Home
Reload page

Selasa, 31 Januari 2012

Makalah Life Skil

LIFE SKILL DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI 1. PENDAHULUAN
 1.1. Latar Belakang Tantangan pendidikan nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dari waktu ke waktu meliputi empat hal, yaitu peningkatan: (1) pemerataan kesempatan, (2) kualitas, (3) efisiensi, dan (4) relevansi. Pengenalan pendidikan kecakapan hidup (life skill education) pada semua jenis dan jenjang pendidikan pada dasarnya didorong oleh anggapan bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata kurang erat. Kesenjangan antara keduanya dianggap lebar, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Pendidikan makin terisolasi dari kehidupan nyata sehingga, lulusan pendidikan dari berbagai jenis dan jenjang pendidikan dianggap kurang siap menghadapi kehidupan nyata. Suatu pendidikan dikatakan relevan dengan kehidupan nyata jika pendidikan tersebut sesuai dengan kehidupan nyata. Namun, pertanyaannya adalah kehidupan nyata yang mana? Sementara itu, kehidupan nyata sangat luas dimensi dan ragamnya, misalnya ada kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat, dan kehidupan bangsa. Kalau mengacu pada Garis-garis Besar Haluan Negara tahun 1998 dan Undang-Undang No.2, Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), kehidupan nyata itu menyangkut kehidupan peserta didik, kehidupan keluarga, dan kehidupan pembangunan yang meliputi berbagai sektor dan subsector (pertanian, industri, jasa, dsb.). Kehidupan-kehidupan ini (disebut juga kepentingan) tidak selamanya sejalan satu sama lain, sehingga terjadi apa yang dikenal dengan perbedaan kepentingan antara berbagai kehidupan nyata terhadap pendidikan. Idealnya, pendidikan harus relevan dengan berbagai kehidupan nyata itu. Namun, pada akhirnya perlu diambil keputusan mengenai manakah diantara kehidupan yang akan menjadi prioritas pada suatu kurun waktu tertentu. Dalam kerangka empat strategi dasar kebijakan pendidikan, pendidikan kecakapan hidup menyangkut salah satu strategi, yaitu meningkatkan relevansi pendidikan dengan kehidupan nyata. Pendidikan formal di sekolah diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas daya pikir, daya kalbu dan daya fisik peserta didik sehingga yang bersangkutan memiliki lebih banyak pilihan dalam kehidupan, baik pilihan kesempatan untuk melanjutkan pndidikan yang lebih tinggi, pilihan kesempatan untuk bekerja maupun pilihan untuk mengembangkan dirinya. Untuk mencapai tujuan tersebut, guru memberikan bekal dasar kemampuan kesanggupan dan ketrampilan kepada siswa agar mereka siap menghadapi berbagai kehidupan nyata. Telah banyak upaya yang dilakukan dalam memberikan bekal dasar kecakapan hidup, baik melalui pendidikan di keluarga, di sekolah, maupun di masyarakat. Upaya-upaya tersebut bukan tidak berhasil sama sekali dalam meningkatkan kemampuan, kesanggupan dan keterampilan hidup lulusannya, akan tetapi kehidupan nyata yang memiliki ciri “berubah” telah menuntut guru melakukan penyesuaian-penyesuaian untuk menghasilkan lulusannya yang mampu, sanggup, dan terampil untuk menghadapi tantangan hidup yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus. Mampu dalam arti lulusan memiliki kualifikasi yang dibutuhkan bagi

Makalah Konstruktivisme

KONSTRUKTIVISME DAN APLIKASINYA DALAM PELAJARAN BIOLOGI
 D I S U S U N
 OLEH: 
Suci Siti Lathifah (1007149) 
Vasista (1007317) 
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2011  
BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan bagi perkembangan dan pembangunan bangsa dan negara. Kemajuan suatu bangsa bergantung pada bagaimana bangsa tersebut mengenali, menghargai dan memanfaatkan sumber daya manusia dalam hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakat terutama kepada peserta didik. Pendidikan merupakan salah satu sektor penting penentu keberhasilan pembangunan nasional, baik dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan dalam mewujudkan cita-cita pembangunan nasional sebagaimana yang tercantum dalam UU Sisdiknas Bab II pasal 3 yang berbunyi: Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan sistem pendidikan nasional juga berfungsi memberikan arah pada semua kegiatan pendidikan dalam satu-satuan pendidikan yang ada. Tujuan pendidikan nasional tersebut, merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikan nasional tersebut, merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh semua satuan pendidikannya, meskipun setiap satuan pendidikan tersebut mempunyai tujuan sendiri-sendiri, namun semua itu tidak terlepas dari tujuan pendidikan nasional yang ada. Pendidikan biologi merupakan bagian dari pendidikan sains dan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah yang diharapkan dapat mencapai tujuan pendidikan nasional yang ada. Biologi merupakan wahana untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, keterampilan sikap serta bertanggung jawab kepada lingkungan. Biologi berkaitan dengan cara mencari tahu dan memahami alam dan makhluk hidup secara sistematis sehingga pembelajaran biologi bukan hanya penguasaan kumpulan-kumpulan fakta tetapi juga proses penemuan. Selain itu Biologi merupakan salah satu pendidikan dan langkah awal bagi seorang anak mengenal dan memahami konsep-konsep tentang alam untuk membangun keahlian dan kemampuan berpikirnya agar dapat berperan aktif menerapkan ilmunya dalam dunia teknologi. Untuk merealisasikan hal tersebut maka harus terjadi peningkatan mutu pendidikan dalam pembelajaran biologi dan sains. Namun pada kenyataan yang ada dalam pendidikan sains atau biologi belum adanya peningkatan mutu pendidikan.

Makalah Learning Cycle

I. Pendahuluan 

 Menjelang akhir abad 21, Indonesia telah mendapat kemajuan cukup besar dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang pendidikan. Partisipasi pendidikan untuk SD telah naik menjadi 100%, untuk SLTP dari 14,7% menjadi 47,7%, SLTA dari 8,6% ,menjadi 33,81%, dan perguruan tinggi daari 1,6% menjadi 11,06%. Walaupun mengalami peningkatan partisipasi, namun masih banyak tantangan dalam pendidikan di Indonesia (Arif,A, 2010). Pembelajaran MIPA merupakan masalah besar yang dihadapi bukan hanya di daerah tetapi juga di perkotaan. Banyak lembaga pendidikan mengatakan bahwa anak-anak sulit belajar MIPA karena memang tidak berbakat. Namun yang kami temukan ternyata berbeda. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa faktor kesulitan siswa belajar MIPA adalah metode pembelajaran yang tepat dan kualitas guru MIPA (Surya, 2010). Salah satu sikap yang perlu dikembangkan adalah sikap kreativitas. Selain itu juga perubahan paradigma dalam pendidikan IPA dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa; dari transfer pengetahuan menjadi mengkonstruk pengetahuan; dari belajar individual klasikal menjadi belajar kelompok kooperatif; dari pembelajaran hanya dalam kelas menjadi pembelajaran berbasis ICT (Uno, 2010) Dewasa ini telah dilakukan berbagai upaya perbaikan dan peningkatan mutu pembelajaran

Makalah CTL

BAB I PENDAHULUAN 
 Sesuai dengan filsafat yang mendasarinya bahwa pengetahuan terbentuk karena peran aktif subjek, maka dipandang dari sudut psikologis, Contextual Teaching and Learning (CTL) berpijak pada aliran psikologis kognitif. Menurut aliran ini proses belajar terjadi karena pemahaman individu akan lingkungan. Belajar bukanlah peristiwa mekanis seperti keterkaitan stimulus dan respons. Belajar tidak sesederhana itu. Belajar melibatkan proses mental yang tidak tampak seperti emosi, minat, motivasi, dan kemampuan atau pengalaman. Apa yang tampak pada dasarnya adalah wujud dari adanya dorongan yang berkembang dalam diri seseorang. Sebagai peristiwa mental perilaku manusia tidak semata-mata merupakan gerakan fisik saja, akan tetapi yang lebih penting adalah adanya factor pendorong yang ada di belakang gerakan fisik itu. Mengapa demikian? Sebab manusia selamanya memiliki kebutuhan yang melekat pada dirinya. Kebutuhan itulah yang mendorong manusia untuk berperilaku. Dari asumsi dan latar belakang yang mendasarinya, maka terdapat beberapa hal yang harus anda pahami tentang belajar dalam konteks CTL. a. Belajar bukanlah

Integreted Aproach

REVISI MAKALAH INTERGATED APPROACH 

Diajukan sebagai salah satu tugas mata kuliah Pengajaran Biologi Sekolah Lanjut yang diberikan oleh Prof.DR.Hj. Sri Redjeki, M.Pd dan DR. Taufik Rahman, M.Pd

 Oleh : HIKMAWATI HANURANI (0907668)
JENTA PUSPARIKI (1004661) 
NURMALIAHAYATI (1004693) 

PROGRAM MAGISTER PENDIDIKAN BIOLOGI SL SEKOLAH PASCA SARJANA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2011


 BAB I PENDAHULUAN 
 Tidak dapat dipungkiri bahwa yang turut menentukan sikap, mental, perilaku, kepribadian dan kecerdasan anak adalah pendidikan, pengalaman dan latihan-latihan yang diberikan dan dialami serta dilalui mereka sejak kecil. Suatu kegiatan pembelajaran akan sangat bermakna bagi peserta didik, apabila kegiatan pembelajaran tersebut mengutamakan interaksi dan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didiknya, artinya kegiatan pembelajaran yang dilakukan merupakan tempat bagi peserta didik dalam mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, sehingga tujuan pendidikan yang ingin dicapai dapat terlaksana. Ada kecenderungan selama ini guru mengemas pengalaman belajar siswa terkotak-kotak dengan tegas antara satu bidang study dengan bidang studi yang lainnya, pembelajaran yang memisahkan penyajian mata pelajaran secara tegas akan membuat kesulitan belajar bagi siswa. Di sekolah dasar khususnya di kelas-kelas rendah para siswa lebih menghayati pengalaman belajarnya secara totalitas. Banyaknya permasalahan yang timbul saat ini dalam kehidupan mengakibatkan banyak materi baru yang diusulkan untuk dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, misalnya masalah kerusakan lingkungan hidup, ilmu kelautan, narkoba, masalah HIV/AIDS, flu burung, pendidikan moral dan budi pekerti, keimanan dan ketakwaan, reproduksi sehat, pendidikan seks, dan lain-lain. Untuk memasukkan hal-hal tersebut menjadi mata

Cooperative Tipe TGT

A. PENDAHULUAN
 Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualistis telah mendominasi pendidikan di Amerika serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi dan mendapat tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Dalam belajar kompetitif dan individualistis guru menempatkan siswa pada tempat duduk yang terpisah dari siswa lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, saya ingin agar kamu bekerja sendiri”, dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualistis (Johnson &Johnson, 1994). Proses belajar seperti itu pun bahkan sebagian besar masih digunakan dan terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini. Belajar kompetitif dan individualistis akan efektif jika disusun dengan baik, juga dapat menjadi salah satu cara alternatif memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualistis, yaitu (a) Kompetisi siswa kadang tidak sehat, sebagai contoh jika seseorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain berharap agar

Cooperative Tipe PJBL

PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PjBL)
 A. Pendahuluan  
Dewasa ini kemajuan sains dan teknologi telah membawa perubahan mendasar pada pola pikir dan perilaku masyarakat. Proses globalisasi yang terjadi dalam segala bidang kehidupan menuntut kesiapan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas untuk dapat memecahkan persoalan hidup yang makin kompleks. Persaingan global dalam bidang sosio-ekonomi juga berdampak pada pergeseran paradigma pendidikan. Salah satu perubahan paradigma pendidikan yang sangat penting adalah semula pembelajaran berpusat pada guru (teacher-centered) beralih pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered). Dengan pergeseran paradigma tersebut prinsip pembelajaran bukanlah semata-mata transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, akan tetapi siswa sendiri mesti membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui serangkaian pengalaman belajar dan aktivitas ilmiah dalam konteks dunia nyata. Pendidikan IPA atau sains memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan literasi ilmiah (scientific literacy) agar masyarakat mampu menguasai dan menerapkan konsep-konsep sains dalam segala bidang kehidupan (De

Cooperative Tipe Jigsaw

BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Di dalam interaksi belajar mengajar, guru memegang kendali utama untuk keberhasilan tercapainya tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, sedangkan guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup. Dalam proses pembelajaran di kelas, pada umumnya pembelajaran itu berpusat pada guru. Hal ini menyebabkan suasana belajar di kelas menjadi membosankan dan monoton. Sebaiknya guru memiliki variasi

Cooperative Tipe GI

GROUP INVESTIGATION 
 TEORI DAN PRAKTEK DALAM PEMBELAJARAN IPA 
A. Pendahuluan 
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak terjadi perubahan dalam dunia pendidikan yang salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pendidikan pada saat ini dihadapkan pada tuntutan dan tujuan yang semakin canggih, semakin kompleks, baik ragam maupun kualitasnya. Dengan demikian sistem pendidikan di masa depan perlu dikembangkan agar dapat menjadi lebih responsif terhadap tuntutan masyarakat dan tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar (Depdiknas, 2006 : 451). Biologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah biologi di alam sekitar melalui keterampilan proses seperti halnya hakikat pembelajaran IPA sehingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori dan sikap ilmiah di pihak siswa yang dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan. Dalam kegiatan pendidikan selama ini, siswa hanya tahu banyak fakta tetapi kurang mampu memanfaatkannya secara efektif. Seperti halnya dalam pembelajaran biologi yang selama ini lebih banyak menghapalkan fakta, prinsip dan teori saja. Sementara itu, tuntutan pemerintah, masyarakat dan lingkungan sekitar begitu besar atas terbentuknya pribadi siswa yang memiliki jiwa pemimpin, manajer, inovator, operator yang efektif dan yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Dalam

Cooperatif Tipe STAD

COOPERATIVE LEARNING STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) 
A. Pembelajaran Kooperatif Salah satu prinsip penting dari psikologi pendidikan menyatakan bahwa peran guru tidak semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam pikirannya. Hal ini sesuai dengan hakekat konstruktivis yang disampaikan oleh Piaget dan Vigotsky. Hakekat dari teori konstruktivis adalah bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Guru dapat memberikan tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut (Nur, 2004). Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis salah satunya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut Muslimin dkk (2000), pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan kerjasama antarsiswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan menemukan dan memahami konsep yang sulit apabila mereka saling berinteraksi dan berdiskusi dengan temannya. Hakikat belajar sosial dan belajar teman sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Siswa dihadapkan pada proses berpikir teman sejawat. Metode belajar teman sejawat menjadikan hasil belajar terbuka untuk seluruh siswa, dan menjadikan proses berpikir siswa lain terbuka untuk seluruh siswa. Pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu membuat mereka belajar sama baiknya (Slavin, 2008). Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dengan cara siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri 3 sampai 5 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, dilihat dari kemampuan, jenis kelamin, suku/ras dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan belajar (Trianto, 2007). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi