PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PjBL)
A. Pendahuluan
Dewasa ini kemajuan sains dan teknologi telah membawa perubahan mendasar pada pola pikir dan perilaku masyarakat. Proses globalisasi yang terjadi dalam segala bidang kehidupan menuntut kesiapan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas untuk dapat memecahkan persoalan hidup yang makin kompleks. Persaingan global dalam bidang sosio-ekonomi juga berdampak pada pergeseran paradigma pendidikan. Salah satu perubahan paradigma pendidikan yang sangat penting adalah semula pembelajaran berpusat pada guru (teacher-centered) beralih pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered). Dengan pergeseran paradigma tersebut prinsip pembelajaran bukanlah semata-mata transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, akan tetapi siswa sendiri mesti membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui serangkaian pengalaman belajar dan aktivitas ilmiah dalam konteks dunia nyata.
Pendidikan IPA atau sains memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan literasi ilmiah (scientific literacy) agar masyarakat mampu menguasai dan menerapkan konsep-konsep sains dalam segala bidang kehidupan (De
Boer,1991). Fungsi pendidikan sains harus mampu membekali peserta didik dengan segenap kecakapan hidup (life skill) dan kemampuan berpikir agar kelak mereka dapat menghadapi kehidupan di masyarakat. Hal ini selaras dengan empat pilar pendidikan yang dicanangkan organisasi pendidikan dan kebudayaan dunia (UNESCO), yaitu learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together in harmony.
Pendidikan sains yang dikembangkan di sekolah saat ini harus dapat membekali peserta didik dengan pengetahuan yang bermakna serta keterampilan khusus terutama pemecahan masalah yang kompleks. Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan anak yang harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar (thinking and learning skills). Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis (critical thinking), pengambilan keputusan (decision making), kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Menurut Salpeter (2003) pada abad ke-21 ini, kemampuan berpikir kritis, membuat keputusan, dan pemecahan masalah akan banyak diperlukan dalam mencari perkejaan atau karir. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh siswa apabila guru mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang siswa untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong siswa untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.
Pendekatan dan strategi pembelajaran abad ke-21 juga perlu pembaharuan yang memfokuskan pada pembelajaran kooperatif atau kolaboratif untuk dapat memecahkan masalah yang kompleks Perkembangan intelektual dan personal tidak dapat dipandang dari sisi konteks individual semata, akan tetapi dalam konteks kerjasama secara kooperatif (scaffolding) dengan yang lain dari aspek budaya, latar belakang, tingkat kecerdasan dan disiplin yang berbeda (McNeal &D’Avonzo,1996).
Untuk mencapai sasaran tersebut, salah satu model pembelajaran yang bisa menjawab tantangan tersebut adalah model pembelajaran berbasis proyek (Project-based learning). Didalam mengembangkan Project Based Learning (PjBL), guru dituntut untuk menyiapkan rencana, sebagai panduan guru dalam proses pembelajarannya. Didalam perencaan dan skenario pembelajaran, guru harus mengarahkan rencana proyeknya dalam sebuah kerangka pertanyaan berdasarkan SK/KD yang ada dalam kurikulum.
Gagasan proyek dalam pembelajaran merupakan inti dari pandangan sosio-konstruktivisme (Bruner, 1973) dan berkaitan erat dengan pendekatan pembelajaran berbasis aktivitas (Activity-based learning). Suatu proyek memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengindentifikasi dan merumuskan masalahnya sendiri. Tujuan pembelajaran dicapai melalui kegiatan penemuan (discovery learning) selama interaksi dengan lingkungan belajar (Collins et al, 1989). PjBL merupakan suatu model yang berbeda dari model tradisional dengan fokus utama menempatkan pebelajar dalam proyek nyata. Pebelajar memiliki kesempatan membangun pengetahauannya sendiri sesuai dengan kebutuhannya.
Pada awalnya pembelajaran berbasis proyek diterapkan dibidang medis atau kesehatan. Para siswa kedokteran melaksanakan suatu proyek dalam menangani pasien untuk mendiagnosis penyakit pasien (Maxwell, Bellisimo, & Mergendoller, 1999). Kemudian PjBL berkembangan dan banyak diadopsi dalam bidang teknik, arsitektur, dan pendidikan sains. Proyek sebagai metodologi bukan merupakan konsep baru dalam dunia pendidikan, peletak dasar proyek telah dicetuskan pertama kali oleh John Dewey (Dewey, 1966) dan William H. Kilpatrick (Kilpatrick, 1918). Metode proyek berasal dari gagasan John Dewey tentang konsep “learning by doing” yakni proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama proses penguasaan anak tentang bagaimana melakukan sesuatu pekerjaan yang terdiri atas serangkaian tingkah laku untuk mencapai tujuan
Beberapa hasil penelitian pendidikan sains menunjukkan bahwa kurikulum sains berbasis proyek (PBS) dapat meningkatkan pemahaman siswa, meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif serta pemecahan masalah. Penerapan pembelajaran sains berbasis proyek ini menunjukkan efektifitas dalam penguasaan kognitif siswa dibandingkan dengan model lain (Krajcik, McNeill, & Reiser, 2008). PjBL merupakan strategi pengajaran yang mendorong siswa untuk memperoleh pengetahuan konten dari mereka sendiri dan mendemonstrasikan pemahaman baru melalui berbagai modus presentasi siswa.
Berdasarkan karakteristik pemikiran tersebut, guru dapat merencanakan pengalaman belajar yang dapat menghasilkan pemahaman yang dalam (bermakna) dari suatu ide atau gagasan penting dari suatu konten. Dalam PjBL, siswa sendiri mengemudikan pembelajaran, sehingga mereka dapat menggambarkan kekuatan dan menciptakan proyek yang berhubungan dengan minat dan bahasa mereka sendiri, latar belakang budaya, kemampuan dan preferensi untuk menggunakan berbagai media atau teknologi.
B. Orientasi dan Tujuan Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek terutama dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan memecahkan masalah dalam penugasan (proyek) belajar peranan orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. Uraian rincian terhadap ketiga tujuan ini diuraikan sebagai berikut:
a. Metode proyek merupakan salah satu cara yang ditempuh guru untuk memberikan pengalaman belajar agar anak didik memperoleh keterampilan dalam memecahkan persoalan sehari- hari lebih baik.
b. Melalui pembelajaran berbasis proyek diharapkan siswa mendapat kesempatan untuk menggunakan kemampuan, keterampilan dan minat serta kebutuhannya terpadu dengan kemampuan, dan minat serta kebutuhan siswa lain dalam mencapai tujuan kelompok.
c. Pembelajaran berbasis proyek diharapkan dapat memberi pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan penalaran, karena proyek merupakan salah satu bentuk pemecahan masalah.
d. Metode proyek bertujuan mengembangkan kemampuan mengadakan hubungan siswa dengan siswa lain dalam kelompok, yang dapat menimbulkan kecenderungan berpikir, merasakan dan bertindak lebih kepada tujuan kelompok dari pada diri sendiri.
e. Metode proyek memberi peluang kepada tiap anak untuk berperan serta dalam pemecahan masalah yang dihadapi dengan memilih bagian pekerjaan kelompok sesuai dengan kemampuan, keterampilan, kebutuhan, dan minat masing-masing.
Pembelajaran berbasis proyek memiliki orientasi serta tujuan yang mendasar untuk reformasi dalam pendidikan. Beberapa orientasi model pembelajaran proyek menurut adalah memberikan bekal kepada peserta didik untuk melakukan :
a. Kegiatan yang bersumber dari pengalaman anak sehari-hari dalam lingkungan keluarga, sekolah maupun diluar sekolah
b. Kegiatan kompleks yang menuntut bermacam-macam penanganan yang tidak mungkin dilakukan anak secara perorangan dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan
c. Kegiatan yang dapat membantu mengembangkan kemampuan berpikir dan menalar, kemampuan bekerjasama dengan anak lain dan memperluas wawasan anak
d. Kegiatan itu cukup menantang bagi anak dalam pengembangan kesehatan fisik dan psikis.
e. Kegiatan itu dapat memberikan kepuasan pada masing-masing anak, karena pembelajaran dirancang sesuai minat siswa sendiri.
Penerapan Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa yang diyakini para ahli mampu menyiapkan siswa untuk menghadapi dunia kerja abad ke-21 serta untuk membantu siswa dalam belajar:
1. Pengetahuan dan keterampilan yang kokoh dan bermakna (meaningful-use) yang dibangun melalui tugas-tugas dan pekerjaan yang autentik (CORD, 2001; Hung & Wong, 2000; Myers & Botti, 2000; Marzano, 1992);
2. Memperluas pengetahuan melalui keotentikan kegiatan kurikuler yang terdukung oleh proses kegiatan belajar melakukan perencanaan (designing) atau investigasi yang open-ended, dengan hasil atau jawaban yang tidak ditetapkan sebelumnya oleh perspektif tertentu;
3. Dalam proses membangun pengetahuan melalui pengalaman dunia nyata dan negosiasi kognitif antarpersonal yang berlangsung di dalam suasana kerja kolaboratif.
C. Pengertian Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL)
Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan model pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata. PjBL dirancang untuk digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan pelajar dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya.
Pengertian pembelajaran berbasis proyek (PjBL) masih sering disamakan dengan pembelajaran berbasis masalah (PBL). Tidak ada definisi yang absolut untuk PjBL ini. Menururt Buck Institute for Education ( BIE, 2003) mendefiniskan PjBL sebagai: as a systematic teaching method that engages students in learning knowledge and skills through an extended inquiry process structured around complex, authentic questions and carefully designed products and tasks. Definisi ini menekankan pada spektrum yang luas dari suatu proyek, bersifat interdisipliner dan melibatkan partisipasi komunitas dan peran kelompok orang dewasa dalam melaksanakan suatu proyek. Menurut beberapa ahli (Purnawan, 2008), beberapa definisi pembelajaran berbasis proyek (PjBL) sebagai berikut:
a. PjBL adalah metoda pengajaran sistematik yang mengikutsertakan pelajar ke dalam pembelajaran pengetahuan dan keahlian yang kompleks, pertanyaan autentik dan perancangan produk dan tugas [University of Nottingham, 2003].
b. PjBL adalah pendekatan cara pembelajaran secara konstruktif untuk pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata dan relevan bagi kehidupannya [Barron, B. 1998, Wikipedia].
c. PjBL adalah pendekatan komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar pelajar melakukan riset terhadap permasalahan nyata. [Blumenfeld et al. 1991].
d. PjBL adalah cara yang konstruktif dalam pembelajaran menggunakan permasalahan sebagai stimulus dan berfokus kepada aktifitas pebelajar. [Boud & Felleti,1991].
Kerja proyek dapat dilihat sebagai bentuk open-ended contextual activity-based learning, dan merupakan bagian dari proses pembelajaran yang memberikan penekanan kuat pada pemecahan masalah sebagai suatu usaha kolaboratif (Richmond & Striley, 1996), yang dilakukan dalam proses pembelajaran dalam periode tertentu (Hung & Wong, 2000). Blumenfeld et al. (1991) mendiskripsikan model belajar berbasis proyek (project-based learning) berpusat pada proses relatif berjangka waktu, berfokus pada masalah, unit pembelajaran bermakna dengan mengitegrasikan konsep-konsep dari sejumlah komponen pengetahuan, atau disiplin, atau lapangan studi.
D. Karakteristik Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL)
Pembelajaran berbasis proyek (PjBL) berfokus pada konsep dan prinsip inti sebuah disiplin, memfasilitasi siswa untuk berinvestigasi, pemecahan masalah, dan tugas-tugas bermakna lainnya, berpusat pada siswa dan menghasilkan produk nyata. PjBL adalah model pembelajaran yang menekankan pada pengajaran berpusat pada siswa melalui tugas suatu proyek. PjBL memberi kesempatan kepada siswa bekerja mandiri untuk membangun pengetahuannya sendiri, dan menghasilkan suatu produk nyata
Kerangka kerja PjBL berdasarkan pandangan konstruktivisme meliputi 5 aspek yaitu : 1) pertanyaan penuntun (driving question) merupakan proses belajar siswa yang autentik, 2) partisipasi siswa secara aktif dalam mempelajari suatu fenomena; 3) siswa menerapkan pengetahuanya untuk menyelidiki dan memecahkan masalah dalam proses pembelajaran,4) siswa menggunakan komunitas belajar untuk menghasilkan produk dari proyek yang dikerjakan siswa, 5) siswa mempresentasikan proyek yang beragam dan guru mengevaluasi proses belajar siswa dan efek belajar dengan pendekatan divergen (Krajcik, Czeniak & Berger, 1999). PjBL menitikberatkan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam aktivitas nyata. Dalam proses tersebut siswa tidak hanya belajar konsep-konsep dasar sains tetapi juga internalisasi konsep (metakognisi) dan lebih lanjut menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu siswa memecahkan masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan kajian teoritis dan empriris, ada empat karakteristik utama PjBL, yaitu isi, kondisi, aktivitas, dan hasil. Deskripsi karakteristik PjBL disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Karakteristik utama pembelajaran berbasis proyek
I. ISI: memuat gagasan yang orisinil
1. Masalah kompleks
2. Siswa menemukan hubungan antar gagasan yang diajukan
3. Siswa berhadapan pada masalah yang ill-defined
4. Pertanyaan cenderung mempersoalkan masalah dunia nyata
II. KONDISI: mengutamakan otonomi siswa
1. Melakukan inquiry dalam konteks masyarakat
2. Siswa mampu mengelola waktu secara efektif dan efesien
3. Siswa belajar penuh dengan kontrol diri
4. Mensimulasikan kerja secara profesional
III. AKTIVITAS: investigasi kelompok kolaboratif
1. Siswa berinvestigasi selama periode tertentu
2. Siswa melakukan pemecahan masalah kompleks
3. Siswa memformulasikan hubungan antar gagasan orisinilnya untuk mengkonstruksi keterampilan baru
4. Siswa menggunakan teknologi otentik dalam memecahkan masalah
5. Siswa melakukan umpan balik mengenai gagasan mereka berdasarkan respon ahli atau dari hasil tes
IV. HASIL: produk nyata
1. Siswa menunjukan produk nyata berdasarkan hasil investigasi mereka
2. Siswa melakukan evaluasi diri
3. Siswa responsif terhadap segala implikasi dari kompetensi yang dimilikinya
4. Siswa mendemonstrasikan kompetensi sosial, manajemen pribadi, regulasi belajarnya.
Tidak semua kegiatan belajar aktif dan melibatkan proyek dapat disebut pembelajaran berbasis proyek. Berangkat dari pertanyaan “apa yang harus dimiliki proyek agar dapat digolongkan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek ?”. Thomas (2000) menetapkan lima kriteria apakah suatu pembelajaran berproyek termasuk sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. Lima kriteria itu adalah keterpusatan (centrality), berfokus pada pertanyaan atau masalah, investigasi konstruktif atau desain, otonomi pebelajar, dan realisme.
1) Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah pusat atau inti kurikulum, bukan pelengkap kurikulum. Di dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, proyek adalah strategi pembelajaran; pebelajar mengalami dan belajar konsep-konsep inti suatu disiplin ilmu melalui proyek. Ada kerja proyek yang mengikuti pembelajaran tradisional dengan cara proyek tersebut memberi ilustrasi, contoh, praktik tambahan, atau aplikasi praktik yang diajarkan sebelumnya dengan maksud lain. Akan tetapi, menurut kriteria di atas, aplikasi proyek tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai Pembelajaran Berbasis Proyek. Kegiatan proyek yang dimaksudkan untuk pengayaan di luar kurikulum juga tidak termasuk Pembelajaran Berbasis Proyek.
2) Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek adalah terfokus pada pertanyaan atau masalah, yang mendorong pebelajar menjalani (dengan kerja keras) konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti atau pokok dari disiplin. Kriteria ini sangat halus dan agak susah diraba. Difinisi proyek (bagi pebelajar) harus dibuat sedemikian rupa agar terjalin hubungan antara aktivitas dan pengetahuan konseptual yang melatarinya yang diharapkan dapat berkembang menjadi lebih luas dan mendalam (Baron, Schwartz, Vye, Moore, Petrosino, Zech, Bransford, & The Cognition and Technology Group at Vanderbilt, 1998). Biasanya dilakukan dengan pengajuan pertanyaan-pertanyaan atau ill-defined problem (Thomas, 2000). Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek mungkin dibangun di sekitar unit tematik, atau gabungan (intersection) topik-topik dari dua atau lebih disiplin, tetapi itu belum sepenuhnya dapat dikatakan sebuah proyek. Pertanyaan-pertanyaan yang mengejar pebelajar, sepadan dengan aktivitas, produk, dan unjuk kerja yang mengisi waktu mereka, harus digubah (orchestrated) dalam tugas yang bertujuan intelektual (Blumenfeld, et al., 1991).
3) Proyek melibatkan pebelajar dalam investigasi konstruktif. Investigasi mungkin berupa proses desain, pengambilan keputusan, penemuan masalah, pemecahan masalah, diskoveri, atau proses pembangunan model. Akan tetapi, agar dapat disebut proyek memenuhi kriteria Pembelajaran Berbasis Proyek, aktivitas inti dari proyek itu harus meliputi transformasi dan konstruksi pengetahuan (dengan pengertian: pemahaman baru, atau keterampilan baru) pada pihak pebelajar (Bereiter & Scardamalia, 1999). Jika pusat atau inti kegiatan proyek tidak menyajikan “tingkat kesulitan” bagi anak, atau dapat dilakukan dengan penerapan informasi atau keterampilan yang siap dipelajari, proyek yang dimaksud adalah tak lebih dari sebuah latihan, dan bukan proyek Pembelajaran Berbasis Proyek yang dimaksud. Membersihkan peralatan laboratorium mungkin sebuah proyek, akan tetapi mungkin bukan proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek.
4) Proyek mendorong pebelajar sampai pada tingkat yang signifikan. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek bukanlah ciptaan guru, tertuliskan dalam naskah, atau terpaketkan. Latihan laboratorium bukanlah contoh Pembelajaran Berbasis Proyek, kecuali jika berfokus pada masalah dan merupakan inti pada kurikulum. Proyek dalam Pembelajaran Berbasis Proyek tidak berakhir pada hasil yang telah ditetapkan sebelumnya atau mengambil jalur (prosedur) yang telah ditetapkan sebelumnya. Proyek Pembelajaran Berbasis Proyek lebih mengutamakan otonomi, pilihan, waktu kerja yang tidak bersifat rigid, dan tanggung jawab pebelajar daripada proyek trandisional dan pembelajaran tradisoonal.
5) Proyek adalah realistik. Karakteristik proyek memberikan keontentikan pada pebelajar. Karakteristik ini boleh jadi meliputi topik, tugas, peranan yang dimainkan pebelajar, konteks dimana kerja proyek dilakukan, kolaborator yang bekerja dengan pebelajar dalam proyek, produk yang dihasilkan, audien bagi produk-produk proyek, atau kriteria di mana produk-produk atau unjuk kerja dinilai. Pembelajaran Berbasis Proyek melibatkan tantangan-tantangan kehidupan nyata, berfokus pada pertanyaan atau masalah otentik (bukan simulatif), dan pemecahannya berpotensi untuk diterapkan di lapangan yang sesungguhnya.
Dalam PjBL, proyek dilakukan secara kolaboratif dan inovatif, unik, yang berfokus pada pemecahan masalah yang berhubungan dengan kehidupan siswa atau kebutuhan masyarakat atau industri lokal. PJBL memiliki potensi yang amat besar untuk membuat pengalaman belajar yang lebih menarik dan bermakna bagi usia dewasa: siswa SMA, siswa, atau pelatihan tradisional untuk membangun keterampilan kerja (Gaer,1998). Dalam PjBL, siswa menjadi terdorong lebih aktif dalam belajar, guru hanya sebagai fasilitator, guru mengevaluasi produk hasil kinerja siswa meliputi outcome yang mampu ditampilkan dari hasil proyek yang dikerjakan.
Karakteristik-karakteristik lain dari PJBL adalah:
• Siswa menjadi pusat atau sebagai obyek yang secara aktif belajar pada proses pembelajaran.
• Proyek-proyek yang direncanakan terfokus pada tujuan pembelajaran yang sudah digariskan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dalam kurikulum
• Proyek dikembangkan oleh Pertanyaan-pertanyaan sebagai kerangka dari kurikulum (curriculum-framing question)
• Proyek melibatkan berbagai jenis dan bentuk assessmen yang dilakukan secara kontinyu (ongoing assessment)
• Proyek berhubungan langsung dengan dunia kehidupan nyata.
• Siswa menunjukkan pengetahuannya melalui produk atau kinerjanya.
• Teknologi mendukung dan meningkatkan proses belajar siswa.
• Keterampilan berpikir terintegrasi dalam proyek.
• Strategi pembelajarn bervariasi karena untuk mendukung oleh berbagai tipe belajar yang dimiliki oleh siswa (multiple learning style).
E. Perbedaan PjBL dan PBL
Project-based learning (PjBL) dan problem-based learning (PBL) memiliki beberapa kesamaan karakteristik. Keduanya adalah strategi pembelajaran yang dimaksudkan untuk melibatkan pebelajar di dalam tugas-tugas otentik dan dunia nyata agar dapat memperluas belajar mereka. Pebelajar diberi tugas proyek atau problem yang open-ended dengan lebih dari satu pendekatan atau jawaban, yang mensimulasikan situasi profesional. Kedua pendekatan ini juga didefinisikan sebagai student-centered, dan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator. Pebelajar dilibatkan dalam project- atau problem- based learning yang secara umum bekerja di dalam kelompok secara kolaboratif, dan didorong mencari berbagai sumber informasi yang berhubungan dengan proyek atau problem yang dikerjakan. Pendekatan ini menekankan pengukuran hasil belajar otentik dan dengan basis unjuk kerja (performance-based assessment). Pembelajaran berbasis proyek adalah suatu strategi yang menghasilkan suatu pengetahuan baru dan interdisipliner melalui disain proyek. Metode berupa pendekatan komprehensif untuk pengajaran yang melibatkan beragam keterampilan (Lambros, 2004)
PjBL dan PBL memiliki akar paradigma yang sama yaitu konstruktivisme, yang melibatkan siswa melakukan tugas-tugas yang menantang untuk mencapai pembelajaran, sehingga kedua model tersebut sering dikombinasikan dan saling melengkapi, akan tetapi kedua model tersebut tidak identik (Camille Esch, 1998 dalam Schneiderman, Borkowski, Alavi, & Norman, 1998)). PjBL lebih berfokus pada suatu model produksi. Siswa memulai dengan mendefinisikan tujuan untuk menciptakan suatu produk akhir, merumuskan topik penelitian, disain produk, mengerjakan proyek, memecahkan masalah yang berakhir pada produk diikuti dengan evaluasi dan refleksi mandiri (self evaluation) (Blumenfeld et al. dalam Schneiderman et al., 1998)). Jadi penekanan PjBL adalah pada produk akhir, tetapi kunci untuk keberhasilan adalah keterampilan yang diperoleh selama produksi tersebut. Sedangkan pembelajaran berbasis masalah (PBL) menggunakan suatu model inkuiri. Siswa memulai pembelajaran dengan suatu masalah, membuat perencanaan untuk mengumpulkan informasi, merumuskan pertanyaan baru dan merangkum hasil penelitiannya melalui presentasi kesimpulan mereka (Schneiderman et al., 1998)). Pada kasus ini inti PBL adalah pemberian masalah dan keberhasilannya pada pemecahan masalah tersebut (Vu, Van der Vleuten, & Lacombe, 1998). Dalam arti luas, PjBL memiliki cakupan katagori masalah yang lebih kompleks daripada PBL (Moursund, 1999).
F. Landasan Teoritik dan Empirik Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran Berbasis Proyek atau Belajar Berbasis Proyek adalah pendekatan pembelajaran yang merangkum sejumlah ide-ide pembelajaran, yang didukung oleh teori-teori dan penelitian substansial. Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan model pembelajaran yang didukung oleh atau berpijak pada teori belajar konstruktivistik. Strategi pembelajaran yang menonjol dalam pembelajaran konstruktivistik antara lain adalah strategi belajar kolaboratif, mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru, mengenai kegiatan laboratorium, pengalaman lapangan, studi kasus, pemecahan masalah, panel diskusi, diskusi, brainstorming, dan simulasi (Ajeyalemi, 1993). Beberapa dari strategi tersebut juga terdapat dalam Pembelajaran Berbasis Proyek, yaitu (a) strategi belajar kolaboratif, (b) mengutamakan aktivitas siswa daripada aktivitas guru, (c) mengenai kegiatan laboratorium, (d) pengalaman lapangan, (e) dan pemecahan masalah. Peranan guru yang utama adalah mengendalikan ide-ide dan interpretasi siswa dalam belajar, dan memberikan alternatif-alternatif melalui aplikasi, bukti-bukti, dan argumen-argumen.
Pembelajaran berbasis proyek (PjBL) berdasarkan pada psikologi kognitif. Fokus pengajaran tidak begitu banyak pada apa yang sedang dilakukan siswa (perilaku mereka) melainkan pada yang apa mereka pikirkan (kognitif mereka) pada saat mereka melakukan kegiatan itu. Pada PjBL guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator sehingga siswa belajar untuk berpikir dan menyelesaikan proyek/tugas yang sudah diberikan guru. Pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dilandaskan oleh beberapa ahli, yaitu:
a. John Dewey dan kelas demokratis
Metode proyek berasal dari gagasan John Dewey tentang konsep “Learning by Doing” yakni proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu sesuai dengan tujuannya, terutama proses penguasaan anak tentang bagaimana melakukan sesuatu tujuan.Pada penelitian John Dewey menggambarkan suatu pandangan tentang pendidikan di mana sekolah seharusnya mencerminkan masyarakat yang lebih besar dan kelas merupakan laboratorium untuk memecahkan masalah kehidupan nyata .Dewey menganjurkan guru untuk mendorong siswa terlibat dalam proyek atau tugas berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki masalah-masalah intelektual dan sosial. Dewey dan Kill Patrick mengemukakan bahwa pembelajaran di sekolah seharusnya lebih memiliki manfaat daripada dilakukan oleh siswa dalam kelompok-kelompok kecil untuk menyelesaikan proyek yang menarik dan pilihan mereka sendiri.
b. Pieget , Vygotsky dan konstruktivisme
Jean Piaget dan Lev Vygotsky adalah tokoh dalam pengembangan konsep konstruktivisme. Piaget mengemukakan bahwa siswa dalam segala usia secara aktif terlibat dalam perolehan informasi dan membangun pengetahuan mereka sendiri. Pengetahuan tidak statis tetapi secara terus menerus tumbuh dan berubah pada saat siswa menghadapi pengalaman baru yang memaksa mereka membangun dan memodifikasi pengetahuan awal mereka. Vygotsky, seperti halnya Piaget percaya bahwa perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang. Dan ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan oleh pengalaman tersebut. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya dan membangun pengertian baru. Namun berbeda dengan Piaget, Vygotsky percaya bahwa interaksi sosial dengan orang lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.
c. Jorome Bruner dan pembelajaran penemuan
Jorome Bruner dan koleganya mengemukakan teori pendukung penting yang kemudian dikenal sebagai pembelajaran penemuan. Pembelajaran penemuan adalah suatu pembelajaran yang menekankan pentingnya membantu siswa memahami struktur atau ide kunci dari suatu disiplin ilmu, perlunya siswa aktif terlibat dalam proses pembelajarannya terjadi melalui penemuan pribadi. Menurut Bruner bahwa menemukan sesuatu oleh murid memakan waktu yang lebih banyak, apa yang dapat diajarkan dalam waktu 30 menit, mungkin memerlukan 4 – 5 jam, yakni merumuskan masalah, merencanakan cara memecahkannya, melakukan percobaan, membuat kesalahan, berpikir untuk mengatasinya, dan akhirnya menemukan penyelesaiannya tak ternilai harganya bagi cara belajar selanjutnya atas kemampuan sendiri. Pembelajaran berbasis proyek juga bergantung pada konsep lain dari Bruner yaitu Scaffolding. Scaffolding merupakan proses di mana seorang siswa dibantu untuk menuntaskan suatu masalah tertentu melampaui tingkat pengetahuannya oleh seorang guru atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih. Sehingga peran dialog sosial dalam pembelajaran juga sangat penting.
Strategi belajar kolaboratif dalam PjBL yang dilandasi oleh teori Vygotsky tentang Zone of Proximal Development (ZPD). Vygotsky merekomendasikan adanya level atau zona, di mana siswa dapat lebih berhasil tetapi dengan bantuan partner yang lebih bisa atau berpengalaman. Vygotsky mendifinisikan ZPD sebagai “jarak antara tingkat perkembangan aktual seperti ditunjukkan oleh kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dengan tingkat perkembangan potensial seperti ditunjukkan oleh kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih mampu. Partner ini tidak mendikte apa yang harus dilakukan sejawat yang belajar padanya, akan tetapi mereka terlibat di dalam tindakan kolaboratif, demonstratif, modeling dan sejenisnya.
Pembelajaran Berbasis Proyek juga didukung oleh teori belajar eksperiensial. Seperti dikatakan William James bahwa belajar yang paling baik adalah melalui aktivitas diri sendiri, pengalaman sensoris adalah dasar untuk belajar, dan belajar yang efektif adalah holistik, dan interdisipliner (dalam Moore, 1999). Prinsip-prinsip ini juga diterapkan dalam Pembelajaran Berbasis Proyek. Pebelajar mengendalikan belajarnya sendiri, mulai dari pengidentifikasian masalah yang akan dijadikan proyek sampai dengan mengevaluasi hasil proyek. Guru/dosen berperan sebagai pembimbing, fasilitator, dan partner belajar. Tema proyek yang dipilih juga bersifat interdisipliner, karena mengandung unsur berbagai disiplin yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah dalam proyek yang dikerjakan itu. Apa yang dilakukan pebelajar dalam proses pembelajaran adalah pengalaman-pengalaman sensoris sebagai basis belajar. Ditegaskan oleh John Dewey bahwa pengalaman adalah elemen kunci dalam proses pembelajaran (Moore, 1999; Knoll, 2002). Dewey memandang belajar sebagai “process of making determinate the indeterminate experience”. Makna dari berbagai pengalaman adalah sebuah hubungan yang saling tergantung antara apa yang dibawa oleh pebelajar dalam situasi belajar dan apa yang terjadi di dalam situasi itu. Berdasarkan pengetahuan yang diturunkan dari pengalaman sebelumnya, pada pengalaman baru orang membangun pengetahuan baru (Billet, 1996). Kerja proyek dapat dipandang sebagai proses belajar memantapkan pengalaman yang belum mantap, memperluas pengetahuan yang belum luas, dan memperhalus pengetahuan yang belum halus, sebagaimana juga dikatakan oleh Marzano (1992) bahwa belajar melalui pengalaman nyata (misalnya, investigasi dan pemecahan masalah-masalah nyata) dapat memperluas dan memperhalus pengetahuan.
G. Sintaks Pembelajaran Berbasis proyek
Pendekatan Project Based Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang memiliki sintaks: (1) Start with the essential question, (2) Design a plan for the project, (3) Creates a schedule, (4) Monitor the students and the progress of the project, (5) Asses the Outcome, (6) Evaluate the Experiences (The George Lucas Educational Foundation (2005).
PjBL dapat diterapkan untuk semua bidang studi, termasuk dalam pembelajaran sains. Implementasi model PjBL mengikuti lima langkah utama, sebagai berikut.
(1) Menetapkan tema proyek. Tema proyek hendaknya memenuhi indikator-indikator berikut: (a) memuat gagasan umum dan orisinil, (b) penting dan menarik, (c) mendeskripsikan masalah kompleks, (d) mencerminkan hubungan berbagai gagasan, (e) mengutamakan pemecahan masalah ill-defined.
(2) Menetapkan konteks belajar. Konteks belajar hendaknya memenuhi indikator- indikator berikut: (a) Pertanyaan-pertanyaan proyek mempersoalkan masalah dunia nyata, (b) mengutamakan otonomi siswa, (c) Melakukan inquiry dalam konteks masyarakat, (d) Siswa mampu mengelola waktu secara efektif dan efesien, (e) Siswa belajar penuh dengan kontrol diri, (f) Mensimulasikan kerja secara profesional
(3) Merencanakan aktivitas-aktivitas. Pengalaman belajar terkait dengan merencanakan proyek adalah sebagai berikut: (a) membaca, (b) meneliti, (c) observasi, (d) interviu, (e) merekam, (f) mengunjungi obyek yang berkaitan dengan proyek, (g) akses internet.
(4) Memprroses aktivitas-aktivitas. Indikator-indikator memproses aktivitas meliputi : (a) membuat sketsa, (b) melukiskan analisa, (c) menghitung , (d) mengeneralisasi, (e) mengembangkan prototipe.
(5) Penerapan aktivitas-aktivitas untuk menyelesaikan proyek. Langkah-langkah yang dilakukan, adalah: (a) mencoba mengerjakan proyek berdasarkan sketsa, (b) menguji langkah-langkah yang telah dikerjakan dan hasil yang diperoleh, (c) mengevaluasi hasil yang telah diperoleh, (d) merevisi hasil yang telah diperoleh, (e) melakukan daur ulang proyek yang lain, (f) mengklasifikasi hasil terbaik.
Pelaksanaan proses pembelajaran berbasis proyek (PjBL) yang efektif memiliki karakteristik berikut:
Mendorong sisiwa untuk menyelidiki ide dan pertanyaan yang penting
Dibingkai dengan suatu proses inkuiri
Dilaksanakan berdasarkan kebutuhan dan minat siswa
Dikendalikan melalui produksi dan presentasi siswa daripada transfer pengetahuan guru pada siswa.
Memerlukan penerapan berpikir kreatif, berpikir kritis dan keterampilan pemrosesan informasi untuk menyelidiki, membuat kesimpulan dan menciptakan konten
Berhubungan dengan dunia nyata dan masalah atau isu autentik.
H. Peran Guru dalam PjBL
Selama berlangsungnya proses belajar dalam PJBL pelajar akan mendapat bimbingan dari guru sebagai fasilitator, beberapa peran tersebut diantaranya secara umum peran guru sebagai fasilitator adalah memantau dan mendorong kelancaran kerja kelompok, serta melakukan evaluasi terhadap efektifitas proses belajar kelompok. Secara lebih rinci peran fasilitator adalah sebagai berikut:
a. Mengatur kelompok dan menciptakan suasana yang nyaman.
b. Memastikan bahwa sebelum mulai setiap kelompok telah memiliki seorang anggota
yang bertugas membaca materi, sementara teman-temannya mendengarkan, dan
seorang anggota yang bertugas mencatat informasi yang penting sepanjang
jalannya diskusi.
d. Memberikan materi atau informasi pada saat yang tepat, sesuai dengan perkembangan
kelompok.
d. Memastikan bahwa setiap sesi diskusi kelompok diakhiri dengan self-evaluation.
e. Menjaga agar kelompok terus memusatkan perhatian pada pencapaian tujuan.
f. Memonitor jalannya diskusi dan membuat catatan tentang berbagai masalah yang muncul dalam proses belajar, serta menjaga agar proses belajar terus berlangsung, agar tidak ada tahpaan dalam proses belajar yang dilewati atau diabaikan dan agar setiap tahapan dilakukan dalam urutan yang tepat.
g. Menjaga motivasi pelajar dengan mempertahankan unsur tantangan dalam penyelesaian tugas dan juga memberikan pengarahan untuk mendorong pelajar keluar dari kesulitannya.
h. Membimbing proses belajar pelajar dengan mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat. Pertanyaan ini hendaknya merupakan pertanyaan terbuka yang mendorong pelajar mencari pemahaman yang lebih mendalam tentang berbagai konsep, ide, penjelasan, sudut pandang, dan lain-lain.
i. Mengevaluasi kegiatan belajar pelajar, termasuk partisipasinya dalam proses kelompok. Pengajar perlu memastikan bahwa setiap pelajar terlibat dalam proses kelompok dan berbagi pemikiran dan pandangan. Guru menilai siswa dengan cara transparan dan berbagai macam penilaian termasuk menilai karya siswa atau portofolio pekerjaan siswa
j. Mengevaluasi penerapan PjBL yang telah dilakukan.
I. Pengembangan Pembelajaran Berbasis Proyek
Pembelajaran berbasis proyek dikembangkan berdasarkan lima pilar utama, yakni: (1) kontekstual, (2) masalah nyata, (3) kolaboratif, (4) produk yang bermakna, dan (5) otonomi pebelajar. Dengan lima pilar utama tersebut, prosedur pembelajaran berbasis proyek meliputi 3 tahapan pokok, sebagai berikut:
1. Perencanaan Proyek
a. Menghadapkan siswa pada masalah riil di lapangan, dan mendorong mereka mengidentifikasi masalah riil tersebut (searching).
b. Meminta siswa menemukan alternatif dan merumuskan strategi pemecahan masalah (solving)
c. Membimbing siswa melakukan perencanaan (designing)
2. Pelaksanaan Proyek Produksi
a. Membimbing siswa menyelesaikan tugas yang telah didesain pada tahap sebelumnya (producing/creating)
b. Membimbing siswa melakukan pengujian produk (evaluating)
c. Membimbing siswa presentasi antar kelompok (sharing)
3. Evaluasi Proyek
Proses dan produk adalah dua aspek penilaian yang populer di dalam pembelajaran berbasis proyek. Kapan pengukuran proses belajar siswa, dosen mungkin menetapkan pada saat siswa sedang mengikuti kegiatan belajar, yang meliputi hal-hal berikut:
a. Kemajuan belajar proyek atau semua kegiatan belajar
b. Proses aktual dari pemecahan masalah kreatif
c. Kemajuan dalam kerja tim, atau individual
d. Buku catatan dan catatan riset/percobaan
e. Kontrak belajar
f. Penggunaan komputer atau teknologi lainnya
g. Refleksi, diskusi dan respon siswa selama proses belajar
Beberapa teknik penilaian dapat digunakan antara lain: anecdotal records, cheklist observasi, performance assesment, portofolio, kontrak, pengukuran kelompok atau individual, pekerjaan rumah dan penilaian diri sendiri atau teman sejawat. Penilaian produk dilakukan, dengan mengobservasi hal-hal berikut:
a. hasil kerja dan presentasi individual atau kolektif
b. tugas-tugas non tulis yang diselesaikan
c. laporan proyek atau kerja tulis lainnya
d. portofolio
e. kontrak belaja
f. hasil-hasil atau presentasi seelumnya
g. jurnal-jurnal
h. refleksi, diskusi dan respon siswa selama proses belajar
Dalam mengembangkan pembelajaran berbasis proyek perlu diperhatikan secara seksama standar kompetensi yang ingin dicapai. Oleh karena itu, beberapa hal yang perlu dikontrol adalah kriteria belajar, jaminan siswa mendapatkan sumber belajar, penilaian hasil belajar dan pemberian umpan balik.
J. Beberapa Keunggulan dan kelemahan Pembelajaran Berbasis Proyek
Moursund, Bielefeldt, & Underwood (1997) meneliti sejumlah artikel tentang proyek di kelas yang dapat dipertimbangkan sebagai bahan testimonial terhadap guru, terutama bagaimana guru menggunakan proyek dan persepsi mereka tentang bagaimana keberhasilannya. Beberapa keunggulan dari pembelajaran Berbasis Proyek adalah sebagai berikut:
1) Meningkatkan motivasi. Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek. Guru juga melaporkan pengembangan dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. Siswa melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih fun daripada komponen kurikulum yang lain.
2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
3) Meningkatkan kecakapan kolaboratif. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi (Johnson & Johnson, 1989). Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek. Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif (Vygotsky, 1978; Davydov, 1995).
4) Meningkatkan keterampilan mengelola sumber. Bagian dari menjadi siswa yang independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
Ketika siswa bekerja di dalam tim, mereka menemukan keterampilan merencanakan, mengorganisasi, negosiasi, dan membuat konsensus tentang isu-isu tugas yang akan dikerjakan, siapa yang bertanggungjawab untuk setiap tugas, dan bagaimana informasi akan dikumpulkan dan disajikan. Keterampilan-keterampilan yang telah diidentifikasi oleh siswa ini merupakan keterampilan yang amat penting untuk keberhasilan hidupnya, dan sebagai tenaga kerja merupakan keterampilan yang amat penting di tempat kerja kelak. Karena hakikat kerja proyek adalah kolaboratif, maka pengembangan keterampilan tersebut berlangsung di antara siswa. Di dalam kerja kelompok suatu proyek, kekuatan individu dan cara belajar yang diacu memperkuat kerja tim sebagai suatu keseluruhan.
Hasil penelitian terhadap praktek guru menggunakan model PjBL, beberapa guru yang berpengalaman dan ahli dalam PjBL menyatakan bahwa keuntungan belajar dengan model PjBL adalah sebagai berikut:
1) Dapat mengatasi dikotomi antara pengetahuan dan berpikir, membantu siswa untuk mengetahui konten (know) sekaligus melakukan sains (do).
2) Mendorong perkembangan kebiasaan berpikir berhubungan dengan belajar berkelanjutan, tanggungjawab dan sukses personal dan karir.
3) Mengintegrasikan area kurikulum, pengajaran tematik dan isu komunitas
4) Asesmen kinerja pada konten dan keterampilan menggunakan kriteria sesuai dengan dunia kerja, sehingga mendorong akuntabilitas tujuan pendidikan dan meningkatkan kinerja.
5) Menciptakan komunikasi posistif dan hubungan kolaboratif diantara kelompok siswa yang beragam
6) Menemukan kebutuhan pebelajar dengan level keterampilan yang beragam dan gaya belajar siswa.
7) Melibatkan dan memotivasi siswa yang malas atau kurang motivasi.
Disamping itu, keuntungan PjBL lainnya adalah untuk mengasah siswa dalam hal-hal berikut: kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kerjasama (Team work), pemahaman lintas budaya (Cross-cultural understanding), keterampilan berkomunikasi, teknologi tepat guna, dan kemandirian belajar (self direction). Selain memiliki keuntungan PjBL juga memiliki beberapa kelemahan , diantaranya adalah:
1. Kebanyakan permasalahan “dunia nyata” yang tidak terpisahkan dengan masalah kedisiplinan, untuk itu disarankan mengajar dengan cara melatih dan memfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah.
2. PjBL memerlukan banyak waktu yang harus disediakan untuk menyelesaikan permasalahan yang kompleks.
3. Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan, karena menambah biaya untuk memasuki sistem baru.
4. Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana instruktur memegang peran utama di kelas. Ini merupakan suatu transisi yang sulit, terutama bagi nstruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
5. menggunakan banyaknya peralatan yang harus disediakan.
Berdasarkan hasil penelitian, dalam pelaksanaan PjBL sering juga ditemukan beberapa kesulitan baik yang dihadapi oleh siswa maupun guru. Beberapa kesulitan yang sering dihadapi siswa dalam PjBL antara lain siswa memiliki kesulitan untuk:
1) Memulai penyelidikan (inkuiri); merumuskan pertanyaan penelitian yang koheren (driving question),
2) Menentukan sebuah proyek penelitian; merancang penelitian yang baik dan metodologi yang sesuai,
3) Melakukan investigasi dan menemukan sumber daya,
4) Mengelola kompleksitas dan waktu; menjaga tenggat waktu, waktu perkiraan yang diperlukan untuk melakukan tugas,
5) Berkolaborasi dan memberikan umpan balik; mengartikulasikan pekerjaan orang lain dan memberikan umpan balik secara teratur (J. van der Veen, B. Collis, & Jones, 2001),
6) Menindak lanjuti proyek; merevisi produk, hal yang memerlukan kemampuan berpikir kritis dan kognitif kesadaran diri (Schneiderman et al, 1998.).
Adapun kesulitan yang dihadapi guru dalam pelaksanaan PjBL adalah sebagai berikut:
• Mendisain PjBL, disain proyek yang mendukung belajar tentang konsep dan keterampilan khusus dan menjaga pendekatan pedagogi yang tepat
• Menindak lanjuti beberapa proyek; memonitor kemajuan proyek siswa, memberikan umpan balik dan mendukung kebutuhan dalam pengelolaan kelas.
• Menggunakan teknologi sbagai piranti kognitif.
• Mendisain asesmen yang tepat untuk PjBL.
K. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan PjBL
Project Based Learning (PJBL) adalah cara untuk mengubah metode belajar mengajar dari tradisional ke modern, dimana pihak instruktur yang aktif (teacher centered), menjadi (student centered). Dalam PJBL, para peserta didik belajar dan bekerja dengan cara kerja ssama untuk memecahkan permasalahan dan akhirnya menyajikan hasil pekerjaan mereka kepada audience untuk dipresentasikan. Memilih topik, objek dan metode yang tepat hendaknya direncanakan dahulu, karena beberapa faktor yang akan mempengaruhi keberhasilan PJBL, diantaranya:
1. Relevansi, PJBL menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan para peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dengan dunia nyata
2. Chalengging, PJBL mendorong para peserta didik untuk memecahkan permasalahan secara kompleks.
3. Motivasi, PJBL dapat ameningkatakan motivasi peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melalkukan pekerjaan penting dan mereka perlu untuk dihargai
4. Interdisciplinary, PJBL memerlukan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan peserta didik untuk menggunakan informasi dengan beberapa disilin ilmu yang dimiliki
5. Authentic, PJBL melibatkan para pserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata
6. Collaborative, PJBL mengadakan kerja/ kolaborasi antara peserta didik dengan peserta didik, peserta didik dengan instruktur, untuk memperluas komunitas, sehingga terjadi saling memberi dan menerima
7. Fun, membuat suasana kelas menenangkan, sehingga peserta didik maupun instruktur menikmatinya
L. Kesimpulan
Berdasarkan kajian teoritis dan empirik pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dapat menjadi alternatif model yang mendukung reformasi pendidikan sains di negara kita. Model pembelajaran berbasis proyek adalah suatu inovasi pembelajaran yang unggul untuk membantu siswa belajar melakukan tugas-tugas otentik dan interdisipliner, mengelola waktu dan dana, menggunakan sumber-sumber yang terbatas secara efektif, dan bekerja dengan orang lain untuk memecahkan masalah dan menghasilkan suatu produk nyata. Hasil studi secara empirik menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis proyek menguntungkan dan memiliki efektivitas tinggi dalam peningkatan kualitas belajar siswa.
Daftar Pustaka
Collins, A., J.S. Brown and S.E. Newman (1989). « Cognitive apprenticeship : Teaching the crafts of reading, writing, and mathematics », in L.B. Resnick (Ed.), Knowing, Learning, and Instruction : Essays in Honor of Robert Glaser, Hillsdale, NJ, Lawrence Erlbaum Associates, p. 453-494.
Global SchoolNet.( 2000). Introduction to Networked Project-Based Learning.
Tersesia : http://www.gsn.org/web/pbl/whatis.htm
Kilpatrick, W. H. (1918). The project method. Teachers College Record,19, 319-335. (HTML])
Knoll, Michael (1997). The Project Method: Its Vocational Education Origin and International Development, Journal of Industrial Teacher Education, 43 (3).
Lambros Ann (2004). Problem based Learning in Middle and High Classrooms. California: Corwin Press
McNeal. A.P & D’Avanzo. C.(1996). Student active science, models of innovationin college science teaching.Saunder college publishing.
Mergendoller, John R. and John W. Thomas, Managing Project Based Learning: Principles from the Field (2003) , The Buck Institute for Education, PDF
Moeslichatoen, Metode Pengajaran di Taman Kanak -Kanak, (Jakarta: Rineka Cipta: 2004)
Morsund, David (2002) Project-based learning: Using Information Technology, 2nd edition, ISTE. ISBN 1-56484-196-0
Purnawan “project based learning”, http://yudipurnawan. wordpress.com/ category/ project-based learning/diakses 13 Mei 2008
The George Lucas Educational Foundation .(2005).Instructional Module Project
Based Learning. Tersedia http://www.edutopia.org/modules/PBL/whatpbl.php
Thomas, J. W., Mergendoller, J.R., & Michaelson, A. (1999). Project-based learning: A handbook for middle and high school teachers. Novato, CA: The Buck Institute for Education.
Markham, Thom et al. (2003), Project Based Learning Handbook, Buck Institute for Education, ISBN 0974034304
Thomas, J. W. (2000). A review of research on project-based learning. PDF - PDF - HTML Summary
Synteta, P.(2002). Project-Based e-Learning: The model and the mehod, the practice and the portal. Unpublished PhD proposal (Accepted oct, 2002), University of Geneva, Geneva, Switzerland.
Synteta, P. (2003). Project-Based e-Learning in higher education: The model and the method, the practice and the portal. Studies in Communication, New Media in Education. pp. 263-269.
www.hobru.files.wordpress.com/2008/08/project-based-learning.pdf - by S Nurohman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar