelajaran, metode yang digunakan, dan penggunaan media, sehingga siswa lebih termotivasi dalam belajar. Pada saat ini, guru diharapkan untuk melibatkan siswa secara penuh di dalam pembelajaran atau pembelajaran yang berpusat pada siswa. Salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa adalah model pembelajaran kooperatif.
Pada dasarnya, manusia merupakan makhluk sosial yang dalam kehidupannya membutuhkan orang lain. Oleh karena itu, dalam pembelajaran di sekolah, siswa juga perlu diperkenalkan mengenai pembelajaran sosial. Model pembelajaran sosial dalam pendidikan adalah untuk mempersiapkan warga Negara yang akan mengembangkan tingkah laku demokratis yang terpadu, baik dalam tataran pribadi maupun sosial serta meningkatkan taraf kehidupan yang berbasis demokrasi sosial yang produktif.
Sekolah menggambarkan sebuah lingkungan masyarakat kecil yang produktif. Dalam budaya sekolah yang kooperatif, siswa dapat diajarkan untuk memperoleh pengetahuan dan skill dari beberapa model yang telah dikembangkan. Beberapa sekolah, umumnya proses pembelajaran diatur oleh masing-masing guru. Sehingga menimbulkan suasana belajar yang tidak tidak ilmiah dan siswa akan menjadi pembelajar yang antisosial. Siswa tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya dan melatih kemampuan untuk bekerja sama.
Guru di sekolah sering menugaskan siswa untuk belajar secara berkelompok, melalui diskusi, praktikum, maupun dalam tugas-tugas yang lainnya. Tetapi, guru sering beranggapan bahwa belajar secara berkelompok akan menjadi kurang efektif. Dikarenakan, ketika siswa di tugaskan untuk belajar kelompok, banyak siswa yang tidak mengerjakan tugasnya dengan sungguh-sungguh. Siswa yang pintar akan mendominasi untuk mengerjakan tugas, sedangkan siswa yang tidak pintar akan merasa tersingkirkan karena dianggap tidak bisa mengerjakan tugasnya.
Berkenaan dengan pemberian kesempatan siswa untuk bekerja dalam kelompok, maka perlu dilakukan pembelajaran dengan model yang mendukungnya yaitu model pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran kooperatif mengandung pengertian bekerja bersama-sama dalam mencapai tujuan bersama. Lie (2008) menyatakan bahwa model pembelajaran ini lebih dari sekedar belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model pembelajaran kooperatif harus ada struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif.
Tujuan utama dari pembelajaran kooperatif adalah untuk memberikan kepada siswa pengetahuan, konsep, kemampuan dan pemahaman. Akhirnya, siswa diharapkan agar dapat menjadi anggota masyarakat yang unggul dan mampu memberikan kontribusi.
Salah satu tipe dalam model pembelajaran kooperatif adalah tipe Jigsaw. Lie (2008), menyatakan bahwa jigsaw merupakan salah satu tipe metode pembelajaran kooperatif yang fleksibel. Sejumlah riset telah banyak dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatif dengan dasar jigsaw. Riset tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran semacam itu memperoleh prestasi yang lebih baik, dan mempunyai sikap yang lebih baik pula terhadap pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi masalah dalam makalah ini, yaitu :
1. Bagaimanakah model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw?
2. Bagaimanakah implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran Biologi?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Menganalisis model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw.
2. Menganalisis implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dalam pembelajaran Biologi.
D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah studi pustaka terhadap berbagai referensi baik dari buku maupun artikel dari internet yang sesuai dengan materi penulisan.
A. PEMBELAJARAN KOOPERATIF
1. Pengertian
Pembelajaran kooperatif merujuk pada berbagai macam metode pengajaran dimana para siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu satu sama lain dalam mempelajari konsep. Para siswa, dalam pembelajaraan kooperatif ini diharapkan dapat saling membantu, saling mendiskusikan dan berargumentasi, untuk mengasah pengetahuan yang dapat mereka kuasai saat itu dan menutup kesenjangan dalam pemahaman masing-masing (Slavin, 2010).
Asumsi-asumsi yang mendasari pengembangan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah sebagai berikut (Joyce, Weil, Calhoun, 2009):
1. Sinergi yang ditingkatkan dalam bentuk kerjasama akan meningkatkan motivasi yang jauh lebih besar daripada dalam bentuk lingkungan kompetitif individual. Kelompok-kelompok sosial integratif memiliki pengaruh yang lebih besar dari pada kelompok yang dibentuk secara berpasangan. Perasaan-perasaan saling berhubungan (feelings of connectedness) menghasilkan energi yang positif.
2. Anggota-anggota kelompok kooperatif dapat saling belajar satu sama lain. Setiap pembelajar akan memiliki bantuan yang lebih banyak daripada dalam sebuah struktur pembelajaran yang menimbulkan pengucilan antarsatu siswa dengan siswa lainnya,
3. Interaksi antar anggota akan menghasilkan aspek kognitif semisal kompleksitas sosial, menciptakan sebuah aktivitas intelektual yang dapat mengembangkan pembelajaran ketika dibentukkan pada pembelajaran tunggal.
4. Kerja sama meningkatkan perasaan positif terhadap satu sama lain, menghilangkan pengasingan dan penyendirian, membangun sebuah hubungan, dan memberikan sebuah pandangan positif mengenai orang lain.
5. Kerja sama meningkatkan penghargaan diri, tidak hanya melalui pembelajaran yang terus berkembang, namun juga melalui perasaan yang dihormati dan dihargai oleh orang lain dalam sebuah lingkungan.
6. Siswa yang mengalami dan menjalani tugas serta merasa harus bekerjasama dapat meningkatkan kapasitasnya untuk bekerjasama secara produktif. Dengan kata lain, semakin banyak siswa mendapat kesempatan untuk bekerjasama, maka mereka akan semakin mahir bekerjasama, dan hal ini akan sangat berguna bagi keterampilan sosial mereka secara umum.
7. Siswa, termasuk juga anak-anak, bias belajar dari beberapa latihan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam bekerjasama.
Menurut Lie (2008), model pembelajaran kooperatif tidak sama dengan sekadar belajar kelompok, tetapi ada unsur-unsur dasar yang membedakannya dengan pembagian kelompok yang dilakukan asal-asalan. Tidak semua kerja kelompok bisa dianggap kooperatif, untuk itu harus diterapkan lima unsur model pembelajaran kooperatif yaitu:
a. Saling ketergantungan positif.
Keberhasilan suatu karya sangat bergantung pada usaha setiap anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugasnya sendiri agar yang lain dapat mencapai tujuan mereka.
b. Tanggung jawab perseorangan.
Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Pengajar yang efektif dalam model pembelajaran kooperatif membuat persiapan dan menyusun tugas sedemikian rupa sehingga masing-masing anggota kelompok harus melaksanakan tanggung jawabnya sendiri agar tugas selanjutnya dalam kelompok bisa dilaksanakan.
c. Tatap muka.
Dalam pembelajaran kooperatif setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. Inti dari sinergi ini adalah menghargai perbedaan, memanfaatkan kelebihan, dan mengisi kekurangan.
d. Komunikasi antar anggota.
Unsur ini menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi, karena keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapat mereka. Keterampilan berkomunikasi dalam kelompok juga merupakan proses panjang. Namun, proses ini merupakan proses yang sangat bermanfaat dan perlu ditempuh untuk memperkaya pengalaman belajar dan pembinaan perkembangan mental dan emosional para siswa.
e. Evaluasi proses kelompok.
Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif.
Lebih lanjut Slavin (2010), menyebutkan bahwa pada pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik di dalam kelompoknya, seperti menjadi pendengar yang baik, siswa diberi lembar kegiatan yang berisi pertanyaan atau tugas yang direncanakan dikerjakan. Selama kerja kelompok, tugas anggota kelompok adalah mencapai ketuntasan.
2. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran kooperatif sebagaimana dikemukakan oleh Slavin (2010), yaitu penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil, seperti penjelasan berikut:
a. Penghargaan kelompok
Pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli.
b. Pertanggungjawaban individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari semua anggota kelompok. Pertanggungjawaban tersebut menitikberatkan pada aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainnya secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya.
c. Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan
Pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.
3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetisi, di mana keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain. Sedangkan tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi di mana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya (Slavin, 2010).
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting yaitu:
a. Hasil belajar akademik
Dalam belajar kooperatif meskipun mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademis penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini telah menunjukkan bahwa model struktur penghargaan kooperatif telah dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Di samping mengubah norma yang berhubungan dengan hasil belajar, pembelajaran kooperatif dapat memberi keuntungan baik pada siswa kelompok bawah maupun kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan tugas-tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu
Tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan ketidakmampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan melalui struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.
c. Pengembangan keterampilan sosial
Tujuan penting ketiga pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial, penting dimiliki oleh siswa sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
B. MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson pada tahun 1971. Pembelajaran jigsaw pada mulanya digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan ataupun berbicara. Pendekatan ini bisa pula digunakan dalam beberapa mata pelajaran seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, matematika, agama, dan bahasa. Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini cocok untuk semua kelas dan tingkatan.
Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja dengan sesama siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif, dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4–6 orang secara heterogen dan bekerjasama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
Jigsaw diartikan sebagai pembagian materi, sumber atau tugas, sehingga tugas kelompok tidak akan dikerjakan oleh satu atau sebagian kecil anggota kelompok, tetapi masing-masing anggota kelompok punya bagian penting dan dibutuhkan oleh seluruh anggota kelompok. Dengan demikian, tujuan utama dari penerapan metode jigsaw adalah membuat masing-masing anggota kelompok bertanggungjawab atas tugas atau bagian khusus yang harus dibagikan kepada teman-teman kelompoknya. Jigsaw juga efektif dilakukan untuk menekankan keterpaduan dan tanggungjawab siswa (Doolitle, 2008 dalam Hesti, 2008).
Aronson (2006) mengemukakan, selain efektif untuk penguasaan konsep, yang paling penting dari metode jigsaw ini adalah dapat mendorong keterampilan mendengarkan, mengelola waktu dan berempati dengan memberi masing-masing anggota kelompok bagian penting bagi tujuan bersama dalam aktivitas pembelajaran. Anggota kelompok harus mampu bekerjasama untuk menyelesaikan dan mengerjakan tugas dan tujuan bersama.
Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Lie, 2008). Teknik mengajar jigsaw bisa digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun berbicara.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal, yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli, yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada angota kelompok asal. Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topik pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali pada tim/kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Jigsaw di desain selain untuk meningkatkan rasa tanggungjawab siswa secara mandiri juga dituntut saling ketergantungan yang positif (saling memberi tahu) terhadap teman sekelompoknya. Selanjutnya di akhir pembelajaran siswa diberi kuis secara individu yang mencakup topik materi yang telah di bahas. Kunci tipe jigsaw ini adalah interdependensi setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan dengan tujuan agar dapat mengerjakan kuis dengan baik.
2. Model Metode Jigsaw
Terdapat dua jenis jigsaw ,yaitu jigsaw II dan jigsaw orisinil. Jigsaw II dapat digunakan apabila materi yang akan dipelajari adalah yang berbentuk narasi tertulis. Metode ini paling sesuai untuk subjek-subjek seperti pelajaran ilmu sosial, literatur, sebagian pelajaran ilmu pengetahuan ilmiah, dan bidang-bidang lainnya yang tujuan pembelajaran lebih kepada penguasaan konsep daripada penguasaan kemampuan. Pengajaran “bahan baku” untuk jigsaw II biasanya harus berupa sebuah bab, cerita, biografi, materi-materi narasi atau deskripsi serupa (Slavin, 2010). Metode jigsaw Aronson yang orisinil, mirip dengan jigsaw II dalam sebagian besar aspeknya, tetapi juga mempunyai beberapa perbedaan penting. Dalam jigsaw orisinil, para siswa membaca bagian-bagian yang berbeda dengan yang dibaca oleh teman satu timnya. Bagian yang paling sulit dari jigsaw orisinil adalah bahwa tiap bagian harus ditulis, supaya dapat dipahami oleh siswa. Ciri jigsaw orisinil adalah bahan bacaan ditulis ulang oleh guru, sehingga mudah dipahami oleh siswa, ketergantungan antar anggota sangat erat dan kuat (setiap siswa hanya membaca satu bagian materi), ditunjuknya pimpinan kelompok (pimpinan kelompok sebagai penghubung antar kelompok dan guru, serta mengatur diskusi kelompok), dan tidak terdapat kuis yang memberikan sumbangsih nilai pada kelompok. Kelebihan dari jigsaw II adalah bahwa semua siswa membaca semua materi, yang akan membuat konsep-konsep yang telah disatukan menjadi lebih mudah untuk dipahami.
Ada tiga model metode jigsaw yang dapat diterapkan menurut Doolittle (2002 dalam Hesti 2008), yaitu:
a. Within Group Jigsaw
Pada model ini, masing-masing anggota kelompok bertanggungjawab untuk mempelajari satu bagian persoalan yang harus dipecahkan kelompok tersebut. Setelah mempelajarinya, masing-masing harus mengajarkan kepada anggota kelompok lainnya. Ini juga berlaku pada kelompok yang lain.
b. Expert Group Jigsaw
Jika pada within group jigsaw masing-masing anggota kelompok mempelajari sendiri bagian persoalan yang diberikan padanya, maka pada model expert group ini anggota kelompok dari semua kelompok yang mendapat bagian persoalan yang sama berkumpul menjadi ”kelompok ahli” untuk bersama-sama mempelajari dan memecahkan persoalan tersebut. Setelah selesai mempelajarinya, masing-masing kembali ke kelompok asalnya dan mengajarkan apa yang telah mereka pelajari pada ”kelompok ahli” tadi.
c. Whole Group Jigsaw
Berbeda dengan expert group, pada whole group ini kelompok yang pertama kali terbentuk sudah langsung menjadi ”kelompok ahli” yang masing-masing mempelajari persoalan yang berbeda dengan kelompok lainnya. Setelah itu masing-masing kelompok mengajarkan bagian persoalannya kepada kelompok lain melalui diskusi atau presentasi.
3. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe jigsaw menurut Aronson (2006) adalah sebagai berikut :
a. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda. Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli (Counterpart Group/CG). Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw. Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 40 siswa akan terdapat 5 kelompok ahli yang masing-masing beranggotakan 8 siswa dan 8 kelompok asal yang masing-masing terdiri dari 5 siswa. Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Guru memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal.
b. Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok ahli maupun kelompok asal, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan.
c. Guru memberikan kuis untuk siswa secara individual.
d. Guru memberikan penghargaan pada kelompok melalui skor penghargaan berdasarkan perolehan nilai peningkatan hasil belajar individual dari skor dasar ke skor kuis berikutnya.
e. Materi sebaiknya secara alami dapat dibagi menjadi beberapa bagian materi pembelajaran.
f. Perlu diperhatikan bahwa jika menggunakan Jigsaw untuk belajar materi baru maka perlu dipersiapkan suatu tuntunan dan isi materi yang runtut serta cukup sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Menurut Lie (2008), teknik mengajar jigsaw sebagai berikut:
a. Pengajar membagi bahan pelajaran yang akan diberikan menjadi empat bagian
b. Sebelum bahan pelajaran diberikan, pengajar memberikan pengenalan mengenai topik yang akan dibahas dalam bahan pelajaran untuk hari itu. Pengajar dapat menuliskan topik di papan tulis dan menanyakan apa yang siswa ketahui mengenai topik tersebut. Kegiatan brainstorming ini dimaksudkan untuk mengaktifkan skemata siswa agar lebih siap menghadapi bahan pelajaran yang baru.
c. Siswa dibagi dalam kelompok berempat.
d. Bagian pertama bahan diberikan kepada siswa yang pertama, sedangkan siswa yang kedua menerima bahan yang kedua. Demikian seterusnya.
e. Kemudian, siswa diminta membaca/mengerjakan bagian mereka masing-masing.
f. Setelah selesai, siswa saling berbagi mengenai bagian yang dibaca/dikerjakan masing-masing. Dalam kegiatan ini, siswa dapat saling melengkapi dan berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
g. Kegiatan ini dapat diakhiri dengan diskusi mengenai topik dalam bahan pelajaran hari itu. Diskusi dapat dilakukan antara pasangan atau dengan seluruh kelas.
Gambar 1. Jigsaw (Lie, 2010)
Gambar 2. Jigsaw (Lie, 2010)
Menurut Slavin (2010), untuk pelaksanaan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw, disusun langkah-langkah pokok sebagai berikut; (1) pembagian tugas, (2) pemberian lembar ahli, (3) mengadakan diskusi, (4) mengadakan kuis. Adapun rencana pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini diatur secara instruksional sebagai berikut:
1. Membaca: siswa memperoleh topik-topik ahli dan membaca materi tersebut untuk mendapatkan informasi.
2. Diskusi kelompok ahli: siswa dengan topik-topik ahli yang sama bertemu untuk mendiskusikan topik tersebut.
3. Diskusi kelompok: ahli kembali ke kelompok asalnya untuk menjelaskan topik pada kelompoknya.
4. Kuis: siswa memperoleh kuis individu yang mencakup semua topik.
5. Penghargaan kelompok: penghitungan skor kelompok dan menentukan penghargaan kelompok.
Setelah kuis dilakukan, maka dilakukan perhitungan skor perkembangan individu dan skor kelompok. Skor individu setiap kelompok memberi sumbangan pada skor kelompok berdasarkan rentang skor yang diperoleh pada kuis sebelumnya dengan skor terakhir. Slavin (2010) memberikan petunjuk perhitungan skor kelompok sebagaimana terlihat dalam Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Konversi Skor Perkembangan
Skor Kuis Individu Skor perkembangan
1. Lebih dari 10 poin di bawah skor awal
2. 10 poin sampai 1 poin di bawah skor awal
3. Skor awal sampai 10 poin di atas skor awal
4. Lebih dari 10 poin di atas skor awal
5. Kertas jawaban sempurna (terlepas dari skor awal) 5
10
20
30
30
Untuk menentukan tingkat penghargaan yang diberikan untuk prestasi kelompok, menurut Slavin (2010) dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 3. Tim Penghargaan Kelompok
Rata-rata kelompok Penghargaan
15 poin
20 poin
25 poin TIM BAIK
TIM SANGAT BAIK
TIM SUPER
Berikut merupakan langkah-langkah metode jigsaw orisinil dengan memodifikasi dari jigsaw II:
1. Menuliskan unit-unit yang menampilkan informasi unik mengenai subjek tetapi dibuat supaya tetap masuk akal. Bisa juga dengan memotong bagian teks dan menambahkan informasi yang diperlukan, atau dengan menuliskan materi yang benar-benar baru.
2. Membagi siswa ke dalam tim yang beranggotakan lima sampai enam orang dan membuat lima topik untuk tiap unit.
3. Menunjuk satu orang pemimpin tim, dan menekankan latihan pembentukan tim sebelum dan selama menggunakan teknik tersebut.
4. Menggunakan kuis-kuis dan tidak menggunakan skor tim, skor kemajuan, atau lembar berita. Cukup memberikan nilai individual kepada siswa.
Adapun langkah-langkah dari Within Group Jigsaw adalah sebagai berikut:
1. materi dibagi ke dalam 3-5 bagian
2. dibentuk kelompok yang terdiri atas 3-5 siswa (jumlah siswa yang terbagi ke dalam kelompok harus sama dengan jumlah pembagian materi)
3. masing-masing siswa yang tergabung dalam kelompok memiliki tanggungjawab atas satu bagian materi yang harus dipelajari
4. setelah semua siswa mempelajari bagian materi mereka masing-masing, setiap siswa mengajarkan bagian mereka kepada kelompok mereka
5. semua siswa diuji kemampuan materinya secara individu
Berikut merupakan langkah-langkah dari Expert Group Jigsaw:
1. Materi dibagi ke dalam 3-5 bagian
2. Dibentuk “Home Group”/grup asal yang terdiri atas 3-5 siswa (jumlah siswa pada grup asal harus sama dengan jumlah pembagian materi)
3. Masing-masing siswa pada grup asal diberi tanggungjawab satu materi untuk dipelajari
4. Setelah semua siswa mempelajari bagian mereka, dibentuklah “expert group”/grup ahli. Semua siswa yang mempelajari materi 1 atau semua siswa yang mempelajari materi 2 dari masing-masing grup dikumpulkan ke dalam satu grup baru yang disebut grup ahli. Begitu seterusnya sehingga terbentuk kelompok ahli untuk setiap materi.
5. Grup ahli mendiskusikan materi mereka dan menyepakati pengertian dan poin-poin penting dari materi tersebut
6. Siswa-siswa pada kelompok ahli kembali ke kelompok mereka masing-masing (grup asal) dan mengajarkan materi mereka kepada kelompok mereka
7. Semua siswa diuji secara individu
Langkah-langkah dari Whole Group Jigsaw adalah sebagai berikut:
1. Materi dibagi ke dalam 3-5 bagian
2. Dibentuk beberapa kelompok. Jumlah kelompok harus sama dengan jumlah pembagian materi
3. Masing-masing kelompok memiliki tanggungjawab atas satu materi yang harus dipelajari
4. Setelah semua kelompok mempelajari bagian mereka, kelompok-kelompok tersebut bergiliran mengajarkan bagian materi mereka kepada kelompok lain
5. Setiap siswa diuji secara individu
Ada beberapa cara lain dalam menggunakan jigsaw dengan memberikan beberapa modifikasi dalam implementasinya, seperti berikut ini (Slavin, 2010):
1. Menyuruh siswa mencari informasi melalui kepustakaan untuk topik yang akan mereka diskusikan.
2. Setelah para ahli menyampaikan laporan, mintalah siswa menuliskan esai atau memberikan laporan lisan daripada memberikan kuis.
3. Memberi tiap tim topik yang unik untuk dipelajari bersama dan memberikan masing-masing anggota tim sebuah subtopik. Kemudian, tim mempersiapkan dan membuat presentasi lisan di depan kelas.
C. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
Lie (2008) menyatakan bahwa jigsaw merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang fleksibel. Banyak riset telah dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatif dengan dasar jigsaw. Hasil riset tersebut secara konsisten menunjukkan bahwa siswa yang terlibat model pembelajaran ini memperoleh prestasi lebih baik, mempunyai sikap yang lebih baik pula terhadap pembelajaran yaitu lebih positif.
Adapun kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ini adalah:
a. persiapan yang dilakukan guru cukup banyak dan berat sehingga waktu yang digunakan relatif cukup panjang.
b. sulitnya mengkondisikan kelas dan pengaturan waktu pada saat pelaksanaan pembelajaran.
c. karena kelompok yang dibentuk ditentukan oleh guru sehingga kadang ditemukan kasus dimana ada beberapa siswa yang merasa kurang suka dengan pemilihan teman dalam kelompoknya sehingga hal ini sedikitnya bisa mempengaruhi terhadap kerjasama dan berlangsungnya proses pembelajaran dengan tipe jigsaw ini.
D. PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DAN JIGSAW
Unsur Tipe Model Pembelajaran Kooperatif
STAD JIGSAW
Struktur kelompok Kelompok heterogen dengan 4-5 orang anggota Kelompok heterogen dengan 4-6 orang anggota dan menggunakan kelompok asal dan ahli
Informasi yang dibahas Diawali oleh penyajian informasi oleh guru Informasi langsung dipelajari oleh siswa yang bertugas untuk menyampaikan ke teman sekelompok
Presentasi Tidak terdapat presentasi Terdapat presentasi di akhir pembelajaran
E. PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW
(terlampir)
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Salah satu ragam prosedur yang telah dikembangkan untuk membantu siswa mempelajari cara saling membantu adalah teknik pembagian tugas. Pada intinya, tugas yang diberikan dalam beberapa kesempatan dapat meningkatkan efisiensi pembagian kerja. Alasan yang paling mendasar adalah karena pembagian kerja dapat meningkatkan kesatuan kelompok sebagai sebuah tim kerja untuk menyerap dan mempelajari informasi dan keterampilan sembari memastikan bahwa masing-asing anggota kelompok memiliki tanggung jawab untuk belajar dan menyadari betul peran penting yang ada dalam sistem pengelompokkan.
Salah satu prosedur yang telah digunakan untuk mengembangkan organisasi formal dalam pembagian kerja adalah jigsaw. Hal ini sangatlah teratur dan cocok sebagai sebuah perkenalan pada proses pembagian kerja. Meskipun organisasi kelas yang menempatkan siswa secara individual memberikan ruang bagi individu untuk melatih skill yang telah dikembangkan, prosedur pembagian kerja mengharuskan siswa untuk menggilir peran, sembari mengembangkan keterampilan mereka dalam semua bidang (Joyce, 2009).
B. SARAN
Para guru hendaknya mengevaluasi cara mengajarnya. Guru hendaknya menggunakan model/metode yang berpusat pada siswa, karena hal ini memberikan dampak positif terhadap siswa. Model pembelajaran kooperatif akan memunculkan suasana positif dan memberikan kesempatan untuk siswa untuk bekerja sama dengan sesamanya. Jigsaw dapat digunakan untuk menumbuhkan suasana positif dalam pembelajaran. Selain itu, siswa akan terdorong untuk belajar dan berpikir.
DAFTAR PUSTAKA
Aronson, E. (2006). The Basic Jigsaw. [Online]. Tersedia: http://www. jigsaw.or.id. [26 Mei 2009]
Doolittle, P. E. (2002). Cooperative Learning: The Jigsaw Method. The Mind, an Owner’s Manual for Teachers and Students: Activity Strategies (p. 17-20). [Online]. Tersedia: http://edpsycherver.ed.vt.edu/ [26 Mei 2009]
Hesti. 2008. Makalah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw.
Jihad, A dan Haris, A. 2010. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Pressindo.
Joyce, B., Weil, M., Calhoun, E. (2009). Models of Teaching Edisi Kedelapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lie, A. (2008). Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo
Slavin, R.E. (2010). Cooperative Learning: Theory, Research and Practice. London: Allymand Bacon Publishers.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar