Home
Reload page

Selasa, 31 Januari 2012

Cooperative Tipe TGT

A. PENDAHULUAN
 Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualistis telah mendominasi pendidikan di Amerika serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi dan mendapat tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Dalam belajar kompetitif dan individualistis guru menempatkan siswa pada tempat duduk yang terpisah dari siswa lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, saya ingin agar kamu bekerja sendiri”, dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualistis (Johnson &Johnson, 1994). Proses belajar seperti itu pun bahkan sebagian besar masih digunakan dan terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini. Belajar kompetitif dan individualistis akan efektif jika disusun dengan baik, juga dapat menjadi salah satu cara alternatif memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualistis, yaitu (a) Kompetisi siswa kadang tidak sehat, sebagai contoh jika seseorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain berharap agar

Cooperative Tipe PJBL

PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PjBL)
 A. Pendahuluan  
Dewasa ini kemajuan sains dan teknologi telah membawa perubahan mendasar pada pola pikir dan perilaku masyarakat. Proses globalisasi yang terjadi dalam segala bidang kehidupan menuntut kesiapan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas untuk dapat memecahkan persoalan hidup yang makin kompleks. Persaingan global dalam bidang sosio-ekonomi juga berdampak pada pergeseran paradigma pendidikan. Salah satu perubahan paradigma pendidikan yang sangat penting adalah semula pembelajaran berpusat pada guru (teacher-centered) beralih pada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered). Dengan pergeseran paradigma tersebut prinsip pembelajaran bukanlah semata-mata transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, akan tetapi siswa sendiri mesti membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri melalui serangkaian pengalaman belajar dan aktivitas ilmiah dalam konteks dunia nyata. Pendidikan IPA atau sains memiliki peranan yang sangat penting dalam pengembangan literasi ilmiah (scientific literacy) agar masyarakat mampu menguasai dan menerapkan konsep-konsep sains dalam segala bidang kehidupan (De

Cooperative Tipe Jigsaw

BAB I PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masalah
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Dalam pembelajaran, guru harus memahami hakikat materi pelajaran yang diajarkannya dan memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan siswa untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh guru. Di dalam interaksi belajar mengajar, guru memegang kendali utama untuk keberhasilan tercapainya tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) menuntut adanya partisipasi aktif dari seluruh siswa. Jadi, kegiatan belajar berpusat pada siswa, sedangkan guru sebagai motivator dan fasilitator di dalamnya agar suasana kelas lebih hidup. Dalam proses pembelajaran di kelas, pada umumnya pembelajaran itu berpusat pada guru. Hal ini menyebabkan suasana belajar di kelas menjadi membosankan dan monoton. Sebaiknya guru memiliki variasi

Cooperative Tipe GI

GROUP INVESTIGATION 
 TEORI DAN PRAKTEK DALAM PEMBELAJARAN IPA 
A. Pendahuluan 
Seiring dengan perkembangan zaman, banyak terjadi perubahan dalam dunia pendidikan yang salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar di sekolah. Pendidikan pada saat ini dihadapkan pada tuntutan dan tujuan yang semakin canggih, semakin kompleks, baik ragam maupun kualitasnya. Dengan demikian sistem pendidikan di masa depan perlu dikembangkan agar dapat menjadi lebih responsif terhadap tuntutan masyarakat dan tantangan yang akan dihadapi di masa mendatang. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang dirinya sendiri dan alam sekitar (Depdiknas, 2006 : 451). Biologi sebagai salah satu cabang ilmu pengetahuan alam memfokuskan pembahasan pada masalah-masalah biologi di alam sekitar melalui keterampilan proses seperti halnya hakikat pembelajaran IPA sehingga siswa menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori dan sikap ilmiah di pihak siswa yang dapat berpengaruh positif terhadap kualitas maupun produk pendidikan. Dalam kegiatan pendidikan selama ini, siswa hanya tahu banyak fakta tetapi kurang mampu memanfaatkannya secara efektif. Seperti halnya dalam pembelajaran biologi yang selama ini lebih banyak menghapalkan fakta, prinsip dan teori saja. Sementara itu, tuntutan pemerintah, masyarakat dan lingkungan sekitar begitu besar atas terbentuknya pribadi siswa yang memiliki jiwa pemimpin, manajer, inovator, operator yang efektif dan yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Dalam

Cooperatif Tipe STAD

COOPERATIVE LEARNING STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) 
A. Pembelajaran Kooperatif Salah satu prinsip penting dari psikologi pendidikan menyatakan bahwa peran guru tidak semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa harus membangun sendiri pengetahuan dalam pikirannya. Hal ini sesuai dengan hakekat konstruktivis yang disampaikan oleh Piaget dan Vigotsky. Hakekat dari teori konstruktivis adalah bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Guru dapat memberikan tangga yang dapat membantu siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, namun harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut (Nur, 2004). Pembelajaran yang bernaung dalam teori konstruktivis salah satunya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Menurut Muslimin dkk (2000), pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan kerjasama antarsiswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan menemukan dan memahami konsep yang sulit apabila mereka saling berinteraksi dan berdiskusi dengan temannya. Hakikat belajar sosial dan belajar teman sejawat menjadi aspek utama dalam pembelajaran kooperatif. Siswa dihadapkan pada proses berpikir teman sejawat. Metode belajar teman sejawat menjadikan hasil belajar terbuka untuk seluruh siswa, dan menjadikan proses berpikir siswa lain terbuka untuk seluruh siswa. Pembelajaran kooperatif menyumbangkan ide bahwa siswa yang bekerja sama dalam belajar dan bertanggung jawab terhadap teman satu timnya mampu membuat mereka belajar sama baiknya (Slavin, 2008). Pembelajaran kooperatif dilaksanakan dengan cara siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri 3 sampai 5 orang siswa yang sederajat tetapi heterogen, dilihat dari kemampuan, jenis kelamin, suku/ras dan satu sama lain saling membantu. Tujuan dibentuknya kelompok adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan belajar (Trianto, 2007). Pembelajaran kooperatif disusun dalam sebuah usaha untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi