A. PENDAHULUAN
Sekitar tahun 1960-an, belajar kompetitif dan individualistis telah mendominasi pendidikan di Amerika serikat. Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi dan mendapat tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. Dalam belajar kompetitif dan individualistis guru menempatkan siswa pada tempat duduk yang terpisah dari siswa lain. Kata-kata “dilarang mencontoh”, “geser tempat dudukmu”, saya ingin agar kamu bekerja sendiri”, dan “jangan perhatikan orang lain, perhatikan dirimu sendiri” sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualistis (Johnson &Johnson, 1994). Proses belajar seperti itu pun bahkan sebagian besar masih digunakan dan terjadi dalam pendidikan di Indonesia sekarang ini.
Belajar kompetitif dan individualistis akan efektif jika disusun dengan baik, juga dapat menjadi salah satu cara alternatif memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik. Meskipun demikian, terdapat beberapa kelemahan pada belajar kompetitif dan individualistis, yaitu (a) Kompetisi siswa kadang tidak sehat, sebagai contoh jika seseorang siswa menjawab pertanyaan guru, siswa yang lain berharap agar